Minggu, 30 Maret 2008

Lawa

Catatan Pembuka oleh Penulis

Ketika menyelesaikan babak akhir cerita dalam novel ini, saya meregangkan tangan, mengendurkan saraf yang sedari tegang. Lalu, saya melirik ke sebatang gading kuning melengkung yang sedang bergelung di balik selimut biru terung.

”Selesai juga, sayang... Alhamdulillah,”

Seseorang dalam selimut itu terbangun. Matanya masih sembab karena kantuk masih mengebat. Perempuan yang sudah menjalani hidup bersama saya hampir tujuh tahun perjalanan pernikahan itu, menghadiahkan setandan senyum. Desi Rahayu, perempuan yang sangat sederhana. Dialah sumber inspirasi, muasal kekuatan, episentrum gairah, dan setangkup rindu yang selalu mengharu-biru. Atas pengertiannya untuk membiarkan saya berlama-lama dalam beku malam di depan komputer, harganya tentu tidak sebanding dengan apapun yang dijadikan pembanding. Terima kasih sayang...

Pembaca, senyum si penghuni selimut adalah senyum saya juga. Sebuah senyum kemenangan yang selama ini hanya bagian dari angan-angan. Sejak dulu, ketika saya masih duduk di bangku kuliah, beberapa draf novel sudah ditulis. Namun yang sampai ke ujung cerita baru novel ini. Yang lainnya, masih setia menjadi penunggu laci meja, atau malah hilang entah kemana.

Pembaca, menulis novel mungkin mudah bagi sebagian orang. Tapi bagi saya, ini adalah bagian kecil mukjizat Tuhan yang ditunjukkannya kepada saya. Saya yakin, tanpa kudrat dan iradat-Nya, sebuah kemustahilan novel ini akan selesai.

Novel ini ditulis dengan latar belakang kehidupan masyarakat Kampar di masa lalu; yaitu masa peralihan penjajah dari Belanda kepada Jepang dan kembali kepada Belanda. Irama perang dan perlawanan tentu saja cukup terasa di sini. Namun, perang hanyalah bagian dari latar belakang untuk membungkus isu utamanya; cerita cinta sepasang anak manusia dengan segenap suka-dukanya. Tentang esensi cinta, pengorbanan tanpa hitungan, dan ketajaman siasat.

Menulis dengan latar belakang masa lalu tentu saja seperti si buta meraba setumpuk barang bagi saya. Namun menulis dengan latar belakang budaya masyarakat Kampar ternyata sangat mempermudah pekerjaan saya. Karena sebagian besar adat istiadat dan norma sosial itu adalah bagian kehidupan saya. Sepanjang Poro, Kampar, Air Tiris, Bangkinang, Salo, Rantau, sampai ke Batu Bersurat dan Mahat, telah dirangkai oleh dalam dan kelamnya air Sungai Kampar. Di sanalah kehidupan di masa kecil hingga remaja saya lalui. Mandi, berenang, menyelam, mencuci, bahkan meminum air Sungai Kampar adalah bagian masa lalu yang akan selalu saya rindu.

Sehamparan luas terima kasih saya sampaikan kepada orang-orang yang saya kasihi, orang-orang yang telah berjasa banyak untuk terbitnya novel ini. Ucapan terima kasih serta doa takzim terutama saya sampaikan buat almarhum nenek tercinta. Beliau yang telah mengisahkan cerita tentang Siti Jailawa lebih dari 300 kali menjelang saya berangkat tidur. Terima kasih juga buat ayah dan amak, H Anwar dan Hj Nurima. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, mereka telah membentuk jati diri seorang Saidul Tombang. Tak terlupa buat Anga Syaiful Anwar bersama keluarga, Sahrul Tombang bersama keluarga, Mursyida bersama keluarga, Mawardi Tombang, Suardi Tombang, M Abdi Tombang, dan juga adik-adik yang lain seperti Ilmen, Sandi, Rizon, Nengsih, Deni sekeluarga, dan juga mertua saya yang telah merelakan anaknya kepada saya sejak lama.

Ucapan terima kasih tak terhingga juga saya sampaikan buat Bapak Syaifuddin Abdullah, pegawai PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) atas segala kritik-sarannya. Terima kasih juga kepada Bapak Mardjan Ustha, Kak Dinawati, rekan-rekan di Dewan Kesenian Riau, juga banyak membantu saya.

Spesial terima kasih saya sampaikan kepada para pembaca novel ini sebelum diterbitkan secara utuh. Ada Pak Rida K Liamsi, Hasan Junus, Hary B Koriun, Marhalim Zaini, Murparsaulian, dan juga mahasiswa-mahasiswi penghuni Kost Riva di Panam. Begitu juga kepada Bang Kazzaini Ks yang sudah membaca novel ini, memberikan sumbang saran serta bersedia memberi ulasan di bagian akhir novel ini. Terima kasih juga saya sampaikan kepada Furqon LW yang telah membuat cover novel ini sehingga dapat tampil lebih menarik, serta Supri Ismadi yang telah membuat tata letak isi sehingga mudah dimengerti.

Yang tidak tertinggal pula adalah rekan-rekan di Riau Pos, seniman, aktivis pers kampus, dan pihak-pihak lain yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu per satu. Hanya Allah SWT yang bisa membalas kebaikan Anda semua. Semoga menjadi amal baik dan mendapat ganjaran yang setimpal. Amin...

Pekanbaru, Februari 2008

Saidul Tombang



Prolog

Penghujung malam, pukul 03.10 WIB.

Seorang perempuan tua tidur meringkuk, bertekuk lutut dalam selimut, tak kuat lagi menahan kantuk. Di sisi kirinya, seorang lelaki sudah beristri perlahan namun pasti menjemput mimpi karena sudah letih menanti sejak pagi. Di sisi kanan perempuan itu ada lagi seorang lelaki yang berencana punya istri, setahun lagi, juga mulai terlelap karena sejak lama hatinya dirubung gelap. Ada enam lelaki di sana berjejer, bersisian, mengapit perempuan tua yang meringkuk, bertekuk lutut dalam selimut, tak kuat lagi menahan kantuk. Ada juga seorang perempuan remaja yang baru saja mulai kuliah yang tertidur dengan mimpi entah apa. Enam lelaki itu plus satu perempuan muda adalah cucu perempuan tua di ambang senja itu. Malam ini menjadi malam ke sekian bagi mereka untuk sebuah reuni panjang sambil menjaga nenek mereka yang sudah didera rasa sakit sejak lama.

Tujuh bersaudara itu baru saja mendengar cerita tentang Siti Jailawa, sebuah kisah cinta masa lalu seorang perempuan yang coba ditipu oleh Tuannya. Cerita tentang kesabaran, perlawanan, kasih-sayang dan juga siasat berumah tangga. Cerita yang sudah dikisahkan perempuan tua yang tidur meringkuk, bertekuk lutut dalam selimut, beratus-ratus kali sebagai penjemput mimpi cucu-cucunya yang lebih memilih tidur di sampingnya dari pada berbaring di samping ayah-bunda mereka.

Sampai suatu ketika, suasana hening dan bening berubah menjadi bising. Lelaki beristri yang tidur di samping kirinya terbangun. Dia memang paling alim. Pada jam-jam seperti ini dia akan terbangun untuk melaksanakan shalat tahajud, bermunajat pada kerendahan hati Tuhan untuk memberi kekuatan kepada perempuan tua itu agar mampu melawan sakit yang menderanya sejak bertahun-tahun. Namun, seketika langkahnya terhenti. Matanya tertumbuk ke perempuan tua yang tidur meringkuk, bertekuk lutut dalam selimut. Tak biasanya perempuan Tua itu tidur dalam lelap seperti ini. Tenang, seperti tidur bayi yang kenyang setelah menyusu kepada bunda.

Lalu, tangannya meraih pundak perempuan yang telah mengisahinya dengan beribu cerita dongeng menjelang tidur itu. Seketika, dia terpegun. Kerongkongannya tercekat. Dadanya seakan disebat.

Perempuan tua itu tidak terbangun sama sekali setelah beberapa kali tubuhnya dipegang dan digoyang-goyang. Kakinya sudah dingin melebihi dinginnya malam. Badannya sudah mulai jegang walaupun masih sedikit panas saat dipegang.

Innaalillahi wainnaa ilaihi rajiuun...

Kalimat itu bukan hanya mengantar ruh perempuan tua itu menuju istana Tuhan di langit, tapi juga telah membangunkan orang seisi rumah dalam selengking jerit. Seketika semua mata terbuka. Barisan orang-orang tidur kini bubar untuk kemudian berebut merubung perempuan tua yang meringkuk, bertekuk lutut dalam selimut yang baru saja dijemput maut.

Malam dingin itupun berubah menjadi panggung drama penuh cerita rana. Semua orang terkebat dalam cerita duka dengan sepasang telaga yang mengalirkan air mata. Ayah-bunda mereka yang tertidur di kamar sebelah, beberapa detik kemudian datang pula dengan kantuk yang hilang sudah.

Dari masjid yang tak jauh dari samping rumah, suara orang mengaji terdengar membelah malam, membuka tingkap-tingkap rumah, dan selimut malam yang memberi gairah. Baru setengah mengaji, dia mendapat perintah untuk mengumumkan berita duka; pencerita Siti Jailawa sudah meninggal dunia.

***

Di depan keranda, semua orang mengalirkan air mata. Mereka memberi penghormatan terakhir kepada perempuan pencerita Siti Jailawa sambil berdoa semoga dia sudah mengetuk pintu surga. Dia adalah perempuan yang melewati banyak zaman dan segala usia. Sebagai orang yang paling tua dan dituakan, perempuan yang kini jadi almarhumah itu memang menjadi pusat perhatian selama ini sekaligus tempat bertanya tentang banyak hal.

Cucunya yang berencana menikah setahun lagi yang hatinya sejak lama dirubung kelam, menjadi pemimpin prosesi menjelang pemberangkatan ke pemakaman. Tak banyak yang dia sampaikan kepada khalayak yang membezuk si pencerita kisah Siti Jailawa. Setelah menyampaikan permohonan keridhaan atas kesalahan almarhumah dan meminta agar masalah utang-piutang diurus kepada ahli waris, dia pun membaca shalawat tiga kali.

Keranda yang disediakan takmir masjid pun diangkat siap diusung. Seperti ritual yang berlaku di daerah itu, anak, cucu, dan keluarga lainnya diperbolehkan menyuruk tiga kali di bawah keranda jenazah sebagai bentuk penghormatan terakhir. Ini juga bisa menjadi obat bagi yang ditinggalkan almarhumah tidak terbawa dalam emosi sumpah-seranah dan ratap yang tak sudah.

Ketika langkah pertama diayunkan menuju kedalaman liang lahat, harum merebak, orang-orang dilanda sebak. Menjelang ke peristirahatannya yang terakhir, perempuan tua itu masih mampu memberi kesturi kepada orang-orang yang ditinggalkannya.

Kemudian, lelaki yang berencana punya istri setahun lagi itu, memejamkan mata sambil memanjatkan doa. Dia tampak mulai tabah dan menerima kenyataan ini. Bukankah semua episode cerita manusia akan berakhir dengan seperti ini?

Perlahan namun pasti, sebuah suara halus bersipongang menusuk gendang telinganya. Sebuah nyanyian dalam sekuel Siti Jailawa mengatur irama langkahnya.

Hei gadi si jailawa, den nak mudiok ka Muaromahat, kok ampangan ala tapampang, kok andelang ala tapompan...

Ya, dia sekarang memang sudah mudiok, sudah pulang ke tempatnya berasal.

***



Jailawa

Pernahkah engkau merasa sangat kehilangan? Ya, sangat kehilangan. Mungkin seseorang, atau apa saja. Seperti saat kau terjaga, dan ternyata orang yang kau kasih sudah tidak lagi mendekapmu. Ketika teguk manis madu masih jadi harap pinta, tiba-tiba tetesnya dihalang menyiram pangkal tekakmu. Ketika masa kecilmu sedang lucu-lucunya, tiba-tiba harus jadi lembar muram karena ayah-bundamu pergi dan meninggalkan luka.

Ya, kehilangan yang menjadi ruang hampa, ruang rana. Ruang yang membuatmu tidak bisa berbuat apa-apa. Kehilangan yang menjadi elegi tak tertuliskan dengan kata-kata. Tak cukup sumpah-seranah, tak bisa diobati dengan sekadar menumpahkan air mata. Suatu kehilangan yang saat kita masih memerlukan sesuatu namun sesuatu itu sudah tiada lagi bersama kita.

Soal kehilangan, jangan tanyakan itu padaku. Karena, tujuh musim yang kulalui adalah perlawanan, perjuangan, dan siasat yang kugunakan untuk menghindarinya. Tujuh musim pula kehilangan itu berhasil kucampakkan ke rimba terasing, ke negeri tidak bertabuh.

Jauhlah.

Menjauhlah.

Dan dia memang jauh, namun tak semakin jauh. Perjalanan musim telah menjadi saksi betapa perlahan namun pasti kehilangan itu menghampiri. Ketika tahun pertama rasa hilang itu baru benih yang belum mencading, namun di tahun ke tujuh kehilangan itu adalah pohon dunia; akarnya menghunjam ke ceruk lapis bumi ke tujuh, sedangkan pucuk dan rantingnya telah mencekau ke langit-langit hatiku yang kemudian memelihara bibit galau.

Kehilangan itu, di tahun ke tujuh, saat ini, benar-benar telah nyata bagiku. Negeri tak bertabuh tak kuasa membunuh atau sekadar menelikung kehilanganku. Palang pintu rumah yang kubelintangkan setiap waktu, ternyata tak mampu menahan ketuk pintu sesuatu yang bernama kehilangan. Rasa hilang itu memang besi dengan daya tarik magnet kuat. Bergeser, bahkan berlari kencang mendekatiku.

Episentrum magnet yang mengundang kehilangan itu memang ada di rumah ini. Entah siapa; entah aku, atau mungkin Markoni. Ya, pasti Markoni!

Ups… Markoni. Ya, dia. Kupastikan dialah yang mengundang kehilangan itu menyerbu masuk ke rumahku. Merusak sistem saraf, menanam bibit gerun di ceruk hatiku. Bukankah dia yang selalu berpuisi, menyenandungkan syair tentang rasa rindu yang sudah setarikan dengan nafasnya? Bukankah syair itu pula yang telah menjadi jampi-jampi, pituah-pituah, medan magnet sehingga kehilangan itu bergerak mengincar hatiku?

Hai gadi Si Jailawa, den nak mudiok ka kampuong Mahat, kok ampangan alah tapampang, kok andelang alah tapompan.

Gondang oguong sudah berbunyi, calempong dipukul tingkah-bertingkah, lemang tapai sudah diampai, anak sunting melambai-lambai. Adat merantau adalah pulang, adat berguru mendapat ilmu, adat anak mengabdi kepada ayah bunda, adat kawan ingat-mengingatkan, adat janji ditepati, adat sumpah jangan dimamah, adat bujang dengan anak dara, seperti aur dengan tebing, mati sekubur dia berdua, tak hidup aur kalau tak tebing, tak tahan tebing kalau tak ada aur…

Itu adalah sepotong nandung rindu; rindu Markoni ke kampung halamannya di atas awan. Rindu yang selalu dinyanyikannya setiap hela nafas menyusuri wilayah paru-parunya. Rindu yang juga berarti petaka bagiku. Rindu yang selama ini kutakuti bila dia datang kepada Markoni.

Tapi tunggu dulu, apa salahnya Markoni merindu. Bukankah rindu kampung halaman adalah hal jamak bagi perantau? Apalagi dalam tujuh musim Markoni belum pernah menengok pucuk kelapa orang tuanya, menyentuh pundak Bundanya; yang katanya kini sendirian karena ayahnya sudah lama tiada.

Namun bukan rindu kampung itu yang membuatku harus ketakutan. Bukan pula rindu Bunda Markoni yang menjadi miang di hatiku. Walau tak pernah bersua, Bunda yang sangat sering dikisahinya itu adalah seseorang yang turut kukagumi juga. Bundaku juga, paling tidak dengan status sebagai ibu mertua. Bukankah ibu mertua berstatus sama dengan ibu kandungku juga? Bukankah bulat bola mataku tak pernah menyimpan wajah seorang ibu di dalam titik hitamnya? Bukankah sudah seharusnya Bunda Markoni, ibu mertuaku itu, layak mengisi titik hitam di dua mataku?

Sekali lagi, ini bukan sebatas melepas rindu antara bunda dengan anaknya. Bukan pula rindu Markoni untuk sekadar melihat pucuk kelapa di pekarangan Bunda atau berziarah ke makam sang ayah. Inilah sebungkah rindu yang hanya menjadi kulit luar untuk membungkus sesuatu rahasia yang coba disimpan. Rindu bersayap. Rindu seorang suami yang bisa diterjemahkan seorang istri yang sudah tujuh musim hidup mendampingi.

Aku adalah seorang istri. Markoni adalah suamiku yang sudah kukenali luar-dalam. Bila berdetak urat nadinya, akan berdetak pula sekerat ranting di lubuk hatiku.

Mengapa dia bersikeras untuk pulang ke rumah Bundanya? Aku pikir, Markoni selalu mencoba menyembunyikan alasan. Tapi sepengetahuanku, mungkin, begini ceritanya:

Bangunan rumah tangga kami adalah sebuah taman dengan kuncup-kuncup bebungaan. Kumbang-kumbang beterbangan. Semut-semut hitam yang berkeliaran. Pagar hijau yang menyejukkan pandangan. Ada pula kursi kayu berhadap-hadapan. Kursi yang menjadi teman setia ketika kami memulai pagi atau menghabiskan rembang petang.

Di taman ini kami bercerita tentang semuanya. Merajut kasih membentang sayang. Derai tawa adalah dengus nafas yang tak pernah berhenti. Bujuk rayu adalah riap tubuh yang tak pernah berkesudahan. Cumbu mesra telah menjadi kebutuhan yang tak boleh tiada. Sebuah hubungan yang sangat melankolik dan romantik.

Kadang aku malu pada sekuncup bunga raya. Bunga dengan kembang merah merekah dan beserbuk sari kuning-kuning itu, kerap melontarkan protes sebagai bentuk kecemburuannya kepadaku. Katanya, manisnya madu yang dia simpan tak pernah diteguk kumbang sampai tetes penghabisan. Kelopak merahnya sering layu ketika dia masih menyimpan madu yang manisnya masih minta disentuh.

’’Engkau adalah madu. Madu dengan ratu lebah tanpa nyawa penghabisan. Madu yang membuat seluruh kumbang mabuk kepayang dan tak mampu melepas lidah dari getah manismu,’’ katanya, hampir setiap hari ketika Markoni menjadi kumbang jalang bertualang di lembah manisku.

Tapi bunga raya tetaplah bunga tanpa rasa. Dia hanya mampu menilai tampilan raga tanpa tahu hati yang terluka. Soal di taman ini hanya ada aku dan Markoni yang diselimut cinta kasih, tanpa seorang pun yang mengganggu, tanpa orang ketiga, tanpa si buah hati, si bunga raya tak pernah tahu. Perjalanan cinta kami adalah sebuah petualangan yang membosankan. Romantisme yang kami bangun menjadi terlalu datar, bagian rutinitas yang tak bermaya.

Oh, keturunan. Ya, itu yang membuat rutinitas hidup kami tak bergendang bertingkah. Hidup yang hambar tanpa perisa. Garis keturunan yang harus kami sudahi di generasi kami, tanpa ada yang mampu melanjutkannya. Tidak pada keluarga Markoni, tidak juga pada keluargaku. Markoni hanya anak tunggal. Aku juga. Kalau kami tak punya keturunan, siapa lagi yang melanjutkan trah kami ini?

Pupus!

Tanpa keturunan!

Dan bunga raya tak tahu itu. Dia juga tak mengerti betapa syair yang dinyanyikan Markoni dalam setiap gerak nafasnya dipicu dan dipacu oleh ketiadaan si buah hati. Bunga raya juga tak tahu bahwa kidung rindu seorang bunda kepada anaknya hanyalah secuil dan tak sebanding dengan rindunya kepada anak dari anaknya; cucunya. Bunga raya tak tahu kalau dalam habitat manusia di daerah ini, bila sebuah rumah tak punya pamenan; permainan, maka yang akan pertama dan terakhir disalahkan adalah perempuan. Adalah aku. Dan suatu hal yang jamak dilakukan lelaki di kampung ini untuk memadu bininya. Jangankan tak punya anak, punya dua belas pun tetap tak mampu merintangi langkah lelaki miang untuk meminang rumput tetangga.

Bukankah agama membenarkan punya istri lebih dari satu?

Aku beruntung masih bisa melewati tujuh musim bersama Markoni. Lelaki itu masih selalu setia mendekapku ketika ketakutan datang. Sebuah perlindungan yang bernama kesetiaan benar-benar telah ditanamkannya dengan baik di permukaan hatiku. Markoni telah menjadi lelaki paling setia di kampung kami. Kesetiaan yang banyak menjadi buah cibir dari orang-orang sekampung. Bahkan, ketika badai kerinduan seorang Bunda menampar hatinya, Markoni tetap cukup tegar melawannya. Walaupun aku menyadari bahwa keteguhan hati Markoni adalah batu hitam di sudut gua dititik air. Perlahan namun pasti terkikis jua.

Kesabaran Markoni memang harus kuhargai lebih. Namun menurutku itu adalah hal yang semestinya dia lakukan. Sebab, puncak kesalahan, kekurangan, atau batu halang memang tidak mesti dariku. Bisa saja dari dia. Atau, yang paling mudah membuat alasan adalah karena Tuhan belum memberinya.

Tuhan belum memberi? Ya, itu memang alasan yang paling tepat. Alasan yang tidak bisa disangkal. Paling tidak, ini adalah alasan untuk menghibur hati tanpa harus menyalahkan siapa-siapa, seperti yang selalu disampaikan orang-orang kepada kami. Tapi, mengapa Tuhan tak memberinya kepada kami? Mengapa Gadi Tenjo, tetangga kami yang baru menikah sebulan langsung dapat anak? Mengapa Ujang Mesiu yang kerjanya cuma duduk di kedai kopi tanpa mencari kerja untuk makan anak bini punya anak lima? Atau, mengapa perut Lela sudah membuncit tiga bulan sebelum datang kepada Tuan Qadhi?

Kami memang bukan orang kaya. Tapi sekadar untuk memberi makan dua atau tiga anak, insya Allah kami mampu. Markoni termasuk lelaki giat berusaha. Soal mengasuh anak, aku juga punya referensi yang baik. Sejak masa kecil kujalani, anak-anak memang menjadi teman bermainku. Menggendong bayi mungil adalah keahlianku. Tapi, mengapa bayi-bayi merah itu tak pernah bersarang di rahimku? Mengapa Tuhan belum memberi?

Setiap lembar hariku adalah kerinduan kepada sesosok lelaki, atau perempuan, mungil. Dalam tidur dan jagaku adalah doa yang tak berkesudahan akan hadirnya Markoni-Markoni kecil. Tak perlu delapan seperti Ibay tetanggaku, dua pun cukuplah. Ataupun satu orang saja, untuk menjadi perekat rumah tangga ini. Agar rumah tangga ini tidak terberai. Karena aku yakin, bila si mungil tak kunjung datang, ambang perpisahan akan segera kami masuki.

Aku dan Markoni sudah hampir putus asa. Berpuluh dukun sudah kami datangi, mungkin beribu mantera sudah diembuskan ke ubun-ubun kami. Beragam jurus hubungan suami istri sudah kami lakoni. Gaya inilah, cara itulah. Pola misionaris yang dipakai oleh orang sekampung, atau pola lain yang dipetuahkan orang-orang, sudah kami lakukan. Tapi tetap saja si buah hati enggan menghampiri.

Terakhir kami datang kepada seorang bomo di Sungai Pinang, satu jam perjalanan dari kampung kami di Poro ini tiga bulan lalu. Ada puluhan orang yang antre mendapatkan pengobatan. Kami bersabar untuk bisa dilayani. Ada secercah harapan dari ibu-ibu yang datang ke sana. Kata mereka, bomo ini sakti. Manteranya manjur, obat-obatannya ampuh. Hampir semua orang yang datang ke sana mendapatkan apa yang diinginkan. Mau mendapatkan pemanis, menyampaikan antau pelalau, memasang kuboji, atau hanya sekadar urusan bersin-bersin, semuanya bisa diatasi.

’’Memasang kuboji juga bisa?’’ tanyaku.

’’Semuanya…’’ kata seorang ibu di sampingku.

Aku datang bukan untuk mendapatkan kuboji; sebuah mantera yang dilekatkan pada sesuatu barang yang tujuannya untuk menanamkan bibit kebencian. Karena, tanpa kuboji pun bibit kebencian yang bisa menyulut perpecahan dan perceraian di antara kami sudah menunjukkan tanda-tanda akan menetas. Kalau aku memilih, tentu akan memilih pemanis. Biar hubungan kami semakin hari semakin manis. Biar Markoni tidak meninggalkanku dalam tangis.

Tapi, apalah guna pemanis, kalau mantera yang dibacakan si bomo hanya berlaku dalam suatu masa yang ditentukan; temporer. Hanya bertahan untuk dua bulan, atau katakanlah tiga tahun. Setelah itu, Markoni akan meninggalkanku juga. Malah bibit kebencian yang selama tiga tahun masa berlaku pemanis, akan mengumpul dan membengkak untuk segera dimuntahkan kepadaku.

’’Bomo ini hebat. Sakti!’’ kata orang beberapa kali menegaskan.

Ketika giliran aku dan Markoni mendapat giliran, jantungku berdegup jadi kencang. Takut kalau bomo mengatakan bahwa aku yang salah, tak bisa memberikan keturunan. Bahwa ada alasan bagi Markoni untuk memiliki istri lagi. Bahwa ada alasan bagi Markoni untuk pulang ke rumah Bundanya secepat mungkin. Bahwa aku akan menjadi janda yang entah ke berapa di kampungku. Bahwa yang pupus hanyalah garis keluargaku, bukan keluarga Markoni. Bahwa selama tujuh tahun aku telah menyia-nyiakan kehidupan Markoni dalam perburuan sebuah garis pelanjut keturunan dengan sia-sia.

’’Cuma satu obat yang manjur buat ngkau,’’ datuk bomo memandang serius. Dia menunjuk Markoni.

Lelaki yang sudah tujuh tahun hidup bersamaku itu nampak tegang. Dia tak menjawab. Tangannya yang kasar memegang punggung tanganku.

’’Perawan baru!’’

Tiba-tiba suara bomo itu meledak. Tertawa terkekeh-kekeh. Suaranya yang agak parau terdengar makin parau karena badannya ikut terbungkuk-bungkuk.

’’Maksudnya apa ni, Tuk?’’ Markoni penasaran. Tak paham apa yang dikatakan si bomo.

’’Maksudnya, ngkau berbini baru. Coba perawan baru. Kalau tak mampu juga, berarti ngkau yang salah,’’

Sialan! Bomo gila!

Aku tak bisa mendefinisikan air wajahku. Entah mau marah atau tertawa. Yang jelas wajahku terasa menebal, uratnya menegang. Hatiku dipenuhi kecamuk. Protes dengan petuah datuk bomo yang asal cakap. Menurutku itu benar-benar lelucon paling buruk yang pernah kudengar. Aku juga benar-benar tersinggung karena disudutkan dan dihakimi secara tidak adil. Walau kemudian ditingkahi dengan gelak tawa mirip hantu-hantu di tepi ladang, tetap saja petuahnya kuanggap serius.

Mengapa harus perempuan yang disalahkan? Mengapa Markoni harus mencoba perawan baru? Apakah pernikahan itu bagian dari percobaan? Coba sana, coba sini, mana yang sesuai dialah yang dipakai? Mana yang tak suai lalu dibuang bersepai? Mengapa bukan aku yang harus mencoba pejantan baru? Mengapa bukan lelaki, semacam Markoni yang kadang loyo di atas dipan yang dihakimi tak mampu memberi keturunan?

Ups! Loyo di dipan! Ini rahasia rumah tangga kami, urusan kamar tidur yang tak mungkin kuungkap kepada orang lain. Rahasia yang hanya milik kami berdua. Aku akan sangat berdosa bila harus membeberkan cerita dalam bilik kami. Tapi, harusnya datuk bomo tidak berkata begitu; menjatuhkan vonis dengan sangat tidak adil. Andai saja dia tahu siapa Markoni, bagaimana sikap dan kemampuannya di atas tempat tidur, tentu dia akan meralat keputusan itu.

Sesungguhnya, Markoni tidaklah terlalu buruk. Tidak impoten; walau harus diakui sering ejakulasi dini. Aku juga bisa menyadari itu. Permata hatiku itu memang sangat sibuk bekerja di ladang, mencari nafkah pagi hingga petang. Ketika pagi tenaganya kuat, dia sudah pergi meninggalkanku menuju kedalaman hutan. Barulah petang, ketika tenaganya sudah mulai aus, dia pulang ke pangkuanku untuk kembali berusaha membuat keturunan. Tapi apalah daya, aku sering hanya mendapat sisa-sisa tenaga. Lagi pula, kalau Markoni tidak seperkasa saat dia menumbangkan kayu-kayu di hutan, tentu bisa dimaklumi. Karena, kokohnya kayu di hutan belum akan mengalahkan kokohnya pertahananku. Liarnya rimba yang ditebas-tebang Markoni, tentu belum akan mampu menandingi liarnya seorang perempuan sepertiku.

Sudah! Aku tak mau bercerita terlalu banyak tentang bagaimana kami menjalani hidup di atas dipan. Sekali lagi, itu adalah rahasia kami yang tak boleh diketahui banyak orang. Bilik kamar adalah bilik hatiku yang tak mungkin dilihat siapapun, kecuali Markoni. Tapi aku sesungguhnya ingin menceritakan sesuatu yang kami lakoni malam tadi. Sesuatu yang sangat jarang kujumpai sepanjang umur hidupku

Begini.

Rembang petang perlahan hilang. Kampung Poro, sebuah kampung yang berjuntai di tepi Sungai Kampar, mulai terasa lengang. Hampir semua rumah sudah menutup pintu, menghadang tiupan angin basah musim penghujan. Dari cerita Muluk, lelaki yang tinggal di tepi sungai dekat penyeberangan, tentara agresi sudah mulai turun dari Bukittinggi. Orang-orang Belanda yang berhasil mengalahkan Jepun beberapa tahun lalu, memang akan menuju ke tempat kami. Paling tidak, kampung Poro adalah daerah lintasan mereka apabila ingin ke Senapelan. Menurut cerita Muluk, bila Salo dan Senapelan sudah terhubung, mereka akan mendapat untung banyak. Apalagi sejak Senapelan mulai maju karena pembukaan ladang minyak oleh Jepun di daerah Minas, ambisi Belanda untuk menguasai jalur ini semakin tinggi. Selain Minas, sebelumnya ladang minyak sudah terbuka juga di daerah Sebanga, Duri, tempat di mana masyarakat Sakai berdiam diri.

Tentara agresi Belanda itu diperkirakan akan sampai di Kenegerian Poro sekitar satu atau paling lama dua bulan lagi.

Tapi bukan karena teror tentara agresi itu yang membuat kampung ini lengang. Maaf, definisi lengang ini memang sengaja kuciptakan; belum tentu berlaku untuk semua orang. Karena kalau dilihat secara seksama, suasana seperti ini adalah hal yang biasa. Di musim penghujan seperti ini, semua orang memang enggan keluar rumah. Jalan berlecah. Angin yang disertai rintik hujan bisa saja terjadi setiap waktu. Dingin. Dari pada berselimut kain hujan, bukankah lebih hangat berselimut istri di rumah?

Itu pula yang menyebabkan kedai kopi Udin Kelahar yang tak jauh dari rumahku jadi sepi akhir-akhir ini. Minum secangkir kopi atau teh, hanya jadi pengantar petang pulang ke kandang. Bila gelibut senja sudah datang, orang-orang pun mencari penghangat yang bisa menggeliat di dalam bilik rumah masing-masing. Ini sangat berbeda jauh dengan bulan-bulan lalu yang dihabiskan lelaki dewasa di kampung ini hingga larut malam di kedai kopi Udin Kelahar sambil bercerita entah apa, entah siapa, dan entah sampai kemana. Pos tempat tentara Jepun berdiri di Poluong, seberang kampung kami selalu ramai. Tempat itu sering kali menjadi tempat berkumpul para lelaki dewasa. Apalagi setelah pos itu ditinggalkan penjajah Jepun sejak empat tahun lalu, praktis masyarakat jadi leluasa bermain di sana.

Tentara Jepun memang sengaja mendirikan pos di sana. Karena ini adalah daerah lintasan paling penting. Dari Salo dan Bangkinang kalau hendak ke Senapelan, semua orang harus melintasi garis ini. Saat itu, Jepun sudah punya dua front besar. Satu di Senapelan dan satunya lagi di Bukittinggi. Kalau mereka ingin menggabungkan dua front itu, mereka harus melewati Salo dan Poro. Dan, karena front ini dipisahkan Sungai Kampar yang lebar dan dalam, satu-satunya cara adalah membangun jembatan.

Semua orang harus melewati jembatan kayu yang dibangun tentara Jepun dengan tenaga romushanya. Dulu, bila orang ingin menyeberang sungai Kampar, satu-satunya cara yang dipakai adalah menggunakan rakit sampan. Namun setelah jembatan kayu ini dibangun, rakit itu sudah tidak diperlukan lagi dan dijual ke kampung lain yang memerlukan.

Jembatan kayu yang dibangun Jepun sebenarnya cukup kuat. Kayu kulim yang dipakai sebagai tiang, berdiri kukuh menancap ke dasar Sungai Kampar. Namun karena aliran air sungai ini deras, apalagi kalau musim banjir, jembatan ini terpaksa dijaga. Bila banjir datang, biasanya kapau banyak yang hanyut. Kumpulan sampah dan kayu itu akan segera melanda tiang-tiang jembatan yang berdiri. Bila tidak dielakkan, kapau yang kadang bisa sebesar rumah itu bisa merubuhkan jembatan. Maka, pos yang dibangun Jepun ini salah satu fungsinya adalah sebagai pos siaga. Sedangkan tenaga untuk menghalau kapau itu, diambil dari masyarakat. Markoni pernah juga mendapat tugas mengelakkan kapau-kapau itu.

Malam itu, Markoni sudah pulang sejak petang. Baginya, kopi yang dimasak Udin Kelahar tak berbeda jauh dengan kopi buatanku di rumah. Aku, katanya, memang punya selera membuat minuman dan makanan cukup baik. Soal membuat kopi, aku memang cukup terlatih. Kopi yang kubuat tak pernah hanya direndam dengan air panas, melainkan dijerangkan langsung bersama air panas itu di atas tungku. Kopinya lebih berasa, dan lebih tanak. Karena itu pula, telingaku tak pernah mendengar protes dari Markoni soal makanan di rumah ini. Markoni juga tak pernah makan di lepau Abas Sulah kalau tidak bersamaku.

Begitu pulang, petang tadi, Markoni langsung mengadakan inspeksi mendadak. Ini adalah inspeksinya terakhir sebelum pulang ke kampung Bundanya di atas bukit. Tapi tolong dicatat, Markoni tidak akan pulang sendirian. Dia akan pulang dengan mengajakku. Wow, bukankah itu luar biasa?

Soal kesepakatan aku ikut serta dalam hijrah ini, nanti kujelaskan. Saat ini aku ingin memperlihatkan sejumlah perbekalan yang akan kami bawa pulang ke rumah orang tuanya di atas bukit. Ada limpiang tuak dari beras sawah, oluo dari beras ketan yang disangrai, wajik, lepat bugis, limpiang daun bomban, dan tentu saja sesumpik kelamai. Itu, makanan kecil dan sebagai oleh-oleh. Untuk makanan di perjalanan, aku sengaja membuat rendang dan goreng katuong balado. Bukan rendang daging kerbau atau kambing, melainkan rendang daging kijang. Kebetulan, Uwo Nurdin si pemburu itu kemarin mendapat dua ekor kijang jantan. Aku membelinya agak banyak dari biasanya untuk bekal di perjalanan.

Semua bahan makanan ini cukup untuk perbekalan lima hari perjalanan. Tidak akan basi, terutama oluo, wajik, rendang, dan kelamai. Bahkan perbekalan ini bisa menjadi bahan oleh-oleh untuk mertuaku nantinya.

Oluo memang makanan kesukaan Markoni. Jenis makanan ini terbuat dari beras ketan yang disangrai, ditumbuk di lesung sambil dicampuri dengan tetesan air gula yang sudah dihangatkan. Makanan ini bisa tahan sampai tiga bulan bila disimpan di tempat yang kering dengan suhu agak hangat. Biasanya disimpan dalam sumpik, sebuah wadah yang terbuat dari anyaman pandan.

Bahwa aku akan ikut dengan Markoni ke kampung halamannya, ini sangat masuk akal dan mau tak mau harus diterima nalar Markoni. Perdebatan panjang selama tujuh tahun ini tentang rencana kepulangannya, memang baru menghasilkan kata sepakat empat hari lalu.

’’Bunda Tuan tu kan Bunda Siti juga. Bukan hanya Tuan yang merindu, Siti juga,’’ kataku bersikukuh ingin ikut. Aku sengaja menggunakan kata Tuan untuk membujuk hatinya. Padahal, di hari biasa aku lebih suka memanggilnya Abang. Kesannya tidak terlalu formal. Aku juga menggunakan kata Siti sebagai nama panggilan kecilku.

’’Tapi perjalanannya jauh, Sayang! Bisa sampai satu bulan,’’ itu adalah alasan yang selalu disampaikannya sejak tujuh tahun lalu.

’’Tak masalah. Yang penting Siti ikut! Ingin pula rasanya Siti melihat negeri atas bukit tu. Pasti indah bila melihat ke negeri-negeri di bawahnya. Ye tak, Tuan?’’ aku coba membujuknya. Jawaban ini adalah jawaban yang sudah kusampaikan sejak tujuh tahun lalu juga.

’’Lawa, kalau kamu ikut bisa berbahaya. Tentara agresi sudah mulai turun dari Bukittinggi. Sebentar lagi bisa sampai ke sini. Nanti kalau kita jumpa di jalan, bagaimana?’’

’’Tak apa tu, Tuan. Tentara ‘kan tak mau sama bini orang. Dulu Jepun juga tak jadi ngambil Siti karena Siti sudah punya laki. Masih ingat tak? Lebih bahaya kalau Siti tinggal sendiri di kampung. Nanti diambil Belanda karena dikira janda, Tuan tak kecewa?’’

Sekuat hati kusampaikan alasan yang paling masuk akal biar bisa ikut dengan Markoni ke kampung halaman orang tuanya. Memang alasan ini tidak dibuat-buat. Ketika Markoni melamarku secara mendadak, alasan karena takut tentara penjajah juga mengemuka dan menjadi alasan utama. Ketika itu, hampir semua anak gadis menikah muda. Ibarat bunga, belum mekar sudah diisap kumbang. Baru berumur sepuluh, atau sebelas tahun, sudah harus masuk kelambu dengan lelaki yang kemudian disebut sebagai suaminya. Kalau tak menikah, nanti dibawa Jepun. Dijadikan jugun ianfu, pemuas nafsu bejat tentara Jepun.

Karena alasan menikah muda itu pula, daftar perempuan menjadi janda sangat panjang di kampung-kampung yang tersebar di XIII Koto Kampar, Poro, dan kawasan lainnya. Biasanya, mereka hanya menikah sebagai syarat. Dipakai dua atau tiga bulan, lalu dibuang selayaknya membuang pelepah pisang ke tepi jalan yang sudah dipakai sebagai tudung di saat hujan. Nah, kalau sudah menjadi janda urusannya jadi sulit. Tak ada lagi yang mau. Orang bujang tak mau, hanya Jepun yang mau. Kalaupun kemudian kembali berumah tangga, biasanya akan menikah dengan orang yang sudah setua ayahnya, atau rela dijadikan istri ketiga atau mungkin keenam.

Dan, akhirnya Markoni memang tak punya alasan lain untuk tidak mengajakku ikut serta dalam perjalanan pulang ke kampung Bundanya. Kedatangan tentara agresi yang pernah dikalahkan Jepun, yang katanya, sudah mendarat di Bukittinggi dan mulai bergerak ke XIII Koto Kampar, membuat ketakutan tambah mencekam. Poro memang pertahanan terakhir sekaligus pintu masuk bagian barat menuju Senapelan dan Minas.

Persetujuan Markoni untuk mengajakku pulang ke kampung halamannya benar-benar membuat hatiku lega. Aku tak perlu lagi memelihara bibit gerun di hati. Ketakutan akan kehilangan orang yang sudah tujuh tahun mendampingiku, sudah terhapus seketika. Bukankah ini trik yang paling mudah untuk memelihara sekaligus mempertahankan biduk rumah tangga ini?

Lalu, aku melewati tiga malam terakhir ini jadi lebih bersemangat. Seperti malam ini, ada bunga-bunga di dadaku yang bermekaran. Permukaan hatiku basah. Musim kering yang telah lama melanda sawah ladangku, kini mulai ditimpa hujan dan dikipas angin lembab. Desau angin dingin yang berembus di luar rumah tak mampu menggigilkan diriku. Ada kehangatan yang bertautan. Kehangatan tubuhku dan tubuh Markoni. Kehangatan sebuah jiwa yang muda, jiwa yang kembali berbunga-bunga. Jiwa yang lebih muda dibanding biasanya.

Dari tadi, sejak azan Isya lamat-lamat mengetuk pintu rumah warga dari kejauhan, aku tak bisa melepaskan diri dari Markoni. Hangat tubuh Markoni adalah harap pinta yang tak pernah sudah di hatiku. Markoni adalah candu. Sesuatu yang harus ada bersamaku. Apalagi tiga malam terakhir ini, Markoni cukup pandai bagaimana membahagiakan seorang perempuan sepertiku. Semua keluh bisa jadi lenguh. Segala gelisah bisa menjadi desah. Atmosfir kamar sudah dipenuhinya dengan kembang api cinta yang membuatku benar-benar tak bisa kehilangannya.

Sekali lagi, sejak azan Isya lamat-lamat mengetuk pintu rumah dari kejauhan, hatiku memang dipenuhi bunga-bunga. Selarik senyum tak pernah lepas menghias bibir tipisku. Setandan ragu rasanya tiba-tiba lenyap dari perasaanku. Sebungkah berahi tiba-tiba tak bisa lagi kukendalikan. Dari balik selimut, di mana kami berdua bisa merasakan kehangatan lebih, tubuhku adalah tungku api yang siap menyalakan semangat Markoni. Bidang dada lelakiku ini juga sudah menjadi padang rumput yang lembut tempatku bermain-main, tempat aku membaringkan kepala dan dua kelopak bibirku.

Malam ini kami sengaja tak menghidupkan pelita sumbu. Biar hanya angin, atau kilatan petir yang menusuk tikam selimutku.

Katanya, lebih romantik.

Kataku, lebih melankolik.

Romantik dan melankolik. Kedua kata itu memang indah untuk urusan bilik.

Aku benar-benar tak bisa menyembunyikan rasa bahagia malam ini. Aku tiba-tiba menemukan seorang Siti Jailawa muda di hatiku. Seorang perempuan yang menjadi ratu di bunga setaman. Perempuan yang membuat kumbang-kumbang berlomba untuk bisa sekadar menghirup wangi yang meriap dari kelopak mayangku. Seorang perempuan yang menjadi destinasi sebuah petualangan kumbang-kumbang. Dan, kumbang yang bernama Markoni tidak hanya kuiizinkan menghirup wangi kelopak mayangku, tapi memang sengaja kuundang ke kawah lentur milikku. Berenang di sana, menghirup manisnya sampai tiada yang bersisa.

Malam ini, pori-pori tubuhku meriapkan aroma tubuh seorang pecinta yang sedang menggilai berahi tingkat tinggi.

Sebagai bunga yang kembali mekar, aku memang sedang kagum-kagumnya dengan keindahanku sendiri. Fetisme? Entahlah. Tapi yang jelas tak kubiarkan Markoni melepas bibirnya dari helai rambutku yang legam, tangannya dari sebuah dekap yang tak berkesudahan, badannya dari batang gading yang kini melengkung, nafasnya yang memburu dari kebatan bola mataku yang juga nanar.

Aku ingin disentuh, tak sekadar riap tubuh atau berbagi lenguh. Malam ini aku benar-benar ingin menjadi kembang setaman yang punya kuasa tak berbatas. Kumbang perkasa yang bernama Markoni mestilah menjadi pelayanku untuk bisa mengembuskan gemuruh angin menggulung-gulung ke bagian terdalam di sudut perempuanku.

Dan, Markoni memang sudah melakukannya. Lebih dari segalanya. Lebih dari biasanya. Sekali yang bisa melupakan beribu kali. Semalam yang bisa mengeliminasi beribu malam. Seperti habis berlari jauh, dada ini serasa sudah pecah. Tak kuasa lagi menahan rasa bahagia.

’’Inilah yang terindah. Aku tak ingin ini menjadi sudah,’’ kataku.

Markoni menatap langit-langit rumah. Tangan kanannya masih memeluk separuh tubuhku.

’’Kita kan sudah sepakat. Tak ada yang akan menyudahi,’’ Markoni menatap bibirku yang tersenyum.

Aku mendekapnya lagi. Tak ingin kehilangan walau hanya sedetik.

’’Percayalah, Bang. Aku tak sanggup membayangkan bila jendela pagi kubuka, semua kenikmatan malam ini hanya akan menjadi sebuah kisah. Sebuah kenangan yang tak bisa diulang. Aku masih inginkan sejuta malam akan hadir mendekap kita berdua,’’ bisikku di dadanya.

Terdengar nafas Markoni memberat.

’’Mengapa Ngkau masih ragu, Lawa? Ayo, tidur. Besok perjalanan kita akan jauh,’’

Ya, perjalanan besok memang jauh. Akan sangat jauh. Ini adalah perjalanan pertamaku yang paling jauh sepanjang hidup. Mengapa aku tak menyiapkan kondisi tubuh yang bugar untuk sebuah perjalanan yang menyenangkan?

***

Sungai ini maha dalam. Arusnya deras. Airnya menjadi keruh kuning.

Aku tak pernah melihat Sungai Kampar menggila seperti ini. Kapau-kapau berhanyutan pertanda banjir sudah datang. Sekelompok kapau besar telah menghantam tiang jembatan hingga patah, malam tadi. Jembatan itu terputus. Orang-orang tak bisa melewatinya. Orang-orang juga mengabarkan kalau di bagian hulu banyak desa yang sudah tenggelam. Ternak-ternak mati gembung. Pagi tadi, sebuah rumah papan hanyut dibawa arus persis ketika aku sampai di tepi sungai ini. Tak diketahui apakah sudah ada yang meninggal direndam banjir atau adanya arus pengungsian.

Sejak aku ada, atau tepatnya sejak Sungai Kampar ini ada, banjir hampir setiap tahun terjadi. Bedanya hanya pada volume. Sekali dalam empat tahun, biasa disebut soghok godang; alias banjir bandang alias ampuo. Rumah warga yang memang bertempat tinggal di tepi sungai terendam dalam kurun waktu lama. Kebun sayur dan ladang persawahan hancur, binatang ternak juga mati karena gembung. Uniknya, banjir tak kan surut sebelum berhasil memakan korban.

’’Kita jadi pergi, kan?’’ wajahku agak pucat memandang Markoni.

Lelaki ini nampak agak risau. Matanya memandang jauh ke seberang. Bagaimanapun, untuk bisa mencapai jalan menuju kampung di atas awan, kami mestilah menyeberangi sungai ini terlebih dahulu. Jembatan sudah tak bisa diharapkan lagi.

’’Jadi!’’ jawabnya singkat.

Lalu, dia mengambil sampan dari tambatan, membawanya ke tempat aku berdiri di tepi sungai. Sejumlah barang bawaan kujinjing persis ke bibir air. Selain sejumlah makanan, ada juga bungkus pakaian untuk keperluan selama perjalanan.

Banjir ini menjadi sebuah awal perjalanan menakutkan. Namun janji adalah sesuatu yang harus ditepati. Apalagi sejak empat hari terakhir, badan sudah serasa tak di rumah saja. Rasa sudah terbang di atas bukit, menjulang mertua, memandang perkampungan kecil di bawahnya.

Markoni dengan sigap memuat barang bawaan. Karena jumlahnya cukup banyak, sampan yang dibawa Markoni jadi terkesan kecil. Tidak muat. Apalagi harus menyeberangkannya di tengah arus deras. Tentu berisiko tinggi.

’’Aku antar ni duluan. Nanti kujemput Ngkau,’’

Aku hanya bisa mengangguk. Tak ada pilihan lain.

Namun inilah awal petaka. Markoni memang berhasil sampai ke seberang. Arus deras berhasil dia lalui. Markoni memang lincah mengayuh sampan karena dia juga memang suka mencari ikan. Namun mengapa sampan kecil dan Markoni tak kunjung kembali ke tempatku? Mengapa dia tak menjemputku ke seberang ini.

Kupanggil dia. Tapi tak ada sahutan. Markoni seperti tak merasakan, atau mendengarkan apa-apa. Sampan kecil itu malah hanyut dibawa arus. Markoni nampaknya lupa menambatkan tali sampan. Sebagian barang bawaan masih berada di lambung sampan. Dia sendiri nampak sibuk berbincang dengan beberapa orang di seberang sana.

Kupanggil lagi dengan suara melengking. Markoni tetap saja tak menyahut. Dia malah bergegas mengangkat barang bawaan. Berangkat sendirian.

Lima detik kemudian dia lenyap dari pandangan.

Sedetik kemudian yang kulihat hanya gelap.

Kucoba panggil sekali lagi. Suaraku menghilang. Teriakanku hanya menggemuruh di rongga dada.

Sampai akhirnya sebuah suara menggema.

’’Jailawa……..’’

Suara itu begitu lamat-lamat. Terdengar dari kejauhan. Mataku coba mengejar suara yang bersipongang kecil itu. Badanku tak menjejak bumi, terbang melayang, mengejar dan mencari tahu siapa yang memanggil.

’’Markoni-kah?’’

Suara itu memang semakin dekat. Bahkan kini sudah sangat dekat. Dia berada di pintu telingaku, menyapa dengan lembut.

’’Siti Jailawa… Bangunlah wahai perempuan lemah. Semua sudah berubah,’’

Aku tak mengerti maksudnya. Aku juga tak tahu wujud yang bersuara itu.

’’Lelaki memang punya banyak cara untuk memanfaatkan kelemahan perempuan. Dan, ngkau adalah bagian dari skenario itu,’’

’’Siapa Kau?’’ aku coba menanggapinya.

’’Markoni memang sayang padamu, Siti Jailawa. Namun terlalu banyak alasan baginya untuk pergi menemui Bundanya; meninggalkanmu!’’

’’Siapa Kau?’’

’’Ngkau tak perlu bertanya siapa aku. Yang harusnya ngkau pertanyakan adalah mengapa seorang Siti Jailawa begitu percaya kepada seorang lelaki macam Markoni,’’

’’Hei, Markoni adalah suamiku. Suatu hal yang wajib bagiku untuk memercayainya. Markoni tidak akan mengingkari janjinya,’’

’’Huh, janji! Semua orang juga pernah berjanji. Bahkan berjanji kepada Tuhannya. Tapi semua mereka mengingkari!’’

Aku tak tahu apa maksud suara itu. Aku juga tak ingin bersitegang soal janji Markoni. Karena kepergiannya di seberang sungai itu sudah cukup membuat tanda tanya plus kebencian teramat sangat bagiku.

Ada apa dengan Markoni?

’’Semuanya sudah berubah Jailawa. Bangunlah wahai perempuan… Aku tak kuasa menahan beban rambutmu. Bukan soal kebatannya, tapi kulihat di sana tetes-tetes darah penyiksaan. Dia sangat terluka, sama halnya dengan hatimu yang juga sangat berduka. Bangunlah Jailawa… Hanya aku yang tahu betapa menderitanya engkau,’’

Bangun? Ya, rupanya aku tertidur. Aku hanya bermimpi. Berarti ketakutan itu hanya sepenggal bunga tidur. Berarti tak ada banjir bandang. Tak ada Markoni yang pergi. Tak ada Markoni yang mengingkari janji. Tak ada aku yang di tepi sungai menanti Markoni menjemputku kembali .

Tapi, tunggu dulu, mana Markoni? Bukankah dia harusnya berada di sisi kanan tempat tidur ini, melengkung sambil meraba punggungku? Memberi sebuah pelukan yang selalu jadi tungku jerang rasa dinginku? Bukankah rutinitas pagi kami adalah membuka kelopak mata, menyunggingkan sebuah senyuman, menghadiahkan seulas kecupan, dan kemudian larut dalam dekapan? Tapi, pagi ini, Markoni sudah tiada. Di sini. Tak ada sesungging senyum. Tak ada kecupan. Tak ada dekapan.

Inilah kehilangan itu. Ketika pagi engkau buka, tiba-tiba kelopak matamu tak menemukan lagi seseorang yang engkau sayangi. Ketika lembab subuh mengelus tubuhmu, tubuh hangat seorang lelaki yang bernama suami tak lagi mendekapmu.

Berarti, tak semua yang kurasakan malam tadi sekadar mimpi. Kepergian Markoni adalah sesuatu yang nyata? Kesendirianku bersama luka tak bisa dielakkan?

Aku menemukan diriku masih di atas dipan. Namun ada sesuatu yang ganjil dengan tubuh ini. Batang gading melengkung yang malam tadi tidur seperti bayi, tanpa benang sehelai penutup tubuh, kini sudah berpakaian lengkap. Wajahku juga sudah dibedaki sehingga terlihat lebih putih. Lebih bermaya. Selimut yang mendekapku juga dalam posisi sempurna. Bantal, guling, atau sprei tak ada yang kusut. Padang rumput tempat tidurku begitu bersih dan menyenangkan.

Hanya satu beda. Rambutku yang panjang tak bergerai, atau acak-acakan. Dia tertambat di tiang dipan. Tak terlalu kuat. Hanya sebagai suatu isyarat. Kata orang-orang di kampungku, bila seorang suami mengebatkan rambut istrinya di tiang dipan, berarti dia akan pergi ke suatu tempat jauh dan tak menginginkan istrinya ikut serta. Itu juga bisa berarti sebuah talak. Talak satu. Walaupun tak terucap. Karena bisa dipastikan mereka tidak akan kembali lagi.

Tak akan kembali?

Aku tak membahas itu. Karena sekarang semuanya sudah berlalu. Sudah terjadi. Sudah terlanjur kusut.

Tapi suara yang membangunkan itu pasti tiang dipan ini. Karena, tiang dipanlah yang telah melihat dan merasakan tetes-tetes darah jatuh dari helai-helai mayang ini. Amis. Penuh aroma benci. Dia jugalah yang mengetahui betapa hati ini tidak hanya terluka, tapi juga lebam karena bekas tumbuk dan pakuk dari tangan dingin seorang lelaki bernama Markoni. Perlakuan tidak jantan dari seorang lelaki cuai dan abai.

Kuperiksa semua perbekalan yang sudah kusiapkan sejak tiga hari lalu. Aneh, semuanya sudah terbagi dua, dan sebagiannya itu sudah tak ada lagi di tempatnya. Aku yakin, pasti sudah dibawa Markoni. Lepat pulut yang kubuat 40 buah kini tinggal 20. Rendang ada serantang, kapituok goreng balado ada dua bungkus, limpiang daun bomban juga ditinggalkan 10 buah. Semuanya ditinggal serba setengah. Bungkus kain pun begitu. Hanya kain Markoni yang lenyap.

’’Markoni…’’

Aku tak kuat menyebut nama itu. Hatiku benar-benar terluka. Bernanah. Menjadi barah, kemudian terbelah. Ada sejuta rana merona di sana.

Setetes air mata yang kemudian bergulir dari kelopaknya, kupaksa masuk kembali ke retina. Gemuruh dan gigil tubuhku kuredam sekuat tenaga. Tak akan kubiarkan sesuatu di tubuhku merasakan sakit karena kehilangan ini. Tidak mataku yang sembab, tidak tekakku yang ingin meraung, tidak gigiku yang gemeletuk, tidak nafasku yang memburu, tidak dadaku yang menggemuruh, tidak juga lidahku yang ingin menyampaikan sumpah.

Semuanya harus melebihi itu. Aku ingin membalas perbuatan Markoni lebih pedih dari sekadar menangis meraung-raung, atau menghempaskan barang-barang pribadi peninggalan Markoni, atau memaki-hamun serta sumpah-seranah supaya dia celaka dalam perjalannya.

Tunggulah. Aku punya pembalasan yang lebih spesial. Markoni akan merasakannya.***



Mahat

Cinta sejati adalah sebuah hubungan dua insan yang tak mungkin. Hubungan yang tak sekufu. Semisal hubungan pangeran dengan gadis kampung, atau orang berwajah buruk mendapat gadis cantik, atau anak dagang yang dinikahi gadis tempatan. Kalau pangeran menikahi putri raja itu sudah kodratnya, gadis cantik mendapatkan lelaki rupawan adalah hal yang biasa, bako mendapatkan baki itu sangat mudah. Tak memerlukan perjuangan. Tak ada pengorbanan. Tak ada degup-degup yang mendebarkan.

Mahat. Ada sejuta pesona di sini. Setiap orang akan merindukannya jauh sebelum berpisah. Udaranya sejuk, padinya subur, air yang disuling dari gunung menggunakan bambu-bambu panjang terasa dingin menyegarkan. Kalau naik ke puncak bukit sudut kampung, kita bisa mencekau awan, menggumpal-gumpal mendung hujan. Dari sana kita bisa juga melihat apa saja dalam ukuran-ukuran kecil; semacam lanskap miniatur. Rumah-rumah menjadi seibu jari, orang-orang berlalu-lalang seperti ujung lidi. Petak-petak sawah dan kebun kelapa seperti hamparan sajadah; berjenjang-jenjang seperti anak tangga.

Aku bersyukur terlahir di sini. Bahkan kalau boleh meminta, jika suatu saat nanti aku dilahirkan kembali, aku ingin terlahir lagi di sini. Mahat adalah bagian hidupku seutuhnya. Nyanyian alam telah menghadirkan kebahagiaan tiada terkira. Bahkan kepergian ayah untuk selama-lamanya ketika aku masih menyusu kepada Bunda, tidak mengurangi kegembiraanku di masa kanak-kanak. Bukan aku tak rindu dengan sosok seorang ayah, tapi Tuhan sudah menghadirkan kebahagiaan lain agar aku bisa melepaskan kenangan pahitku atas ketiadaan ayah.

Keberuntunganku memiliki alam, sama halnya dengan keberuntunganku memiliki seorang Bunda. Bunda sangat sayang dan memerhatikanku. Dia adalah Bunda yang sekaligus bisa menjalankan posisi sebagai ayah, sebagai abang, atau sebagai kakak perempuanku. Kalau tak ada dia, aku sebatang kara. Kalau tak ada aku, Bunda pun sebatang kara. Padanya aku merasakan tetak tangan bermata dua. Sisi yang pertama adalah kelembutan seorang perempuan. Sisi lainnya adalah sifat tegas dan keras seorang lelaki. Dua sisi itu kini benar-benar kusalin sudah. Semacam mixing yang tepat. Seperti kuku memerlukan ujung jari, seperti gendang dengan tingkahnya.

Bundaku pandai mengaji. Suaranya merdu dalam seni qiraah. Bila malam telah tiba, atau subuh akan segera pergi, kampung Mahat seakan penuh dengan gelombang suaranya. Menelusup ke balik selimut, mengisi ngarai-ngarai. Aku kagum padanya. Pada suaranya yang merdu. Pada seni qiraahnya yang melembutkan hati. Karena kekagumanku itu pula akhirnya saat umurku belum genap enam tahun, aku sudah bisa membaca Alquran dengan fasih. Ketika usiaku masih delapan tahun, aku pernah juara seni tilawah untuk tingkat kampung.

Sementara ayahku adalah seorang lelaki yang disegani di kampung. Selain sebagai saudagar cukup berhasil, ayah juga dikenal sebagai jago silat. Tak ada satupun preman pasar yang berani meminta uang takut kepadanya. Hampir dalam setiap perjalanan dagangnya tak ada halang-rintang. Dari darahnya pula kini mengalir sifat keras hati di diriku. Keperkasaan ayah sering diceritakan Bunda sebagai pengantar tidurku. Aku sangat bangga mempunyai ayah sepertinya. Sayang, ayah tak berusia lanjut. Lelaki yang tak pernah kupahami bentuk wajahnya itu memang berani melawan sepuluh orang sekaligus dengan ilmu silatnya, namun dia ternyata tak cukup kuat melawan serangan demam malaria yang menyerang kampungku saat aku masih menyusu kepada Bunda.

Kepada Bunda-lah semua beban kini dipikulkan. Sebenarnya, tidaklah terlalu berat bagi Bunda. Untuk sekadar mengasapi dapur, kami memang tak kekurangan. Beberapa petak sawah peninggalan ayah sudah cukup memberi makan kami berdua. Aku juga diwarisi beberapa ekor kerbau, dan sebidang kebun kelapa yang cukup luas. Sangat lumayan sebagai penghasilan. Semasa hidup, ayah memang terbilang pedagang cukup berhasil. Beberapa kali dia berdagang ke negeri bawah bukit, terutama bila transaksi jual beli sedang sepi di pasar kampungku. Dari hasil perdagangannya yang beruntung itu pula ayah meninggalkan harta warisan yang cukup banyak kepadaku.

Di tepi kampung, aku punya beberapa petak sawah. Di masa kecil, aku suka ke sana. Memang tak selalu membantu Bunda bertanam padi atau membuang rumput-rumput liar di sela-sela tumbuhan yang buahnya menjadi makanan utama kami itu. Kadang aku hanya bermain-main saja dan mencari ikan. Tapi yang paling kusuka adalah saat musim padi menguning. Aku mendapat tugas menghalau burung-burung. Dengan juek-juek; seutas tali yang disambungkan dengan kaleng atau seng bekas berisi batu, aku bisa menghalau burung-burung dari pondok kecil di tengah ladang. Aku masih bisa menirukan suara serunai batang padi yang kutiup saat menjaga ladang. Melengking, tapi tak memekakkan.

Ingin rasanya kunikmati keindahan dan keceriaan negeri di atas awan ini hingga nafas lepas di badan. Tapi ketika umurku baru saja melewati masa akil baligh, semuanya harus diakhiri. Keindahan masa remaja itu harus mati premature. Ini tak lain karena penjajah Belanda semakin jauh masuk ke kampung-kampung bukit di XIII Koto. Di pertengahan tahun 1940, Belanda mulai masuk ke wilayah sekitar Mahat. Ternyata perjuangan beberapa tuanku di Rao, Bonjol, Tambusai, dan beberapa tempat lainnya sejak awal 1900-an, tak mampu lagi menahan laju kedatangan orang-orang putih tinggi jangkung ke kampung-kampung subur seperti kampung ini. Selain menjarah kekayaan rakyat, mereka juga menangkapi pemuda-pemuda desa dan orang dewasa untuk dibawa entah kemana. Kata orang, akan dijadikan tenaga kerja paksa. Kerja rodi.

Lalu aku teringat Lubang Kolam, sebuah terowongan penghubung XIII Koto dengan Payakumbuh. Tempatnya tak jauh dari kampungku. Hanya setengah hari perjalanan. Ratusan orang sudah tewas mengenaskan ketika dipaksa bekerja rodi untuk menggirik bukit batu sampai berpuluh-puluh depa. Membuat lubang menganga untuk keperluan mereka mengangkut batu bara, atau sebagai jalan pintas untuk meneruskan wilayah jajahannya ke rantau XIII Koto. Maklum, kalau harus melewati kulit bumi, jalanan begitu terjal. Menanjak, dan penuh risiko. Maka satu-satunya jalan pintas adalah dengan membuat lubang, melubangi bukit. Tapi, sekali lagi, bukit ini adalah bukit batu. Orang-orang harus menggirik batu selebar-lebarnya. Dan memerlukan orang sebanyak-banyaknya.

Ini bukan pekerjaan mudah. Sebagian besar pekerja mati kelaparan di sana. Bukan hanya karena tak makan, melainkan karena kerja yang berlebihan. Hampir tak ada yang istirahat. Tak sedikit pula yang harus mati di ujung senapan ketika mencoba lari dari kamp tempat kerja rodi itu.

Kalau aku nanti dibawa Belanda, dan disuruh menggirik batu seperti di Lubang Kolam, bagaimana dengan nasib Bunda? Dari pada berpisah dengan Bunda untuk pergi bersama Belanda, akhirnya aku memilih berpisah dengan Bunda untuk sebuah rencana yang lebih baik. Aku berencana mengikuti jejak mendiang ayah. Merantau. Lagi pula umurku hampir delapan belas tahun. Umur yang sudah sangat pas untuk sebuah perantauan. Pemuda sebayaku di kampung bahkan sudah beberapa kali pergi merantau dalam umur sebegitu. Budaya meninggalkan kampung halaman ini memang dianggap strategis. Dengan merantau kita tidak lagi menjadi katak dalam tempurung. Bisa tahu bentuk kehidupan selain kehidupan di kampung sendiri. Di sanalah kita bisa mencari dan mengasah jati diri. Ya, tentu saja tujuan lainnya adalah untuk mencari uang untuk bekal berumah tangga.

Bekal berumah tangga? Alasan ini jadi pembulat tekadku untuk merantau. Mamak Sidin, abang kandung Bundaku, punya anak perempuan yang sedang mekar-mekarnya. Umurnya masih baru saja menjejak 14 tahun. Namun karena gizinya cukup, badannya terlihat agak berisi. Kulitnya putih, rambutnya hitam legam panjang berurai. Namun bukan kulit dan rambut yang membuatku suka berlama-lama melihatnya bila datang ke rumah bila mengantar rantang siah berisi makanan, melainkan dua telaga di bawah alisnya yang memang indah; bulat bening penuh sinaran. Apalagi kalau dua telaga itu memandang ciling kepadaku, hmm… kelopak bunga hatiku langsung bermekaran.

Namanya Zahra. Namun kami di kampung lebih suka memanggilnya Intan Payung. Sebuah nama dan panggilan yang sebenarnya masih kurang pas untuk mengungkapkan betapa cemerlangnya Zahra. Dialah bunga setaman yang sedang mekar, intan payung yang memang diincar-incar. Tak hanya aku yang jatuh hati. Hampir semua orang sekampung menaruh rasa kepadanya. Yang tua-tua pun, terutama toke-toke kawan Mamak Sidin, sudah berpuluh orang yang datang melamar. Tentu saja plus dengan janji-janji kekayaan.

Namun inilah indahnya cinta. Cinta keluarga. Tak ada pernikahan yang lebih sepadan selain menjodohkan dua bersaudara yang bukan muhrim. Ya, menikahkan bako-baki. Tepatnya menjodohkan Zahra dengan Markoni; denganku. Kami adalah dua bersaudara dekat. Namun bukan muhrim.

Bundaku dan ayah Zahra adik-beradik kandung. Satu ayah satu ibu. Hanya mereka berdua yang masih hidup. Baik di adat atau di agama, kami memang diperbolehkan menikah. Apalagi dalam tombo adat, pernikahan ini ibarat pinang kembali ke tampuk, sirih kembali ke gagang, berjodoh berbah dengan buluh, berkawan ayam dengan padi rebah, macam acek pulang ka pokuong. Darah tak akan bercampur, harta pun tak akan berbagi. Semua diuntungkan.

Dari pihak keluarga tak ada yang menolak. Semuanya sudah sepakat seperti bulatnya air di pembetung. Mamak Sidin memang menginginkanku bisa menjadi suami dari anaknya. Bundaku juga sangat berharap kalau Zahra bisa menjadi menantu yang akan menunggu rumah soko dan memelihara pusako. Kami berdua? Jangan ditanya. Walau tak pernah lidah berucap cinta, namun dua keping hati kami sudah melafalkan janji seperti aur dengan tebing; mati bersama kami berdua.

Sejak runding pernikahan ini dikacak beberapa bulan lalu, kami berdua memang menjadi buah bibir. Zahra adalah bunga setaman yang selalu jadi incaran. Aku juga tak kalah parlente. Kalau Zahra banyak yang jatuh hati kepadanya, begitu juga aku. Rencana pernikahan ini pula yang membuat banyak bujang dan gadis patah hati. Dimana-mana gunjing selalu memilih topik tentang kami. Di lepau Ngah Munaf, kedai kopi Tuk Husin, atau di pancuran pemandian, semua orang bercerita tentang kami.

Kami memang sekufu. Sepangkat. Sederajat. Walaupun banyak yang iri dan patah hati, tapi tak ada yang berani menggunjingkan hal-hal buruk. Hampir semua sepakat dengan rencana pernikahan ini. Maklum, keluarga kami memang disegani sejak lama. Mereka nampaknya cukup tahu diri.

’’Macam pinang dibelah dua,’’

’’Mamak Sidin beruntung,’’

’’Markoni juga,’’

’’Ah, itu kan perjodohan politis. Agar darah tak bercampur, harta tak berbagi. Berkawin bako-baki,’’

’’Iya ya… Tapi tak apalah. Kan semuanya sudah setuju,’’

’’Ah, andai Markoni menikah denganku,’’

’’He… siapa yang mau menikahimu... Lebih baik Markoni menikahiku. Bisa goyang sampai pagi,’’

’’Mandi basah terus tu tiap pagi?’’

’’Biar saja. Bila perlu tak keluar-keluar bilik dari pagi sampai petang,’’

’’Hahahaha….’’

Gadis-gadis di pancuran pemandian itupun tak mampu menahan tawa. Mereka bercipratan air, membasuh kulit mereka yang halus. Perempuan yang paling heboh dan mengatakan bisa goyang sampai pagi itu memang paling gatal. Pernah menikah sekali sebagai istri yang ke tiga di saat umurnya baru menginjak tiga belas tahun. Menurut cerita, suaminya yang sudah tua bangka itu mati di rumahnya, sepekan setelah mereka menikah. Sejak itu, dia memang tak menikah lagi. Sudah hampir setahun menjanda.

Aku adalah anak tunggal. Zahra juga satu-satunya anak perempuan di keluarga Mamak Sidin. Memang jumlah dan komposisi anak Mamak Sidin agak unik dan riskan. Dia punya tujuh anak. Hanya Zahra yang berjenis kelamin lain. Dia diapit oleh tiga abang dan tiga adik lelaki. Praktis, dialah nantinya yang akan menunggu rumah soko dan menjaga harta pusako. Karena tombo adat sudah menggariskan bahwa dunsanak perempuan adalah pewaris garis suku dan harta suku. Sedangkan dunsanak lelaki adalah penjaga; gawang pintu.

Sedangkan aku. Hanya seorang. Tak punya abang, adik, atau kakak. Bunda memilih tidak menikah lagi sejak ditinggalkan ayah. Praktis, tak ada yang bisa mewarisi harta. Nenekku juga perempuan satu-satunya adik-beradik. Praktis aku tak punya makcik. Atau adik sepupu yang boleh mewarisi harta. Satu-satunya keluarga dekat adalah Mamak Sidin. Itupun sudah dari rumpun keluarga agak jauh. Karena itu, aku tak mungkin membawa harta soko dan pusako ke rumah istriku. Bila itu kulakukan, berarti harta soko dan pusako akan jatuh ke tangan suku lain atau ke rumpun lain. Itu termasuk pantangan.

Namun kalau aku menikah dengan Zahra lain lagi ceritanya. Kalaupun aku bawa ke rumahnya, bukankah dia masih saudara-mara bagiku? Bagi Mamak Sidin pun begitu. Kalaupun hartanya jatuh ke tangan Zahra dan aku, dia juga tidak akan rugi apa-apa. Bukankah aku adalah kemenakannya? Yang berarti anaknya juga?

Semua hal tentang hubunganku dengan Zahra sebenarnya sudah diatur dengan baik oleh Bunda dan Mamak Sidin. Semua urusan memang sudah menjadi milik mereka berdua. Aku dan Zahra tinggal terima bersih. Tinggal menunggu hari pernikahan. Ninik-mamak pun sudah berkumpul di rumah soko. Aku, sudah diwakili langsung Mamak Sidin. Zahra, dia diwakili mamaknya pula.

Seperti yang disepakati dalam pertemuan ninik mamak dua bulan sebelum keberangkatanku ke perantauan, kami memang sudah ditunangkan. Cincin belah rotan sudah terpasang di jari manis Zahra. Ada juga gelang kesat di tangan kirinya dan sepotong tikuluk pucuk yang akan dipeluk-peluknya ketika malam sebagai penggantiku. Disepakati bahwa pernikahan akan dilaksanakan setelah menuai padi bulan pulotan. Sekitar sebulan menjelang puasa. Masih sekitar delapan bulan lagi.

Namun, itulah. Tak selamanya garis yang akan dilalui selurus dan semulus yang dibayangkan. Dua bulan setelah kami bertunangan, kabar kedatangan Belanda benar-benar menjadi mimpi buruk. Semua orang merasa sangat ketakutan. Belanda tidak hanya merampas harta pertanian warga, namun juga menangkapi orang-orang yang bisa dimanfaatkannya, terutama lelaki dewasa.

Tak ada jalan selain berangkat ke perantauan. Tekad itu sudah bulat menggumpal di dadaku. Kepada Bunda, Zahra, dan Mamak Sidin, keputusan itu aku sampaikan dengan hati-hati. Dan, Bunda memang tak mengizinkan niatku itu. Sama dengan keputusannya ketika aku meminta izin untuk berangkat merantau tahun-tahun sebelumnya.

’’Malu aku sama ayah, Bunda. Dia susah-susah berusaha, berdagang keliling negeri. Seharusnya aku juga berbuat hal yang sama,’’ kataku beberapa kali, dulu.

’’Tapi ayahmu berdagang untuk mencari makan. Sedangkan ngkau, sudah ada harta untuk makan. Takkan habis tujuh turunan kalian makan harta yang kami tinggalkan tu,’’ jawab Bunda sengit.

Bunda memang benar. Mamak Sidin juga selalu mengatakan seperti itu. Bila digabung harta Bundaku dengan harta Mamak Sidin jumlahnya sudah sangat banyak. Mamak Sidin adalah toke paling kaya di kampungku. Harta peninggalan ayahku juga lumayan banyak. Kalau itu saja bisa kami kelola dengan baik, tentu saja tujuh turunan tidak akan pernah habis.

’’Di kampung pun aku tak bisa menikah. Belanda sudah menangkap banyak orang,’’ kataku.

’’Kita mengungsi saja ke Kasang Jiyat. Belanda tak akan sampai ke sana,’’ jawab Bunda.

Alternatif yang diajukan Bunda ada benarnya. Aku memang tak harus merantau. Kalau atas alasan Belanda, sebenarnya penjajah itu bisa dihindari. Salah satunya mengungsi. Sebagian besar orang kampung memang sudah berkemas untuk mengungsi ke Kasang Jiyat. Mereka memilih meninggalkan kampung dari pada harus ditangkap Belanda. Semua harta yang mungkin dibawa, sebagian sudah diantar ke sana. Hewan ternak sudah diungsikan terlebih dulu. Rumah-rumah pondok dibangun seadanya. Sementara rumah di kampung, boleh dikata sudah kosong karena isinya sudah banyak yang diungsikan.

Kasang Jiyat adalah tempat berkasang bagi masyarakat kampung; membuka lahan pertanian baru. Lokasi itu berjarak sekitar empat jam perjalanan. Melewati hutan, melintasi celah bukit. Diperkirakan, Belanda tidak akan mau ke sana. Selain tempatnya jauh, celah bukit itu bisa menjadi ladang pembantaian bagi mereka. Karena merasa cukup aman ini pula, kepala kampung tidak mau mendatangi undangan Belanda yang diantar opas pada Jumat lalu.

’’Walau kita diserang, kita tidak akan mau tunduk kepada Belanda,’’ kata kepala kampung seusai salat Jumat di serambi masjid.

Kepala kampung tahu, memenuhi undangan Belanda sama artinya bertekuk lutut kepada penjajah. Padahal, sejak dulu kami memang sudah sepakat tidak akan pernah mau menyerah kepada Belanda. Paling tidak, tidak akan menyerah sebelum bertanding di gelanggang.

Setelah kepergian opas, kampung Mahat memang terlihat aman. Tenang. Tak ada yang perlu ditakutkan. Mungkin Belanda cukup sadar, untuk menjangkau kampung ini mereka harus melewati rintangan berat. Dengan kondisi seperti ini juga Bunda, Mamak Sidin, dan Zahra tidak menerima keputusanku merantau.

Hmm… Zahra. Aku masih belum bisa melupakan betapa matanya yang sembab karena menangis semalaman. Begitu mendapat kabar aku ingin merantau, yang dilakukannya hanyalah bersembunyi ke dalam bilik. Memurukkan wajahnya ke balik bantal. Pintu bilik dikuncinya dari dalam. Hanya sengguk tangisnya yang menyayat hati terdengar dari luar. Tangis seorang perawan yang tak pernah rela kehilangan tunangan.

Ini adalah malam kedua Zahra menggumamkan tangis. Suara sengguknya terdengar menyayat-nyayat. Dua hari ini pula dia tak keluar biliknya. Tak makan, tak mandi, dan tak mau mendengar siapapun. Ketika aku mengunjunginya, Zahra juga tak mau membukakan pintu. Yang terdengar hanyalah ratapannya yang berkepanjangan. Dibujuk dengan cara apapun, Zahra tetap berkeras tak mau kompromi.

’’Pokoknya jangan pergi!’’ teriaknya sesekali dalam senggukannya.

Wah, kalau sudah bicara soal pokoknya, berarti tidak akan ada pilihan lain.

Begitu maghrib berlalu, Mamak Sidin sengaja datang ke rumahku. Kepadaku, dia memohon supaya bisa meredam suara tangis itu. Apapun caranya. Dia juga mengkritisi sikapku yang tak mau mendengar perkataan orang tua.

’’Keras kepala! Sama ayah dengan anaknya!’’ hardik Mamak Sidin.

Aku hanya menundukkan kepala. Sebagai mamak, dia memang punya hak mendidik kemenakannya. Ini pula yang diajarkan dalam tombo adat bahwa anak dipangku kemenakan dibimbing orang sekampung dipatenggangkan. Seorang mamak harus mengasuh anaknya, memerhatikan kemenakannya, dan bertenggang rasa dengan orang-orang di kampungnya.

Sepulang Mamak Sidin, aku bergegas memarut belah bambu, menghubungkannya dengan sepotong bambu seukuran ibu jari. Lalu, dengan teknik penyelipan, aku menghubungkan keduanya. Bilah bambu itu kini dikaitkan dengan sebuah karet gelang; kojai. Dan, jadilah genggong; sebuah alat musik tiup. Bunyinya mirip rebab, tapi sedikit agak sumbang. Biasanya digunakan seorang lelaki untuk merayu kekasihnya.

Dari balik jendela kamar Zahra di sisi kanan rumah, genggong itu menghasilkan suara cukup jelas. Iramanya menelusup melalui celah-celah dinding kayu, masuk ke gendang pendengaran Zahra. Sebuah melodi cinta yang ditiup lelaki yang sangat merindukan tunangannya. Melodi yang mampu menggetarkan hati Zahra, meredam tangisnya, membuat air mata kering di pipinya yang tirus, dan mengundangnya datang ke balik jendela. Zahra pun membuka jendela, menyibakkan gorden merah muda.

’’Mengapa sampai hati, Bang? Apa tak ada cara lain untuk membunuh Za selain perpisahan ini?’’

Dua kalimat setelah dua hari berkabung. Tapi dua kalimat itu terasa sangat panjang. Kata-kata itu telah berhasil melemparkanku ke ngarai terdalam dan membuatku tak mampu memberikan sepatah jawaban.

Lama diam. Hanya hening mencekam malam. Lamat-lamat, lampu pelita togok di sudut kamarnya menjilat-jilat kelam.

’’Zahra, abang juga tak menghendaki ini. Tapi terlalu banyak alasan untuk melakukannya,’’

’’Tapi itu ‘kan alasan yang Abang buat-buat. Semua orang punya alasan untuk melakukan apapun. Untuk pergi Abang punya alasan. Seharusnya untuk tetap tinggal di sini Abang juga harus punya alasan,’’ katanya sengit.

Zahra sudah dewasa. Itu yang kurasakan sejak pertunangan dulu. Dia lebih pandai bercakap, menyampaikan hujah, dan mengungkapkan perasaan.

Zahra benar. Seharusnya aku juga punya alasan untuk tidak pergi sebagaimana aku punya alasan untuk berangkat. Dan Zahra adalah alasan yang paling utama, selain Bunda dan kampung halaman ini.

’’Za tak percaya Abang pergi hanya karena alasan Belanda. Pasti ada alasan lain. Abang tak sayang lagi sama Za ‘kan?’’

Kali ini suaranya agak meninggi. Walau menghukum, tapi kalimat-kalimat itu bermuatan rajuk.

’’Siapa yang tak sayang ke Zahra?’’

’’Abang! Buktinya Abang akan tinggalkan Za,’’ potongnya cepat.

’’Bukan meninggalkan. Tapi pergi untuk sementara. Namanya juga merantau,’’

’’Sama saja. Meninggalkan atau pergi sementara, tetap saja artinya berpisah dengan Za,’’ sungutnya lagi.

Sulit memberikan pengertian kepada seseorang yang sedang diamuk emosi. Zahra tak mau mendengarkan kalimat-kalimatku. Dia tak mau memercayai apapun yang terlontar dari mulutku.

Lama hening.

Zahra memalingkan muka, menyurukkan wajahnya ke balik gorden merah muda. Kupandangi juntai rambutnya yang mengkilat disaput warna pelita. Kucoba membelainya, menenangkan hatinya yang gundah. Secara perlahan dia merengkuh lenganku, membawanya ke dalam pelukannya yang erat. Tak pernah dia berbuat seperti ini. Berjabat tangan saja, belum pernah kami lakukan selama ini. Tapi kini, dia memeluk lenganku. Menyandarkan pipinya yang pipih di tegap batang lenganku. Aku terhanyut, tak menyangka kalau Zahra akan berbuat seperti itu. Aku hanya mencoba mengatur degup jantungku. Mengumpulkan remang-remang cinta untuk kemudian dibungkus dalam kain kasih sayang. Perlahan, helai-helai mayang itu bergerak ditiup angin malam. Menyentuh bibirku. Terkadang menampar-nampar rahangku.

Tak lama bisa kunikmati kedekatanku dengan Zahra malam itu. Sebab, tiba-tiba di ujung kelam terdengar hiruk-pikuk orang. Suasana yang tadi penuh bungkam, tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang mencekam. Rupanya, mimpi buruk atas kedatangan Belanda kini benar-benar sudah menjadi sesuatu yang nyata. Tiba-tiba saja, rentetan suara senapan lantak, derap langkah sepatu dari kejauhan, dan orang-orang yang berlarian, menjadikan kampung Mahat sebuah panggung drama yang menghadirkan cerita tragis. Beberapa warga sudah rubuh diterjang peluru. Jerit orang-orang di ujung nyawa benar-benar telah membuat malam kelam jadi sangat menakutkan.

’’Zahraaa…’’

Teriakan itu milik Mamak Sidin.

Zahra yang memang sedari tadi memeluk erat lenganku. Berlari menemui ayahnya. Aku juga menyusul lewat pintu depan.

’’Kita harus pergi sekarang. Cepat jemput Bundamu,’’ kata Mamak Sidin kepadaku.

Belum sempat aku melangkah, Bunda ternyata sudah ada di tangga rumah. Wajahnya terlihat pucat pasi.

’’Ayo berangkat sekarang,’’ kata Mamak Sidin.

Kami bergegas. Namun jalan besar kampung sudah dikuasai Belanda. Dari kejauhan terdengar teriakan-teriakan mereka. Kami memilih jalan setapak di belakang rumah, menerabas kebun pisang, selanjutnya menjauhi jalan utama untuk bisa mencapai jalan setapak menuju Kasang Jiyat.

Di ujung jalan, tepat di mana celah bukit berada, terlihat berpuluh orang sedang berkumpul. Lengkap dengan bekal masing-masing seadanya. Mereka istirahat melepas lelah setelah lari dalam ketakutan. Zahra, yang sedari tadi tak mau melepas pegangannya dari lenganku, baru menyadari banyak bagian kakinya yang luka. Telapak kakinya dipenuhi duri yang menancap karena di tengah perjalanan terompahnya tercecer. Beberapa bagian betis putihnya yang tersayat entah oleh apa nampak mengeluarkan darah. Dia nampak meringis kesakitan. Aku sebenarnya ingin menikmati tunjang putih itu. Tapi melihatnya dalam ringis yang panjang, aku hanya bisa menatap iba.

Kepala kampung sudah mengatur strategi sejak lama. Celah bukit ini adalah pertahanan bagi pengungsi di Kasang Jiyat. Maka diambil kesimpulan, semua penduduk lelaki yang masih bertenaga, disuruh berjaga-jaga di sini. Sedangkan kaum perempuan, anak-anak, dan orang-orang yang sudah tua, dimobilisasi berangkat ke Kasang Jiyat yang jaraknya tinggal satu setengah jam perjalanan.

Celah bukit. Inilah gerbang terakhir bagiku untuk melihat Zahra. Intan payung itu akan segera menghilang di balik gundukan raksasa itu untuk pergi bersama kelompok kaum perempuan. Sedangkan aku, Mamak Sidin, dan sekitar empat puluh lelaki dewasa, harus tinggal di sini.

’’Akhirnya kita berpisah juga,’’ kataku.

Zahra menangis. Dia masih memeluk lenganku. Dia tak memedulikan sebagian besar orang yang sudah berangkat. Bunda yang berada tak jauh dari sisinya, masih diam dalam kelamnya malam.

’’Besok pagi Abang sudah harus sampai di suduong,’’

’’Kalau dibolehkan kepala kampung, abang akan sampai di sana sebelum matahari tinggi,’’ kataku.

’’Izin tak izin, Abang harus sampai di sana. Kalau tidak…’’

Zahra tak melanjutkan kata-katanya. Matanya tajam menatapku. Hening sesaat mengundang mataku untuk menjelajah celah hitam matanya.

’’Za tak akan pernah menikah kalau tak dengan Abang,’’

Aku tak sempat menjawab. Zahra sudah ditarik Bunda untuk berangkat dengan rombongan terakhir. Dia tak lagi menoleh ke arahku. Yang bisa kulihat hanyalah lenggok pinggulnya di tengah temaram.

’’O… Zahra, aku akan merindukan pinggul yang melambai itu selamanya. Izinkan aku untuk melihatnya lagi dalam waktu lama,’’

’’Tuan-tuan…’’

Suara itu menyadarkanku. Kepala kampung sudah dikelilingi para lelaki dewasa.

’’Kita cukup berjaga-jaga di sini. Hanya saja, ada beberapa orang yang ditugaskan untuk kembali ke kampung. Mungkin sekitar sepuluh orang. Ada laporan yang mengatakan beberapa penduduk masih tertinggal. Jadi yang sepuluh orang ini harus ke sana menyeludup. Jangan sampai ketahuan,’’ kata kepala kampung.

Dari sepuluh orang itu, aku adalah salah satunya. Aku tak bisa mengelak, dan memang seharusnya tidak mengelak.

’’Kalau ada apa-apa, bunyikan oguong ini. Biar kami bisa menolong,’’ kata kepala kampung. Menurut kepala kampung, orang Belanda takut dengan suara oguong. Paling tidak, mereka tidak bisa semena-mena.

Kami pun berangkat dengan hati was-was. Sedapat mungkin kami menghindari jalan. Semak belukar, kebun-kebun yang ditinggalkan, atau kebun-kebun pisang menjadi jalur alternatif yang kami lalui.

Setengah jam, kami sudah sampai di tepi kampung. Sebuah rumah papan yang sudah tua tinggal beberapa depa. Di sana, sebut kepala desa tadi, masih tertinggal seorang lelaki usia lanjut. Kami bertugas membawanya ke pengungsian.

Aku coba menyelinap. Dari rerimbunan batang pisang, aku merunduk dan menyuruk ke rindang rumpun serai. Aman. Tak ada tanda-tanda Belanda di sana. Tiga temanku juga bergerak, berusaha mencapai sudut rumah papan itu.

Namun baru beberapa langkah pekarangan rumah kami masuki, mendadak derap sepatu memenuhi gendang telingaku. Ada Belanda yang datang. Aku menggigil. Benar-benar takut dan cemas. Mereka sangat dekat dengan tempat kami bersembunyi. Teriakan mengumpat terdengar jelas. Beberapa orang terdengar berteriak satu bahasa dengan kami. Rupanya, seperti kata kepala kampung, orang-orang itu adalah pengkhianat bangsa. Mereka bergabung dengan Belanda setelah mendapat bayaran tinggi.

’’Menyerahlah Tuan. Mereka pakai senapan, kita tidak. Tuan-tuan pasti tidak akan dibunuh,’’ suara pengkhianat itu terdengar jelas.

’’Koni, pukul oguongnya. Biar orang kampung menolong kita,’’ bisik Leman yang sudah terkencing-kencing dari tadi.

’’Nanti dia tahu tempat kita,’’ sahutku.

’’Mereka pasti akan tahu. Pukul saja sekarang,’’ katanya.

Aku terdiam.

Namun Leman nampaknya kehabisan akal. Pemukul gong yang ada di tanganku direbutnya. Sejurus kemudian bunyi gong bertalu-talu, memekik di penghujung malam.

Tar… tar… tar…

Sederet tembakan senapan lantak ikut memecah malam. Salah satunya hinggap setengah jengkal di atas kepalaku. Batang pisang yang kujadikan tempat bersandar bergetar dihantam peluru.

’’Ampun Tuan… kami menyerah…’’***

Poro

Namanya Ngonga. Pria bertubuh pendek itu biasa dipanggil Tuanku, sebuah sebutan untuk seorang Raja Kecil. Dia memang seorang Raja Kecil dari Kerajaan Pagaruyung. Wilayah tugasnya adalah di Poro, sebuah kawasan paling timur kerajaan Minangkabau itu. Sebelum ke Poro, Raja Ngonga sebelumnya adalah Raja Kecil di wilayah XIII Koto Kampar. Namun karena dinilai tidak berhasil, zhalim, dan tidak disukai orang banyak, akhirnya dia dipindahkan ke Poro.

Ketika datang ke Poro, Ngonga membangun istana kecil di muara Sungai Tombang. Di sana dia menjalankan pemerintahannya sekaligus membuka lahan. Sungai yang airnya hitam namun dipenuhi ikan-ikan ini, merupakan salah satu urat nadi kehidupan masyarakat. Di sanalah masyarakat mencari ikan untuk sumber penghidupan. Di sepanjang aliran sungai ini pula masyarakat membuka lahan untuk peladangan.

Namun kemudian Tuanku Ngonga lebih memilih menyeberang ke muara Sungai Poro. Di sanalah dia membangun istana yang lebih baik. Di sana pula dia menghabiskan masa tuanya. Memerintah, beranak pinak, dan akhirnya meninggal. Kedua sungai ini, Sungai Tombang dan Sungai Poro, bermuara langsung ke Sungai Kampar.

Oleh rakyat, Tuanku Ngonga dikenal sakti. Tubuhnya yang kecil tidak membuat rakyat mengecilkan keberadaanya. Salah satu kesaktiannya itu bisa dilihat dari caranya berbicara. Suaranya besar dan menggelegar, tak sepantaran dengan tubuhnya yang kecil. Kalau dia memberi perintah atau sedang marah di istana, suaranya bisa menggema hingga ke seluruh ceruk kampung dan tanjung. Melaung. Kalau tak terbiasa mendengarnya, orang dewasa saja bisa terberak air.

Tuanku Ngonga juga punya pengawal banyak. Semuanya dipersenjatai keris beracun, ilmu kebal, dan ilmu perdukunan lainnya. Para pengawal ini pula yang menjaga kerajaannya sehingga ditakuti. Di istananya, juga tersimpan peralatan perang, termasuk lelo botuik, yaitu meriam kecil yang mampu memuntahkan peluru dalam jarak cukup jauh. Angkatan perangnya ini siap bertempur bila suatu saat Belanda dating. Semasa pemerintahannya, Belanda tak pernah menyentuh Poro. Entah karena takut, atau mungkin juga karena Poro tidak termasuk dalam agenda taklukan kaum penjajah itu.

Karena kesaktian dan kekuatan ini pula, Tuanku Ngonga jadi pongah. Sama dengan di Kenegerian XIII Koto Kampar, di Poro pun Tuanku Ngonga semakin menunjukkan sifat dan sikap aslinya. Dia kasar, keras, dan suka membuat peraturan yang memberatkan rakyatnya. Tuanku Ngonga juga menjadi tirani yang tak bisa dilawan. Karena kekuasaannya itu juga, Tuanku Ngonga jadi kemaruk. Tak boleh ada yang lebih berada dibanding dia. Dia juga tidak segan-segan menyita harta orang untuk menambah kekayaannya secara pribadi dan menetapkan pajak yang memberatkan.

Tuanku Ngonga yang berumah di bibir sungai, juga ditakuti orang-orang yang hilir mudik menggunakan sampan. Sebagai alur transportasi, Sungai Kampar memang selalu ramai dilayari. Dari hilir masyarakat membawa hasil pertanian untuk dijual ke pasar di Kampung Lintang, sekitar satu jam berkayuh ke mudik, dan bagi yang dari pasar selalu membawa bahan keperluan pokok untuk kehidupan selama sepekan. Dan, posisi istana Poro memang strategis. Semua orang harus melewati jalur ini.

Menyadari tempatnya sangat strategis, Tuanku Ngonga menetapkan peraturan ketat. Bila memudikkan sampan membawa hasil alam untuk dijual di pasar, orang-orang harus mengambil jalur tengah sungai. Menentang arus. Bila ingin menghilir, baru boleh mengambil alur pinggir sungai. Ini sangat menyiksa. Bagi Raja Ngonga, tentu ini sangat menguntungkan. Baginya, kebijakan memudik atau menghilirkan sampan agar sampan yang dikemudikan tidak menimbulkan gelombang. Karena bila gelombang sampan membuat batang teberau berombak, alamat sampan itu akan ditangkap, dindingnya dipakuk, dan isinya disita. Sungguh-sungguh menyiksa.

Tuanku Ngonga juga terkenal mempunyai banyak toman, yaitu orang-orang yang tergadai dan dipekerjakan sebagai budak di rumah dan perladangannya. Para toman itu didapatnya dari bisnis riba yang dijalankannya. Dia memang sering meminjamkan atau mengutangkan sesuatu kepada rakyatnya. Namun dia juga memberikan persyaratan ketat dan sangat mencekik. Bila si peminjam atau penghutang tidak dapat membayar dalam waktu yang ditentukan, maka alamatlah si rakyat itu menjadi toman di rumahnya. Maka tak heran, di boma istana; yaitu kolong rumah panggungnya yang besar, akan terdapat banyak perempuan dan ayunan anaknya. Mereka adalah toman sang Tuanku Ngonga.

Sebagai penguasa, Tuanku Ngonga juga berprofesi sebagai pengusaha. Dia menjalankan bisnis pemeliharaan kerbau. Hewan jinak yang dimiliki Tuanku Ngonga itu sungguh banyak. Beratus-ratus ekor. Padang rumput untuk penggembalaannya mancapai tiga pulau sungai. Bagaimana dia mendapatkan kerbau sebanyak ini? Ternyata, Tuanku Ngonga cerdik busuk. Dia membuat peraturan, setiap kampung harus memelihara kerbau. Dia biasanya menyerahkan ternaknya untuk digembalakan dengan system kongsi. Biasanya sepuluh ekor. Namun dia punya peraturan, tiap tahun dia akan meminta kerbau 10 ekor hasil penggembalaan itu. Tak peduli, apakah kerbau itu beranak atau tidak, apakah mati atau tidak. Yang penting, para algojonya akan mengambil kerbau yang paling gemuk di sebuah kampung sebanyak 10 ekor setiap tahunnya. Kerbau siapapun itu.

Karena sifat Tuanku Ngonga yang zhalim itu, akhirnya rakyat membenci sepenuh hati. Bukan hanya rakyat, para pengawal dan benda pusakanya juga berangsur-angsur meninggalkannya. Salah satunya adalah tabuh yang selalu diletakkan di bagian depan istananya. Tabuh besar yang selalu digunakannya untuk mengumpulkan rakyat hilang secara gaib pada suatu malam. Menurut cerita yang beredar, tabuh itu menyeberang sungai, mendaki tebing, menuju Bencah Binguong, serta hilang secara gaib di sana. Jalur yang ditempuh tabuh itu masih menyisakan ceruk, membentuk sebuah sungai kecil yang berpuluh-puluh tahun kemudian tidak pernah hilang. Tabuh yang kemudian diberi nama Tabuh Lului karena berhasil meloloskan diri itu, sesekali menampakkan diri, atau paling tidak mengeluarkan bunyi. Bila dia berbunyi, itu menandakan dua kemungkinan. Kalau tidak ada orang yang akan meninggal, berarti akan ada ampuo, yaitu banjir besar yang akan merendam semua perkampungan.

Tuanku Ngonga memang tidak terlalu lama memerintah. Apalagi, belakangan diketahui bahwa dia ditunjuk sebagai Raja Kecil bukan atas sebuah anugerah, melainkan sebuah hukuman atas kesalahannya di masa lalu. Stempel kerajaan yang dipegangnya, belakangan diketahui tidak didapat dengan jalan yang benar. Menurut cerita, ketika dia akan dipindahkan Raja Pagaruyung dari XIII Koto Kampar, stempel itu tidak diserahkannya, melainkan dilarikannya ke Poro.

Proses pemindahan Tuanku Ngonga ke Poro, sebenarnya berlangsung unik. Di satu sisi, Tuanku Ngonga adalah orang sakti. Tak mudah bagi Raja Pagaruyung untuk memindahkannya. Namun kemudian, Sang Raja mendapatkan akal. Dia sangat yakin, kesaktian Tuanku Ngonga tidak berbanding dengan pola pikirnya. Tuanku Ngonga terbilang bodoh. Walau dia kaya dan berkuasa, untuk urusan hitung-berhitung, dia sering kali bisa ditipu daya.

Ya, seperti proses pemindahannya ke Poro, Tuanku Ngonga tertipu dengan janji politik daun sawi berbunga emas. Menurut orang-orang kepadanya, di Poro, daun sawi yang biasa dijadikan ulam, berbunga emas.

Tentu saja ini menjadi daya tarik kepadanya. Kalau sawi saja berbunga emas, bagaimana dengan yang lain. Dia pasti bisa menjadi sangat kaya.

Padahal, sawi memang berbunga kuning, tapi bukan emas.

Karena zhalim itu pula, akhirnya Kerajaan Poro tidak berlanjut. Kematian Tuanku Ngonga membuat kerajaan kecil ini runtuh. Raja Pagaruyung tidak mengirimkan raja baru untuk wilayah ini. Istana Raja Poro juga dibiarkan terlantar begitu saja. Menjadi rumah tua, rumah lapuk. Rakyat nampaknya sangat senang karena orang yang lebih banyak menyusahkan dibanding membawa manfaat itu, sudah meninggal.

***

Aku adalah anak seorang toman Tuanku Ngonga. Dulu, omakku pernah tinggal di boma istana Raja Poro itu. Ketika itu dia masih gadis tanggung. Selama empat bulan omak dan datukku tinggal di boma istana itu. Mereka menjadi toman karena datukku tidak mampu membayar utang yang berlipat-lipat. Sebenarnya utang itu tidak terlalu banyak. Harta datukku juga cukup untuk membayarnya. Namun dengan kecerdikan dan kekuasaanya, Tuanku Ngonga berhasil memperdayai datukku.

Belakangan diketahui, Tuanku Ngonga ternyata ingin memperistri omakku. Entah sebagai istri yang keberapa. Karena menurut cerita, Tuanku Ngonga memang paling suka mengambil daun muda untuk dijadikan sebagai istrinya. Namun omak tak habis akal. Tiga hari sebelum malam ijab-qabul, dia mengoleskan getah batang jelutung di pangkal pahanya. Tentu saja pangkal paha omakku yang sebelumnya mulus, kini ditumbuhi kadas. Gatal. Bernanah. Berair. Memerah. Tuanku Ngonga pun akhirnya tak sudi mencampuri omak, walaupun sempat dinikahinya.

Dua bulan setelah kejadian itu, Tuanku Ngonga meninggal karena terserang penyakit aneh. Badannya panas tinggi. Tubuhnya bergetar hebat. Tiang rumah istana pun bergoyang akibat getaran tubuhnya. Ketika dia menjemput sakaratul maut, sebuah bungkahan sebesar telur ayam bergerak turun-naik dan kadang bergerak liar di dalam perutnya. Bungkahan itu keras seperti batu. Persis beberapa detik sebelum dia meninggal, bungkahan sebesar telur ayam itu terlepas menembus perutnya, berdenting, terpelanting menembus salang rumah, menghantam kuda-kuda atap, sampai menembus atap untuk kemudian hilang entah kemana.

Kadas batang jelutung di pangkal paha omak akhirnya sembuh. Tak lama kemudian, seorang lelaki dari Kenegerian XIII Koto Kampar kemudian berjodoh dengan omak. Namun pernikahan itu tidak berlangsung lama. Kebahagiaan yang dikenyam omak tak lebih dari setahun. Ketika melahirkanku; Siti Jailawa, dia meninggal karena kehabisan darah. Penderitaan itu tak cukup sampai di situ. Ayah yang menurut cerita sangat menyayangiku, harus menyerah akibat serangan penyakit cacar. Dia meninggal ketika umurku belum genap satu tahun. Selanjutnya aku dikasuh Mamakku; Daud.

***

Poro, 20 tahun kemudian. Tahun 1941.

Tempat ini adalah base camp dan menjadi kawasan terakhir yang tidak terjangkau penjajah Belanda. Dari Siak dan Bengkalis di bagian timur, Belanda sudah berhasil menyusuri Sungai Siak hingga ke Senapelan, Minas, dan kawasan sekitarnya. Sedangkan dari Bukittinggi di bagian barat, pasukan berkulit putih itu sudah melewati Payakumbuh, Salo, sampai Bangkinang. Dengan begitu, Kenegerian Poro berada di tengah. Masing-masing pos garis terdepan Belanda tinggal hanya sekitar 40 kilometer saja.

Tapi entah mengapa, mereka tak kunjung sampai ke Poro. Padahal, kenegerian ini mestinya menjadi incaran utama. Sebab, hampir semua pelarian dari kamp-kamp pengungsi yang diciptakan Belanda, kini memilih Poro sebagai tempat mencari selamat. Mereka menyebar ke beberapa kampung di Poro, terutama di Kampung Lintang yang merupakan pusat pertumbuhan baru Kenegerian Poro. Di sana ada pasar dan jalan lintas antara Bangkinang dan Senapelan. Jalan lintas ini sangat strategis dan baru dibangun sepuluh tahun terakhir. Sebuah rakit kayu juga siap menyeberangkan orang dari Poluong ke Kampung Terendam, kampung sebelah Kampung Lintang.

Kenegerian Poro yang sebelumnya paling ramai di muara Sungai Poro, akhir-akhir ini perlahan namun pasti berpindah ke Kampung Lintang, Kampung Terendam, dan juga Danau Bingkuang. Ketiga kawasan ini tak jauh dari muara Sungai Tombang. Nama Poro pun perlahan mulai hilang. Nama Tombang pun kemudian mulai bersinar. Sesekali, orang-orang menyebut Kenegerian Poro ini sebagai Kenegerian Tombang. Danau Bingkuang pun perlahan menjadi pasar, tempat para pedagang bertemu, tempat orang berjual beli.

Hampir setiap hari, ada-ada saja orang-orang baru ditemukan di pasar Danau. Mereka pun tak malu mengaku sebagai pelarian. Bahkan, status pelarian malah bisa jadi sebuah kebanggaan; seperti pahlawan perang. Atau, mungkin karena di sini banyak pelarian, yang juga bisa berarti bagian pasukan gerilya, sehingga membuat Belanda ngeri mendatanginya?

Di antara sekian banyak pelarian itu, tersebutlah seorang pria yang masih muda. Dia cepat mendapat tempat di hati masyarakat. Tutur kata, adab, dan sopan-santunnya banyak yang memuji. Dia juga rajin dan menunjukkan bakat sebagai seorang pedagang yang berhasil. Pertama datang hanya tidur di lapak-lapak pasar, namun kemudian membantu-bantu pedagang berjualan. Beberapa bulan kemudian, dia kelihatan berdagang sendiri. Menjual ikan-ikan sungai yang sebagian dicarinya sendiri. Entah karena pelayanannya yang ramah, dagangannya sering habis sebelum matahari meninggi.

Awalnya, aku tak begitu mengenal dia. Lagi pula, bagi janda sepertiku memang tak baik bila terlalu berdekatan dengannya. Maklum, status janda membuat seorang perempuan jadi serba susah. Berbuat baik saja dianggap jelek, apalagi berbuat buruk. Terpandang ke laki orang saja disebut menggatal, apalagi bermain cinta dengan bujang-bujang. Miang, kata orang. Nasib janda memang serba susah. Mati pajak. Ya, kalaupun akan menikah lagi, aku dan rekan-rekan yang senasib denganku hanya layak berjodoh dengan datuk-datuk kematian bini atau siap berstatus sebagai bini keempat, atau malah kedelapan.

Lelaki itu, dari orang-orang kudengar, namanya Markoni. Dia berasal dari sebuah negeri di atas awan. Awalnya datang ke Poro dengan status pelarian dari kamp tawanan Belanda di Salo. Kamp Salo ini menjadi tempat yang paling menakutkan. Di sini banyak orang Indonesia yang mati. Bahkan, konon di sana juga ada pertunjukan tonil; yaitu drama kematian orang-orang Indonesia. Setiap hari, ada-ada saja orang yang mati. Tidak bisa didata seberapa banyak orang yang sudah meninggal di sana karena setiap yang mati itu hanya dilemparkan saja ke dalam sebuah lubang yang menjadi tempat kuburan massal.

Siapa yang akan mati hari itu juga tidak bisa dipastikan. Jangankan melawan, karena berkurap saja bisa membawa seseorang masuk dalam daftar yang harus dibunuh. Bagi yang mendapat jatah mati hari itu, biasanya ditangkap, ditelanjangi, diikat, dan diceburkan ke sebuah kolam penuh lintah. Setengah jam kemudian, sang calon almarhum itu baru diangkat ke permukaan. Ditonton beramai-ramai. Tubuh kurus mereka biasanya berubah warna; menghitam. Bukan karena daki atau keruh air, melainkan di sana sudah ada ribuan lintah yang sudah menggembung kekenyangan. Ada yang menempel di kelopak mata, ada pula yang makan di belakang telinga. Di perut, atau di paha, atau bahkan di kemaluan, lintah itu sudah membuntal. Gemuk kekenyangan.

Tak ada yang mampu melepas lintah-lintah itu dari tubuh sang calon almarhum. Bahkan, calon almarhum itu sendiri, juga tak kuasa melepasnya. Selain karena tangan terikat, jumlahnya juga ribuan ekor. Tak ada yang bisa dilakukannya selain meraung, bergolek, menghempaskan diri, sampai akhirnya lemas untuk kemudian menjemput ajal. Inilah yang disebut tonil oleh Belanda; sebuah panggung nyata tentang pembunuhan masyarakat pribumi. Biasanya, mereka menonton beramai-ramai, menjelang petang. Untuk menimbulkan efek jera dan rasa takut, semua tahanan diwajibkan menonton kematian saudaranya sendiri.

Tentang Markoni sendiri tidak terlalu banyak yang aku ketahui. Apakah dia pernah disiksa, dimasukkan ke dalam kolam lintah, atau lainnya, aku tak tahu. Namun pertemuan demi pertemuan di pasar, ketika aku sering berbelanja ikan sungai kepadanya, ketika kuperhatikan lebih dalam ke kelam bola matanya, ketika kuhirup angin sisa nafasnya, membuatku mengenal sosok yang secara perlahan mampu mengisi sebuah ruang di relung hatiku. Sebuah relung yang selama ini masih sangat kelam tak berpenghuni. Markoni telah berhasil menyita perhatianku secara penuh. Membuatku lebih bergairah untuk datang ke pasar. Bukan sekadar ingin berbelanja, tapi juga ingin berjumpa dengannya, menatap kelam bola matanya, menghitung jemarinya yang keras dan kasar. Huh, akhirnya kumenemukan seseorang saat hatiku mulai merapuh, saat raga ini ingin berlabuh. Sejujurnya aku sangat senang mengenali sosok seperti Markoni.

Umur Markoni tak beda jauh denganku. Aku hanya lebih tua dua tahun. Karena itu pula dia selalu memanggilku dengan ucapan ’’Kak’’ atau ’’Kakak’’. Tapi untuk basa-basi, aku tak pernah memanggilnya tanpa embel-embel ’’Abang’’. Nampaknya dia senang dengan panggilan itu, walaupun pada awalnya dia menolak.

Karena tutur kata yang sopan itu pula, aku tak segan-segan menerimanya bila bertamu ke rumah. Paling tidak, teh manis selalu kuhidangkan. Soal berkunjung ini, memang sering dia lakukan di awal-awal dia datang. Bila tak mencari ikan ke sungai atau berjualan di pasar, dia sering berkunjung ke rumahku, dan tetangga yang lain. Di antara banyak pendatang baru, Markoni paling cepat membaur dengan masyarakat di Poro. Ini mungkin disebabkan dia memang pandai membawa diri. Dia juga pandai bercerita. Tutur katanya runut dan lembut. Bahasanya lancar dan tak ada kalimat-kalimat kurang ajar. Bahkan, bagiku dia teramat santun untuk ukuran anak muda seperti dia.

Karena kesantunan itu pula, persis sebulan setelah sampai di Poro, dia pulang dunsanak alias mendapat orang tua angkat. Dia pulang dunsanak kepada istri Ongku Mudo Dulah, seseorang yang kami tuakan dan hormati di kampung. Sukunya asli sebenarnya Patopang, namun di sini dia mengambil suku Piliang, suku istri Ongku Mudo Dulah. Ketika kutanya mengapa tak pilih Piliang saja, dia punya alas an yang cukup logis.

’’Bukan tak ingin memakai suku lama di kampong. Tapi, keluarga Ongku Mudo sudah seperti keluarga sendiri. Biarlah kini aku kuning dek kunyit, lomak dek santan, yang penting komunikasi jadi lancar dengan keluarga baru,’’ katanya.

Kalau berpindah suku, memang ada risikonya. Bila dia pulang dunsanak ke suku lain, maka dalam pepatah petitih dia akan disebut kuning dek kunyit, lomak dek santan. Tidak asli. Dia juga tidak bisa ditabalkan sebagai pucuk adat tertinggi. Beda dengan bila dia pulang dunsanak ke suku asli di kampungnya, maka dia disebut macam acek pulang ka pokuong; memang sudah layaknya begitu.

Kebetulan, rumah Ongku Mudo itu hanya dipisahkan empat rumah dari rumahku. Jadi aku atau Markoni punya kesempatan untuk sering berjumpa.

’’Anak dagang memang harus banyak kenalan. Kalau tidak, bisa mati tak makan. Iya kan, Kak?’’ katanya kalau aku sudah menghidangkan makanan kepadanya.

’’Pandai betul Abang ni,’’ kataku sambil mengangguk. Tak lupa, bersama anggukan itu kukirim juga sebaris senyum sebagai hadiah tambahan.

Dia selalu salah tingkah bila ditampar senyumku, walaupun itu sudah sering kulakukan. Biasanya dia hanya bisa membuang muka. Tapi sekali-sekali, dia juga bisa memerangkap senyumku dengan senyum khasnya.

Ups! Tunggu dulu. Dulu, aku tak menyangka bisa menghadiahkan senyum kepada lelaki semacam dia. Apalagi sebuah senyuman spesial. Tak biasanya aku berbuat seperti itu kepada seseorang lelaki. Aku termasuk seorang yang pelit untuk urusan itu. Aku juga sadar, mengobral senyum memang tidak baik dilakukan seorang janda. Lagi pula, senyum janda selalu diartikan dengan konotasi negatif. Mungkin karena terkesan mahal dan jarang didapat itu pula, banyak lelaki yang mengharapkan hadiah spesial seperti itu.

Tapi, untuk Markoni lain. Aku tak bisa menahan sesungging senyum ini melompat dari katup bibirku setiap kali berjumpa dengannya. Kalau boleh, senyumku akan mengalir seperti Sungai Kampar apabila aku berjumpa dengannya. Tidak berhenti. Dalam.

Sebuah senyum spesial? Hmmm… aku senang bila kata spesial itu diganti dengan penuh harap. Akupun, sebenarnya, masih bingung dengan kata harap itu. Takut kalau harapan itu tidak terkabul. Lagi pula, harapanku terhadap Markoni sungguh terlalu tinggi, seperti tidak akan pernah terjangkau olehku. Markoni seperti berada di sebuah puncak bumi, sedangkan aku tergeletak di palung yang maha dalam. Maklum, status janda selalu menjadi palang pintu yang sangat kukuh. Membuatku selalu rikuh.

Dalam setiap kunjungannya, Markoni banyak bercerita tentang negerinya yang dibungkus awan. Padi yang menguning, air dari gunung yang gemericik, dan orang-orang yang hidup sangat damai. Dia juga bercerita tentang Bunda, sesosok perempuan yang telah melahirkan, membesarkan, dan sangat menyayanginya. Aku sering cemburu bila dia bercerita tentang perempuan itu. Bukan tak suka. Bukan pula karena aku tak pernah mendapatkan kasih saying dari seorang bunda. Tapi aku sangat ingin bisa menggantikan posisi perempuan itu di hatinya. Aku ingin menyayangi Markoni seperti perempuan itu bisa menyayanginya. Aku ingin memiliki hati Markoni seperti perempuan itu memilikinya.

Tapi, bagaimana caranya? Bukankah aku tak pernah mengenal sosok seorang bunda? Seperti apakah sikap seorang bunda terhadap anak yang disayanginya? Tapi, sudahlah. Aku memang tidak ingin menjadi bunda Markoni. Aku ingin menjadi seseorang yang lebih dari itu baginya.

Markoni memang pandai bercerita. Apalagi kalau dia bercerita tentang penangkapannya, pelariannya, dan sesuatu yang berhubungan dengan petualangannya. Aku paling suka bila dia bercerita tentang pengungsian. Entah mengapa. Mungkin karena dia pernah menghabiskan waktu empat bulan di kamp tawanan di Salo.

Dari Markoni-lah aku bisa mengenali kamp pengungsi di Salo. Dari dia juga aku mendapat cerita tentang penyiksaan lintah buntal itu. Tapi jujur saja, aku takut kalau dia sudah bercerita tentang lintah buntal itu. Membuatku jijik dan bergidik. Aku tak bisa membayangkan kalau seorang Markoni digigit lintah dalam jumlah banyak, pasti aku takkan pernah berjumpa dengannya.

’’Ya Allah, jangan sampai dia tercebur ke kolam lintah itu. Kalau itu harus terjadi, biar kubunuh semua orang Belanda itu dengan kayu pitanak di belakang rumahku.’’

***

Sudah dua hari ini, Markoni tidak ke rumahku. Goreng pisang batu yang kubuat pagi tadi nampak sudah layu. Nasi yang kutanak di dandang, goreng ikan selais, dan sambal sobo dengan ikan bujuok yang dipanggang bulat masih tak tersentuh di dalam tudung saji. Tak ada yang hendak menyentuhnya. Tidak juga aku. Sejak pagi, memang belum ada yang menyentuh pangkal tekakku. Aku sudah berjanji akan makan bersama Markoni yang juga berjanji akan datang ke rumah setelah shalat Jumat hari ini. Hidangan spesial itu merupakan pesanan darinya.

Hari sudah menjelang petang. Bayang-bayang sudah memanjang. Tapi langkah kaki dan dehem khas Markoni tak juga menyapa rumahku. Beberapa kali aku bolak-balik antara dapur dan pintu depan. Kadang kuhempaskan juga batang tubuh ini ke tilam yang masih empuk di kamar tengah. Bila ada suara orang lewat di jalan depan rumah, aku segera ke pintu depan. Namun tetap saja orang yang kutunggu-tunggu tak kunjung datang. Dimana Markoni?

Pening lalat. Aku benar-benar seperti cacing kepanasan. Kadang melongok jendela, kadang berguling di katil bilik. Kadang ke dapur entah mengapa, kadang ke pagar halaman depan entah mencari siapa. Bingung. Sebuah penantian yang bertaburan jarum siksa. Sebuah penantian seperti setahun tak berjumpa. Padahal pada hari pasar Rabu dua hari lalu, kami menghabiskan waktu petang berduaan.

Sebuah penantian atau lebih tepat disebut sebuah kerinduan.

Rindu? Ya. Tapi aku tak berani mendefinisikan rindu seperti apa. Atau, rindu dengan status apa. Rindu orang tua kepada anak? Tidak. Rindu tetangga kepada tetangga? Juga tak kena. Rindu pedagang kepada pembeli? Masih jauh. Rindu teman kepada teman? Juga kurang pas. Rindu kekasih kepada kekasih? Nah, ini dia. Aku memang ingin mendefinisikannya dengan rindu sebagai seorang kekasih hati. Orang yang menjadi nomor satu di hati. Tapi sekali lagi aku masih ragu untuk menahbiskannya.

Sampai sekarang memang tak ada cerita tentang cinta, tentang penasbihan sebuah hubungan spesial dua insan berlainan jenis kelamin. Markoni tak pernah satu kalipun menyentuh kata cinta, apalagi mengucapkannya kepadaku. Tak ada bunga raya yang dipetiknya di taman samping rumah untuk diberikan kepadaku. Walau aku tahu, jauh di lubuk hatiku sudah kutempatkan sebuah taman yang luas agar Markoni bermain-main di sana. Tapi, mengapa dia terkesan tak sudi menikmatinya? Apakah cintaku hanya bertepuk sebelah tangan?

Aku seperti hidup di rimba tak bertuan. Tersesat, bahkan tak bisa mendefinisikan diri sendiri. Mungkin Markoni tidak jatuh cinta kepadaku. Dia hanya bermain-main, sekadar mencari teman. Melengah-lengah hidup, biar tak bosan di negeri rantau. Atau, bisa saja dia hanya menganggap rumahku sebagai rumah Bundanya tempat dia berkeluh kesah, dan menganggapku sebagai kakak perempuannya tempat dia bermanja-manja. Lain tidak. Tak ada rasa apa-apa. Tak ada rasa cinta, apalagi harus merindu.

Mengapa Markoni tidak mempertimbangkan perasaanku?

Sekali lagi, aku adalah seorang janda. Garis hidup harus kujalani sendirian dalam setahun belakangan ini. Segala keluh tak pernah bisa kubagi dengan orang lain. Segala kesah tak pernah bisa kukadukan kepada entah siapa. Sepeninggal Tisam, suami setengah malam yang membuatku berstatus janda, aku memang tak pernah dekat dengan seorang lelaki pun. Sungguh, bukan karena rindu kepada Tisam yang memutuskanku untuk terus menjanda. Sebab lelaki itu hanya kukenal tak lebih dari empat jam. Dalam empat jam itu, hampir tak ada satu patah kata pun melompat dari bibirku. Hanya seringai wajah tuanya yang masih membekas di benakku hingga kini. Bagaimana aku bisa merindu kepada seseorang yang diikatkan denganku hanya dengan dua kalimat; ijab dan kabul? Bagaimana bisa aku merindu kepada seseorang yang tak pernah membuka sebilah pintu bilik pun di hatiku, apalagi menghuninya?

Tisam. Sekali lagi, aku tak mengenal dia. Lelaki yang baru saja menceraikan satu dari empat istrinya selang seminggu sebelum menikahiku itu, datang dari kampung cukup jauh di hilir sungai. Yang kudengar dari Mamak Daud, satu-satunya keluargaku yang masih hidup, Tisam adalah toke ikan. Sepanjang hidupnya pernah menikah di atas sepuluh kali. Namun karena agama hanya membolehkan beristri paling banyak empat, dia terpaksa menceraikan istri keduanya untuk bisa menikahiku. Memang ada formulasi tentang menikah banyak. Biasanya, sang laki-laki akan mempertahankan empat istrinya. Bila ingin menambah istri lagi, dia akan menggilir istri kedua, ketiga, atau keempat untuk diceraikan. Sedangkan istri pertama, tetap dipertahankan. Dan, saat akan menikahiku, Tisam menceraikan istrinya yang kedua.

Malam pernikahan itu memang berlangsung sumbang. Seorang anak perawan, sunting manis yang selama ini jadi hiburan mata kampung Poro, harus tertunduk di bawah kaki dan pandangan mata jalang seorang Tisam. Hanya sehelai tikuluk dan beberapa keping uang begol yang mesti dikeluarkan Tisam untuk mengubah statusku, dari perawan menjadi istri orang.

Mengapa aku harus dinikahkan dengan Tisam? Tak banyak alasan. Satu-satunya yang disampaikan Mamak Daud kepadaku sepekan sebelum pernikahan, dia tak kuasa lagi mengawasiku. Sepanjang hidup aku memang tak mengenal bentuk dan rupa ayah dan omak. Ayah terserang penyakit cacar ketika aku belum menyentuh umur setahun penuh. Sedangkan omak meninggal ketika melahirkanku. Dan, Mamak Daud adalah satu-satunya keluarga yang kupunyai, setidaknya yang mengasuh dan mengawasiku sejak kecil. Dialah orang tuaku. Kebetulan dia tidak punya anak. Dan, aku dianggap sebagai anaknya sendiri.

Kini, kondisinya memang sudah ringkih, seperti tinggal menjemput ajal. Di rumahnya, yang kini kutempati ini, Mamak Daud hanya menghabiskan waktu dengan makan, tidur, dan shalat. Tak kemana-mana. Untuk menghidupi kami berdua, didapat dengan penjualan beberapa bidang tanah dan ternak. Lagi pula, tiga tahun terakhir ini aku juga sering ke ladang. Berkebun kecil-kecilan, dan bertanam padi di musim padi. Terkadang aku juga pergi ke ladang orang, mengambil upah bersama kawan-kawan perempuan. Sesama gadis di kampung, bekerja ke ladang orang memang ada enaknya. Bisa bekerja sambil berkelakar, dan tentu saja mendapat upah.

Karena sudah semakin ringkih, praktis Mamak Daud tak akan mampu lagi mengawasiku. Untung saja aku tak gatal. Kalau macam anak-anak gadis lain, yang suka bersolek dan menarik perhatian lelaki di pasar, tentulah aku ini akan sangat menyusahkan dan membuat malu Mamak Daud. Atas alasan itu pula, akhirnya Mamak Daud berniat menikahkanku. Kalau dia sudah tiada, lantas siapa yang harus menjadi keluargaku?

Tapi, mengapa harus Tisam? Mengapa bukan lelaki lain yang masih muda, paling tidak jangan terlalu tua? Mengapa Mamak Daud tidak memilihkan seorang lajang kepadaku?

’’Nanti kau akan hidup sendiri, tak ada dunsanak. Tisam itulah nantinya yang akan menjagamu. Kalau menikah dengan bujang-bujang, apa yang mereka tahu? Cari makan tak bisa, bisanya cuma mengadu sama omak?’’

’’Tapi dia tu lah tua betul, Mamak!’’ aku coba protes.

’’Karena tua itu dia kupilih. Agamanya bagus, usahanya lancar, dia tak mungkin menikah lagi, berbuat macam-macam, atau buat malu keluarga. Dia berjanji kepadaku bahwa kamu adalah istrinya yang terakhir.’’

Pendirian Mamak Daud memang tidak bisa lagi digoyahkan. Aku tak bisa menolak lagi. Sudah nasib badan akan menikah dengan lelaki tua!

Dan, pernikahan pun berjalan. Tak ada kendala apa-apa. Tisam memang sudah lancar berucap ijab. Maklum, sudah lebih sepuluh kali menikah. Mamak Daud pun lancar-lancar saja mengucapkan kabul. Maka, dalam beberapa menit, jadilah Tisam sebagai tuan bagiku. Status perawan itu kini telah berubah menjadi istri orang. Aku sudah lain sekarang. Tak bisa lagi agak sedikit bersolek bila ke pasar. Tak boleh tertawa agak keras. Tak boleh terlambat bertanak. Semuanya karena Tisam. Karena lelaki tua itu!

Tapi, itulah Tisam. Seperti kata pantun:

Sampan lapuok pengayuo lidi

Indak kan sampai ka seberang

Awak lah datuok babini gadi

Malam partamo sajo sudah meregang.

Ya, Tisam salah memilih orang.

Tiga jam setelah ijab kabul, setelah hampir semua orang sudah pulang ke rumah masing-masing, dan saat pengantin sumbang memasuki katil peraduan, ketika itu pula Tisam mengetahui siapa Jailawa sesungguhnya. Sungut-sungutnya yang sudah tegak saat ijab-kabul, tiba-tiba benar-benar tegang ketika pemanasan belum dimulai. Adrenalin yang bergerak terlalu cepat telah membuat Tisam jatuh ketinggalan. Nafas yang memburu bagai peluru tiba-tiba kehabisan daya dorong.

Tisam jatuh sebelum sempat meloncat dari garis start. Knock out dalam hitungan tak lebih dari lima menit. Tisam meninggal mendadak. Meninggal karena kaget dan tak bisa menahan rasa gembira yang mendera hatinya. Nampaknya, menikah dan punya pengalaman malam pertama lebih sepuluh kali dengan perempuan lain, tidak membuat Tisam cukup kuat menghadapi sunting dara sepertiku.

Setelah malam itu, sebelum sesuatu yang sangat berharga di tubuhku sempat dijamah Tisam, aku sudah menjadi janda. Janda yang masih perawan. Sampai sekarang.

Banyak orang yang tahu status janda dan orisinilitas perangkatku. Entah siapa yang memberi tahu. Tapi soal janda nan perawan, alias Jailawa yang cantik dan aduhai itu, menjadi magnit tersendiri bagi semua lelaki untuk mendekatiku. Ada yang memang sudah beristri dan ingin menjadikanku istri ke sekian, namun tak sedikit pula yang masih dengan status perjaka. Bahkan, aku menjadi taruhan, siapa yang berhasil mendapatkanku, dan berhasil melewati malam pertama dengan selamat, dalam artian bisa mengkanvaskanku, akan mendapatkan sejumlah uang taruhan.

Gila!

Aku sering risih dan malu sendiri dengan statusku itu. Banyak juga ibu-ibu yang memandang tajam dan sinis, merasa takut disaingi, merasa resah kalau-kalau suatu saat aku tertarik kepada lakinya. Namun di balik itu semua, ada juga rasa bangga di hatiku, yang selalu kupendam dengan baik, dengan popularitas itu. Ini juga suatu bukti, ternyata aku menjadi seorang perempuan yang sangat dinantikan kehadirannya di setiap bilik lelaki yang ada di kampung ini. Hmmm…

Apapun yang terjadi, akhirnya aku memilih untuk tidak berumah tangga. Setidaknya sampai saat ini. Apalagi, kepergian Mamak Daud tiga bulan setelah tragedi malam pertama itu, sangat memukul perasaanku. Orang yang sudah menghidupiku belasan tahun itu meninggal karena penyakit yang tidak biasa. Hanya demam panas ketika selesai shalat subuh. Tak lebih dari sepuluh menit. Bahkan, aku tak sempat memanggil tetangga untuk meminta pertolongan. Mamak Daud sudah pergi. Bibirnya menyunggingkan senyum. Nafas terakhirnya yang sempat menerpa wajahku, harum seperti kasturi. Dia memeluk tubuhku dengan rasa sayang yang sangat mendalam, seakan tak rela meninggalkan aku hidup seorang diri di dunia ini. Memelukku, ini adalah hal yang tak pernah dia lakukan setelah aku mencapai usia akil baligh.

Benar kata Mamak Daud, aku memang tak siap hidup seorang diri. Kesendirian telah membuat hatiku benar-benar risau. Tapi, kepada siapa aku harus menyerahkan diri? Menyerahkan tubuh yang pernah merenggut nyawa seorang tua? Kemana aku harus memunggahkan seluruh jiwa, tempat menyandarkan keluh dan kesah?

Cukup lama aku terkapar dalam kesendirian itu. Banyak sudah yang mau mendampingi. Daftar antre untuk bisa berijab-kabul denganku, juga cukup panjang. Namun tak satupun yang singgah di hatiku. Bukannya banyak pilih, tapi melihat motivasi dan latar belakang mereka untuk mendapatkanku, membuatku tak siap menikah dengan mereka.

Di tengah kecamuk hati itu pula Markoni datang. Seorang pria dari negeri di atas awan. Seorang pria yang berhasil mengubah pendirianku yang setegar karang. Dia datang secara tiba-tiba di Poro, dan secara perlahan pula singgah di hatiku. Perjalanan waktu sudah mendekatkan kami. Memang bukan dengan status nikah dengan tali cinta. Hanya pertemanan. Hanya teman gelak dan senda gurau di rumah singgahnya, di rumahku. Namun kedekatan seperti ini pula telah menggiringku kepada rasa suka dan rasa ingin memiliki yang sangat berlebihan.

Cinta? Sekali lagi, ya bagiku. Terserah bagi Markoni. Ya, Allah! Sungguh, aku jatuh cinta kepada Markoni. Cinta yang tidak dibuat-buat. Sebuah perasaan yang tak pernah singgah di hatiku sebelum ini. Setandan cinta yang penuh dengan sisir-sisir kasih sayang. Sebungkah cinta yang telah menenggelamkanku dalam kerinduan seperti hari ini.

Aku tak menyangka telah jatuh cinta kepada seseorang yang sangat berbeda dengan Tisam. Orang yang sangat tidak sepantaran. Lelaki tua dan lelaki muda. Laki banyak orang dengan perjaka ting-ting. Si ganteng dan si buruk rupa. Oh, Tisam… Mengapa Mamak Daud tak menemukanmu setelah aku berjumpa Markoni? Andai saja Mamak Daud telah lebih dahulu mengenali Markoni dibanding dia, tentu saja Tisam hanyalah lelaki tua yang mungkin masih bisa menghirup nafas sampai saat ini.

Tapi, cinta pada Markoni itu pula yang akhirnya menjadi jarum siksa. Dia menusuk tikam hatiku, menembus kulit jantung dan meneteskan bulir-bulir rindu yang beberapa detik kemudian menjadi anak sungai yang dalam dan deras. Ketidakberjumpaan dengan Markoni dua hari ini, terutama setelah dia berjanji akan datang setelah shalat Jumat tadi, telah menghanyutkanku dalam ketermanguan yang mendalam.

Dimana Markoni?

Jumat, Sabtu, Ahad, Senin, dan kini sudah Selasa. Markoni tidak juga menampakkan batang hidung jambunya itu. Pada hari keenam ketidakberjumpaan ini telah membuatku merindui batang tubuhnya yang tegap dan agak gelap itu dengan hati yang menggila. Tak ada yang tahu dia kemana. Ongku Mudo Dulah mengangkat bahu. Orang kampung juga sudah was-was.

Pulang ke kampungnya? Tak mungkin. Kehadiran tentara Belanda di Salo telah memutus jalan untuk mencapai Mahat, nama kampungnya itu. Apalagi dengan status pelarian Kamp Salo, tentu Markoni akan dengan mudah dikenali dan bila ditemukan pasti akan diceburkan ke dalam kolam yang dipenuhi lintah buntal itu.

Hari ini Rabu, hari pasar di Poro. Balai-balai tempat berjualan Markoni kosong melompong. Hanya ada Masnur Kopiek, teman berjualan Markoni yang nampak melayani pembeli. Aku tak hendak singgah, atau sekadar bertanya kepada Masnur Kopiek. Maklum, pria berbini dua itu pernah terdaftar dalam rombongan antre untuk mempersuntingku. Sampai kini pun dia sebenarnya masih berharap. Namun beberapa waktu belakangan ini harapannya dia kubur seiring kedekatanku dengan Markoni. Dia nampaknya sadar, Markoni memang bukan saingannya yang sepantaran.

Lain rasanya tidak berbelanja di balai-balai Markoni, pada hari ini. Ada yang hilang. Bukan sekadar kehilangan barang yang akan dibeli, tapi kehilangan orang yang menjual barang itu sendiri. Mataku cukup lama tertumbuk di balai-balai papan itu. Pandanganku berubah menjadi ketermanguan. Kosong, sekosong hatiku.

Di tengah ketermanguan itu pula, seseorang menarik keranjang belanja di tangan kananku. Agak keras sehingga membuatku kaget. Namun buru-buru aku menutup mulut sebelum berteriak. Karena, yang kini berdiri di depanku adalah Markoni; lelaki yang sudah terlalu lama kurindu.

Ingin rasanya kupeluk badan yang nampak sangat kusut itu. Melepaskan semua bungkahan rindu yang terlalu lama membekap tubuhku. Namun semua itu urung kulakukan. Karena dia terlebih dulu menyeretku agak menjauh dari kerumunan orang-orang pasar.

’’Saya nak melamar Kakak. Besok malam!’’

Dhueerrr…

Inilah petir tunggal yang tak pernah kudengar dua tahun ini. Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba seletus petir tiba-tiba menghantam hatiku. Jujur, aku tidak terkejut, tapi sangat terkejut. Tunggu. Aku tak ingin ini berlalu. Aku tak ingin pacuan jantungku berhenti. Biarlah dia terus merasa terkejut setengah mati. Tak percaya. Tak menduga. Biarlah aku menikmati rasa kaget yang luar biasa ini. Biarlah masa ini berlalu dalam waktu lama. Sebuah sensasi pacuan adrenalin yang eksotik.

’’Lawa…’’

Jemari ini masih terlalu kokoh memegang keranjang belanjaan. Aku ingin jemari ini lemas seperti hatiku yang lemas ketika dia memanggilku dengan sebutan nama. Apalagi sebutan ’’Lawa’’, tanpa embel-embel kakak meletup dari katup bibirnya. Dan bukan ’’Siti’’, seperti Mamak Daud atau orang-orang lain memanggilku selama ini. Aku benar-benar terkesima dan disanjung sempurna.

’’Lawa, saya serius. Abang serius,’’

Duh… jangan Markoni. Jangan biarkan jantungku meletup karena tak mampu menahan gejolak pacuannya sendiri. Jangan sandingkan kata-kata ’’abang’’ dan ’’Lawa’’, karena maknanya teramat dalam bagiku. Terlalu melankolik. Apalagi ’’Lawa’’, sepenggal nama yang sangat indah menurutku. ’’Lawa’’ lebih dari sekadar cantik. Seorang gadis yang dipanggil Lawa itu berarti dia cantik, manis, menarik, dan segalanya. Kata orang, Lawa itu macam pulut; berminyak, agak bergetah, dan sangat terasa bila di lidah. Apakah aku memang lawa bagimu, Markoni?

Aku tak bisa berkata. Rasa terkejut ini datangnya terlalu bertubi-tubi. Tuhan telah memberikan rasa suka yang tak mampu kubendung. Jatuh seperti hujan, tak mampu kutampung dengan telaga hatiku yang menyempit.

’’Kau lihat, Markoni! Bibirku yang biasanya mudah mengucapkan kata, tiba-tiba beku tak mampu bicara. Aku benar-benar tak siap menerima kebahagiaan seperti ini. Mengapa kau banjiri aku setelah padang tandus hatiku lama mengering?’’ aku membatin.

Hatiku berkata-kata. Panjang. Namun tak sepatah pun melompat dari katup bibirku.

’’Maaf, Lawa. Aku mungkin membuatmu kaget. Biar lebih santai, tunggu aku besok malam di rumah. Undang juga satu dua tetangga,’’

’’Mengapa…’’

’’Mengapa apa? Mengapa aku melamarmu, ingin menikahimu? Mengapa aku pergi tanpa pesan apa-apa? Mengapa aku biarkan engkau kutinggal dengan jarum siksa penantian? Tak perlu kujawab sekarang. Kita tak punya waktu banyak. Tunggu saja di rumah,’’ Markoni tak memberiku kesempatan untuk sekadar bertanya.

’’Eit, jangan lupa. Sambal sobo. Aku masih merindukannya,’’ kata Markoni, sebelum hilang di balik kerumunan kecil pengunjung pasar.

Markoni! Huh, aku tak bisa menebak pria berbadan tiba-tiba kusut dan terlihat agak kurus itu. Sekarang aku tak diberinya kesempatan untuk bertanya atau berdiskusi tentang kebijakan yang dia ambil. Padahal, dulu dia paling suka berdiskusi. Mendengar ceritaku dan melihatku bercakap, seringkali menjadi hiburan kecil baginya. Tapi kini, nampaknya dia lebih suka membuatku terkejut. Dia juga terlihat sangat percaya diri akan kuterima sebagai calon suami –padahal, memang iya—. Markoni seperti tak ingin langkah kaki dan bisik hatinya didengar dan diketahui oleh siapapun. Walaupun, sejujurnya aku suka yang seperti ini. Suka dengan jantungku berdegup cepat secara tiba-tiba. Suka dengan ketidakpercayaan ini. Suka dengan caranya yang kini tak bisa kutebak sedikitpun. Suka dengan sikapnya yang kini mulai misterius.

Muka masam sejak aku berangkat dari rumah menuju pasar tadi, tiba-tiba hilang seketika. Aku jadi lebih bersemangat berbelanja. Barang belanjaku jauh lebih banyak dibanding biasa. Maklum, yang akan datang ke rumah bukan hanya banyak dari segi jumlah, tapi juga sangat banyak dalam segi arti. Aku tahu, kedatangan Markoni nanti bukanlah untuk yang pertama, namun aku jauh lebih tahu, kedatangannya nanti adalah yang pertama dari sisi makna, dan yang paling spesial. Aku juga tahu bahwa Markoni tidak akan datang dengan batang tubuh seorang, pastilah dia akan membawa serta keluarga Ongku Mudo Dulah, dan rekan sejawatnya.

Malam berlalu sangat lambat. Aku ingin membuka siang Kamis lebih cepat. Mengapa pergantian waktu tak seirama dengan degup jantungku yang berlari kencang?

Siang itu, Kamis. Tak lupa kuundang Maktuo Piah dan Amai Limah untuk membantuku memasak. Menu yang dimasak hampir sama dengan menu yang pernah kusediakan untuk Markoni, sepekan lalu. Bedanya, menu tersebut kuhidangkan dalam jumlah yang lebih banyak.

Dua anak perempuan Amai Limah juga datang untuk membantu-bantu menghias rumah dengan balutan kain tikuluk. Kain gorden yang usang diganti dengan gorden yang masih terlipat rapi di lemari. Halaman rumah juga dia sapu supaya kelihatan lebih bersih. Sejak petang Rabu, ketika kabar gembira itu kusiarkan secara terbatas kepada dua tetangga itu, mereka sudah datang ke rumah. Beres-beres.

Sebelum malam terlalu kelam. Markoni sudah datang. Tepat dugaanku. Markoni datang dengan rombongan lumayan besar. Rumah bagian depan penuh dengan kaum lelaki. Yang perempuan mengambil tempat di tengah. Ada juga yang bekerja menyiapkan makanan di dapur. Di ujung majelis itu duduk Ongku Mudo Dulah, Malin Baru, dan juga Markoni. Sedangkan aku, duduk tersipu di ruang tengah dengan balutan baju kebaya bersulam bunga mawar merah. Itu adalah kebaya terbaik yang kupunya.

’’Mengapa tak cakap dari awal Siti. Mendadak saja macam orang sesak nak terberak,’’ kata Mak Udo Leha, protes dengan gaya kocaknya. Dia baru saja memunculkan wajah di majelis itu.

’’Iya, Siti ni terkejut-kejut kita dibuatnya. Dulu menikah dengan Tuk Tisam, paginya sudah menjadi janda. Petang ni nikah pula dengan Markoni, entah sampai bila pula tu. Makanya Siti, jangan ganas-ganas,’’ timpal Nek Tiar. Yang mendengar tertawa dibuatnya.

’’E, Siti. Dulu macam ‘kan tidak. Katanya anak dagang, tapi sekarang ngapo tiba-tiba Markoni tu nak melamar Ngkau?’’

Pertanyaan satu ini sulit kujawab. Markoni memang tak memberikan jawaban sampai sekarang. Pria itu berjanji akan mengatakan seluruhnya sebelum dia menjamah sesuatu yang merenggut nyawa Tuk Tisam. Dia akan menceritakan sesuatu itu malam ini. Huh! Apakah dia akan bercerita malam ini? Kuharap tidak. Aku lebih suka kalau Markoni tidak mengeluarkan suara apa-apa. Cukup saja dia melakukan apa-apa. Bukankah pekerjaan malam pertama jauh lebih baik digunakan tanpa suara?

Acara itu pun dilangsungkan. Tak banyak tanya ini dan itu. Petatah-petitih ninik mamak memang tak berlangsung lama. Markoni diwakili langsung orang tua angkat yang juga ninik mamak sukunya. Suku Patopang. Sedang aku, diwakili ninik mamakku pula, Suku Domo. Karena aku adalah janda, yang menurut syariat bisa saja menikah tanpa wali, semuanya bisa berjalan lebih lancar.

Aku memang menikahkan diri sendiri, tanpa diwakili wali. Sebenarnya, bisa saja Ongku Mudo Dulah yang memang merangkap sebagai penghulu di Poro menjadi wali hakim bagiku. Namun itu tidak kulakukan. Mengapa bukan aku yang langsung mengucapkan ijab kalau memang diperbolehkan agama? Bukankah ketika janji dilafazkan, dan jemari kuat itu menyentuh telapak tanganku, perjanjian batin akan lebih mengena?

Dan, sekarang orang-orang sudah pulang. Waktu sudah hampir tengah malam. Di bilik ini hanya tinggal kami berdua. Aku dan Markoni. Sunting sudah lama dicabut, sasak sudah dilepas. Baju kebaya bersulam bunga mawar yang tadinya melekat di tubuhku, kini sudah bersepai di sudut kamar, tergeletak di atas sebuah meja kecil. Maskara yang tadinya melekat di pelupuk mata kini sudah terkelupas oleh lelah yang panjang. Alas katil sudah berpindah ke lantai; juga bersepai.

Nafas Markoni jatuh satu-satu. Aku terdiam membatu.

’’Jepun sudah di Bukittinggi. Belanda sudah lari…’’

Malam itu pecah setelah lama hening menyapa. Markoni menyampaikan informasi yang cukup membuatku terkejut. Aku memandang pria itu dalam gelap. Suaranya terkesan masih berat. Sejatinya aku harus terkejut, tapi ekspresi itu tidak bisa kutunjukkan. Bibir ini terlalu kering untuk sekadar ternganga.

’’Sebulan lagi Jepun bakal sampai ke Salo. Tentara Belanda mulai melepas tawanan. Kamp pengungsi mulai lengang,’’ lanjut Markoni.

’’Belanda kalah?’’ tanyaku.

’’Nampaknya ya. Biar mampus mereka,’’ kata Markoni.

Sejatinya, sekali lagi, aku harus menunjukkan ekspresi senang, tapi bibir ini terlalu berat untuk mengerjakan sebuah pekerjaan terkejut, seperti memberi ekspresi tiba-tiba itu. Aku memahami kalimat Markoni yang mengandung unsur geram dan dendam itu. Dia nampaknya belum terima dengan penahanannya di kamp tawanan di Salo. Kalau bisa, nampaknya dia ingin memakan bulat-bulat tentara Belanda itu.

Lalu, malam itu berlalu dalam dekap dan bekap yang panjang. Sekilas, ingatanku melayang kepada sosok seorang Tisam. Dan, memang Markoni tidak sepantaran dengan lelaki tua itu!

***

Mengapa Markoni menikahiku? Mengapa mesti terburu-buru?

Ketika sarapan pagi sudah terhidang, ketika secangkir kopi masih mengepulkan asap, ketika Markoni kemudian mendaratkan belah bibirnya di tengkukku, ketika itu pula kuselami lubuk hati Markoni yang tak pernah kusentuh selama ini.

’’Jepun disambut meriah di Bukittinggi. Orang-orang senang Belanda kalah,’’ kata Markoni sambil duduk di kursi rotan dekat meja makan.

Aku duduk di lantai, persis di samping kaki Markoni yang berjuntai. Kupeluk betisnya, kurebahkan kepalaku di pahanya yang masih terasa basah.

’’Jepun itu mirip orang kita juga. Pendek-pendek. Malah kata orang, abang lebih tinggi dibanding Jepun. Bedanya, dia berkulit kuning, tak seperti abang yang hitam legam macam arang kuali,’’

’’Ah, tak hitam sangatlah. Agak gelap, memang. Lagi pula, abang tu gagah dengan kulit agak gelap,’’ aku menyahut, tapi tidak memberikan tanggapan soal menu utama pembicaraan Markoni.

Markoni tersenyum.

’’Kapan dia sampai ke Salo, Bang?’’

’’Itu yang kita tak tahu. Kata orang dia lah sampai Payakumbuh. Berarti tak sampai sebulan lagi dia lah sampai ke Salo,’’ kata Markoni.

’’Dia ke Poro tak?’’ kali ini aku bertanya lebih serius. Kutatap kelam matanya lebih dalam.

’’Tak pasti juga. Tapi kalaupun dia kesini mungkin tak apalah. Dia tak macam Belanda yang suka bunuh orang. Kata orang, Jepun tu lebih baik,’’

Aku jadi lega mendengar pernyataan Markoni. Itu artinya aku tak perlu risau. Aku berharap Jepun tak datang. Tapi, kalaupun datang, aku juga tak perlu risau. Bukankah orang Jepun baik-baik? Lagi pula, orangnya tak besar seperti Belanda. Kalaupun harus berkelahi, Bang Markoni pasti menang. Bukankah Markoni lebih besar?

Tapi cerita soal orang Jepun suka memerkosa, mengambil anak gadis orang dan janda-janda muda untuk dijadikan bini di kamp-kamp, yang kemudian diceritakan Markoni, tiba-tiba membuat pagi itu menyebabkan dadaku bergolak. Aku seperti tak percaya dengan cerita Markoni soal anak gadis dan janda itu. Benarkah orang Jepun suka memerkosa?

’’Itu yang kudengar. Orang Jepun tu nampaknya punya kebiasaan memerkosa,’’

’’Membunuh tidak, memerkosa iya?’’

’’Iya. Tapi kalau tak mau diperkosa, ya, dibunuh!’’

‘’Wah, lebih jahat dari Belanda tu!’’

’’Itulah. Kata orang, bertukar cigak dengan beruk. Sama saja tabiat Belanda dengan Jepun tu,’’

’’Aduh… Jadi macam mana tu, Bang?’’

’’Ya, kita tak bisa cakap apa-apa. Yang bisa dilakukan adalah bagaimana menikahkan anak gadis dan janda segera. Jangan sampai ada yang tidak punya status sebagai istri orang,’’ kata Markoni.

Jadi, Markoni menikahiku hanya sebatas mengubah statusku? Dari janda menjadi istri orang? Dia menikahiku bukan karena cinta, tapi karena kasihan dan tak tega diambil Jepun?

’’Lawa, jangan berpikir yang tidak-tidak dulu. Abang menikahi Lawa bukan karena kasihan atau tak tega diambil Jepun,’’ Markoni nampaknya bisa membaca perasaanku. Dia menatap lembut ke telagaku yang hampir menggenangkan air kesedihan.

’’Abang sudah lama nak melaksanakan hajat ini. Namun semua itu abang simpan dalam-dalam. Bukan takut ditolak, tapi karena abang ingin mendapatkan waktu yang sesuai. Saat menghilang sepekan dulu itu, abang sebenarnya berencana menjemput Bunda di kampung. Rencananya mau memperkenalkan Lawa kepada Bunda sebelum meminang. Tapi, pas sampai di Salo abang dapat kabar seperti itu. Jadi, abang putuskan tak pulang ke kampung dulu. Abang takut keduluan Jepun yang datang.’’

Rasa gerun di hatiku tak berlangsung lama. Aku tiba-tiba tak merasa kecil hati, tapi malah sangat bangga. Ternyata diam-diam sejak dulu Markoni memang suka padaku.

’’Tapi ngapo abang pergi tak cakap dulu. Buat orang risau saja,’’ kataku kemudian.

’’Abang sebenarnya ingin buat kejutan. Tapi karena situasinya lain, akhirnya abang tak sempat melakukan itu,’’ kata Markoni.

Hmmm… ternyata aku sangat beruntung punya Markoni. ***



Markoni

Aku terpaksa meninggalkanmu, Jailawa. Beban ini terlalu berat kalau harus terus kubagi bersamamu. Mungkin dengan memikulnya sendiri jauh dari rumah kita yang damai itu, engkau akan merasa lebih tenang. Biarkan aku menjadi pecundang, dan akan kupikul kemanapun busuk bangkai di pundakku.

Tak ada tidur yang lebih nyenyak selain tidur setelah mengalami orgasme. Jangankan sampai dua atau tiga kali, meraih kepuasan puncak sekali saja sudah cukup mengantarkan engkau ke pucuk mimpi yang diimpikan.

Dan, Lawa mendapatkannya tiga kali. Tak pernah sebanyak itu selama kami menikah dalam tujuh tahun ini. Awalnya, aku tak yakin bisa melakukannya. Karena, malam-malam kami dalam pelukan panjang hanyalah sebuah kegelisahan Lawa. Cerita-cerita tentang begitu pedihnya saat berhubungan badan suami istri; rasa-rasa mau sampai tapi tak jadi sampai; rasa-rasa dahaga kan beroleh air sejuk, eh, pas sampai di bibir, gelasnya pecah, selalu menjadi cerita pahit bagi Lawa, dan tentu juga aku.

’’Dari pada karam di tepi lebih baik karam di tengah,’’ kata Lawa setiap ketika.

Persoalan seperti ini pula yang mendera hatiku selama tujuh tahun berlalu. Aku merasa sebagai terhukum yang tak bisa lagi mengajukan penolakan, atau hanya sekadar menyampaikan alasan. Semua tumpuk salah dan sasaran tembak memang mengarah kepadaku. Ya, tentang aku yang tak selalu bisa memuaskan berahi seorang istri. Tentang Lawa yang selalu tampil prima dalam setiap pergumulan di balik kelambu.

Tentang aku yang tak bisa memberi keturunan, atau Lawa yang tak bisa memberi keturunan, itu soal yang lain lagi. Sebenarnya, sekali lagi, bukan persoalan aku atau Lawa yang tidak bisa memberikan keturunan. Semua itu memang kehendak Allah. Dia yang belum mau memercayai kami. Dia yang belum memberi kami sejumlah anak. Namun secara fisik, letak kesalahan itu sepertinya ada pada diriku. Kondisi fisikku yang terus menurun membuatku sering tak mampu membuat istriku terpuaskan dengan baik.

Malam tadi semuanya kubalas. Panas tujuh tahun sudah kusiram dengan hujan semalam. Risau dan cekau di hati Lawa sudah bisa kutenangkan hingga bibirnya tetap tersenyum hingga terlena dalam pelukan tidur. Akulah lelaki perkasa, lelaki yang bisa menerabas rimba liar, menghempaskan keganasan seorang perempuan hingga dia tak cukup tenaga untuk mengucapkan sekadar terima kasih sebelum menutup mata untuk menjemput mimpi.

Tapi aku tak ingin mengulas panjang cerita semalam. Aku sendiri tak tahu mengapa aku bisa melakukan semua itu malam tadi. Biarlah itu menjadi salah satu rahasia kecil bagi kami yang tak perlu diceritakan secara detail kepada orang lain. Karena, saat ini aku sedang dalam perjalanan. Tunggu, bukan perjalanan. Lebih tepatnya pelarian. Pelarian terlarang. Pelarian seorang lelaki dari istrinya. Pelarian seorang pecundang; orang-orang yang dikalahkan. Pelarian seorang pengkhianat. Seorang pembohong.

Bukankah sebelumnya aku berjanji mengajak Lawa ikut serta dalam perjalanan ini? Bukankah saat kutinggalkan Lawa, sementara aku berjanji mengajaknya, itu sama artinya membohongi dia?

Lawa kutinggalkan dengan bunga mimpinya. Bibirnya masih tersenyum ketika aku mengecup keningnya yang segar. Mungkin itu kecupan untuk yang terakhir kali. Karena aku tak yakin apakah suatu saat akan dapat melakukan itu lagi. Tak ada satupun jaminan aku akan kembali lagi ke sini. Dalam perencanaan yang kubuat, ini memang saat-saat terakhir aku berada di Poro. Kukenakan baju dan kain panjang di tubuhnya yang bugil. Kubedaki pipi dan dagunya biar kelihatan lebih cumil.

Ketika kutinggalkan, Lawa terlihat seperti bayi, melengkung dalam selimutnya yang tebal. Kemudian kuluruskan tubuhnya. Kudekapkan sebuah guling. Kupandangi perempuan yang sudah menemaniku selama tujuh tahun itu lekat-lekat. Dari dekat. Terlihat tak ada dosa di wajahnya. Keningnya bercahaya. Pipinya pipih; cumil. Bibirnya masih mengembangkan senyum. Nafasnya yang kecil memberi irama sejuk di penghujung malam. Lawa memang seringkali tampil seperti bidadari. Bersih dan melenakan. Mungkin, saat ini dia sedang terbang bersama mimpi-mimpinya.

Sebagai pecundang, aku memang akhirnya meninggalkan Lawa. Janjiku untuk mengajaknya ikut pulang ke kampung di atas bukit, hanyalah sebuah skenario seorang lelaki. Skenario palsu. Keputusan yang sesungguhnya, sudah kuambil sejak sepekan lalu; pulang seorang diri ke kampung halamanku. Aku tahu, keputusan ini sangat menyakitkan bagi Lawa. Tapi ini adalah jalan terbaik yang bisa kutempuh. Tak ada pilihan lagi selain meninggalkannya dalam duka dan sangat terluka. Sekali lagi, ini terpaksa kulakukan karena Lawa tak pernah mau kutinggalkan baik-baik; dalam gelak tawa.

Bagiku, tujuh tahun adalah sebuah pengabdian yang dalam, penantian yang panjang, kesetiaan yang maha luas, keikhlasan yang maha dalam. Tujuh tahun juga menjadi kepergian yang lama. Penantian panjang, keikhlasan yang maha dalam, dan kepergian yang terlalu lama bagi Bundaku. Bagi orang yang telah melahirkanku itu, kepergian selama tujuh tahun adalah sebuah perpisahan yang benar-benar memilukan dan juga memalukan. Pesan-pesan yang dikirimkan kepadaku di Poro melalui pedagang dari negeri di atas bukit, sudah terlalu lama kuabaikan. Harap pinta seorang bunda kepada anaknya, atau kerinduannya pada hadirnya anak dari anaknya, tidak pernah bisa kukabulkan.

Bunda memang rindu kepadaku. Tapi, kerinduannya kepada anak dari anakku adalah bentuk kerinduan yang lain. Kerinduan di atas segala kerinduan. Bunda memang kesal dengan kepergianku, dan pernikahanku. Tapi dia lebih kesal karena ternyata perempuan yang kunikahi di rantau itu ternyata tidak dapat memberikan anak kepadaku.

Tak ada anak memang aib. Tak ada anak dari anak adalah bagian aib yang lain lagi. Tapi lelaki yang tak punya anak, padahal masih mungkin membuat anak melalui rahim perempuan lain namun itu tidak dilakukannya, itu jauh lebih aib di kampungku. Jangankan tak punya anak dari seorang istri, istri yang bisa memberikan anak lebih dari sepuluh pun tetap saja bisa dimadu. Menikahi lebih dari tiga perempuan adalah hal yang sangat biasa. Bahkan beberapa orang tua dan ongku-ongku di kampungku punya bini lebih dari sepuluh. Maklum, mereka adalah toke kelapa yang berpenghasilan lebih dari cukup, atau seorang ahli agama yang diharap dapat melindungi dan memberi martabat khusus kepada keturunannya.

Menikah sampai banyak, bahkan sampai sepuluh, itu adalah cerita nyata. Katanya, semua bini akan mendapat giliran dikunjungi per sepuluh malam. Bagi yang kebetulan dapat jatah dikunjungi, dan kebetulan pula tak bisa digauli karena haid, biasanya akan ada pemain pengganti. Bagi pemain pengganti ini akan mendapat bonus khusus dari sang suami. Maklum, kerja lembur.

Hmmm… aku tak bisa membayangkan jika itu adalah aku. Kalau untuk memenuhi harap pinta seorang perempuan saja aku sering angkat tangan, bagaimana pula bila harus melayani setiap malam; dengan orang berbeda, tanpa jeda?

Sejak berita pernikahanku sampai ke kampung atas bukit, aku memang menjadi buah gunjing di kampungku. Apalagi ketika tahu bahwa selama tujuh tahun aku dan istriku belum dikaruniai anak, gunjingan itu malah berbuah fitnah. Ada yang mengatakan aku bodoh, bisa diatur perempuan, madak, penakut, kena pemanis, minum kopi cangkuong atau termakan cirik baondang. Katanya, kalau termakan cirik baondang atau minum kopi cangkuong, seorang lelaki memang jadi sangat penakut kepada bininya. Penurut; bisa diatur-atur. Bahkan bisa diperbudak.

Benarkah?

Entahlah!

Di sisi lain, sebagian besar orang kampung juga menganggap aku sebagai orang durhaka. Durhaka kepada kampung. Pergi merantau tak ingat pulang. Lupa yang di kampung. Lupa dengan janji. Lupa dengan orang-orang yang sedang menanti. Patut aku mendapat azab, sebab terlalu banyak orang yang melaknat.

Zahra. Hmm… perempuan itu adalah orang pertama yang tiba-tiba hadir di pelupuk mataku persis saat langkah pertama kuayunkan. Wajah Bunda kemudian menyusul. Kalau ada dua perempuan yang paling kecewa dengan sikapku selama ini, orang itu adalah Zahra dan Bunda. Kalau ada orang yang harus menyumpah dan menyampaikan laknat, orang itu tentulah Zahra dan Bunda. Wajah kedua perempuan yang paling berpengaruh dalam kehidupanku itu, selain Jailawa tentunya, hadir silih berganti mengisi alam pikirku. Apakah dia ikut melaknatku? Menyumpahiku?

Terserah apakah mereka semua melaknatku. Tapi keputusanku untuk pulang, kuharap mampu menjadi tumbal, sitawar sidingin, dan mengobati seluruh kekecewaan orang terhadapku. Bukankah ini yang mereka harapkan? Bukankah setiap pesan yang dikirim ke Poro isinya adalah berharap aku pulang?

Aku rindu pada Bunda, tapi jauh lebih rindu kepada Zahra. Seperti apakah dia sekarang? Masihkah intan payung itu semerbak mewangi. Masihkah Zahra seperti janjinya dulu, tidak akan menikah selain denganku? Aku coba menghibur hatiku dengan menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang menghibur diri.

Soal Zahra, awalnya aku kurang percaya dengan kabar yang kuperoleh selama ini. Bila ada pedagang negeri atas awan datang ke Poro, atau orang suruhan Bunda dan Zahra menjumpaiku, mereka selalu bercerita tentang seorang perempuan yang ditambat kesedihan. Tentang perempuan yang merajut hari-harinya dalam sebuah penantian. Tentang seorang perempuan yang harusnya berputus asa, namun tetap saja berusaha tegar dalam hidupnya. Tentang Zahra. Tentang Za. Tentang intan payung yang pipinya pipih, yang betisnya putih, yang lenggok pinggulnya melambai-lambai. Namun karena hampir semua orang mengatakan hal yang sama, tentang Zahra yang masih setiap kepada janjinya, rasa tidak percaya di awal-awal, akhirnya berubah menjadi gundukan dosa di hatiku.

Kalau benar Zahra belum menikah sampai sekarang, berarti umurnya sudah lebih dari 20 tahun. Sudah tua. Sudah perawan tua. Benarkah dia sanggup menanggung beban ejekan itu? Mampukah dia memikul beban julukan si perawan tua? Bukankah umur 20 tahun adalah angka yang sangat menakutkan bagi seorang gadis di kampungku bila belum menikah? Jangan salah, usia menikah yang paling ideal di sana adalah 13, 14, atau paling tinggi 18 tahun. Kalau Zahra kini sudah berumur 21 atau 22 tahun, berarti dia sudah menanggung malu itu bertahun-tahun.

Pertanyaan yang selalu mengisi benakku dan menyiksa batinku adalah, benarkah dia mampu menanggung rasa malu itu karena aku?

Tentang aku yang menikah di negeri orang, benar-benar bukan rahasia. Mungkin semua orang sudah tahu. Reaksi ketahuan itu, bagiku sangat-sangat pedih. Empat bulan setelah pernikahanku dengan Jailawa, seseorang bertamu ke rumahku. Seseorang yang sangat kukenal. Dia adalah Leman, lelaki yang pernah terkencing-kencing saat kami ditangkap Belanda pada serangan tengah malam di Mahat, kampungku itu. Tak banyak yang dia sampaikan kepadaku. Yang ada hanya geleng. Tak percaya. Serta sumpah-seranah.

’’Mustahil! Waktu 10 bulan ternyata mampu mengubah cinta menjadi durga. Lelaki macam apa kau ini? Menyesal aku menjadi temanmu! Fuiihh…’’

Menusuk. Menikam. Menghantam. Kata-kata Leman benar-benar menjadi sembilu, mengiris-iris tampuk hatiku. Apakah ini adalah gambaran nyata pendapat orang-orang sekampung?

Leman temberang. Hampir naik pitam. Persahabatan yang kami bangun sejak lama, tiba-tiba berubah jadi kelam. Padahal, Leman-lah teman sepermainanku. Soulmate-ku. Bahkan, ketika kami lari dari kamp tawanan Belanda di Salo, Leman juga yang menjadi kawan utamaku. Walaupun, ketika itu, kami harus terpisah karena arah lari kami yang berlawanan.

Aku hanya terdiam. Air muka berubah seperti pucat pasi. Rasa bersalah benar-benar menyergapku dari segala sisi.

’’Takkah kau ingat Za? Takkah kau ingat Mahat? Semua orang kehilangan kau. Apalagi Za. Dia seperti batang tubuh tak berpersendian. Tubuhnya tinggal kulit pembalut tulang. Tak ada maya di wajahnya yang melankolik itu. Kau telah membunuhnya dengan cara yang sangat durjana,’’

Leman benar-benar sampai pada emosi yang sangat tinggi. Untung Jailawa tak di rumah. Dari pagi, Lawa sudah ke pasar berbelanja keperluan pekan ini.

’’Leman. Tolong…’’

’’Tolong apa? Menolongmu sama seperti menolong seorang munafik. Kau keterlaluan!’’

Leman. Ah… aku tak bisa bicara apa-apa kepadanya. Nampaknya dia sangat emosi. Kawan karibku itu tak memberi kesempatan kepadaku untuk sekadar menjawab, apalagi membela diri. Aku sebenarnya ingin bertanya tentang kabar Bunda, dan pertanyaan-pertanyaan yang sederhana dan mampu melepaskan hausku atas dahaga rindu kampung halaman, namun dia benar-benar tak mau berkompromi. Aku hanya diposisikan sebagai pesakitan. Bahkan tak diberi kesempatan apapun untuk sekadar membela diri.

Lelaki hitam manis itu pergi tanpa mengucapkan salam. Dia berlalu dari rumahku dengan gumam yang panjang. Di depan rumah, kakinya menyepak pagar bambu hingga patah dua.

Dia sangat menyesal.

Mahat sepertinya lebih kesal dibanding dia.

Aku, sebenarnya, juga sangat menyesal.

Jauh di lubuk hatiku, penyesalan itu telah tumbuh mencading sejak pertama kali kuputuskan untuk menikah dengan Jailawa. Tapi, rasa penyesalan itu tak mungkin mengubah keputusanku untuk menikah dengan perempuan yang lawa itu. Kondisi dan situasinya saat itu lain. Aku dipaksakan hanya menjalankan pilihan yang tak bercabang. Jadi, tak ada yang boleh disesali dengan pernikahan ini. Lagi pula, bukankah aku juga jatuh cinta kepada Lawa? Walaupun datangnya terlambat dan sangat bias diperdebatkan, tapi perjalanan waktu yang berlalu cepat itu telah membuat aliran cinta kami juga berlalu cepat pula. Bukankah rasa cinta bisa tumbuh dimana saja, kapan saja, kepada siapa saja? Bukankah Allah mengaruniai manusia dengan percabangan cinta yang banyak dengan stok yang tidak terbatas?

Aku menilai, rasa cintaku kepada Jailawa bukan sebatas rasa ingin memiliki sebatang tubuh atau menyatukan dua perasaan. Bukan hanya karena dia lawa; macam ketan bergetah. Ada makna sosiologis, psikologis, politis, dan nilai-nilai kemanusiaan yang sangat dalam di sana. Dengan pernikahan ini, aku bukan hanya merajut cinta, tapi juga menyelamatkan seutas nyawa dari tindak pemerkosaan tentara Jepun. Bukankah sebulan setelah menikahi Lawa, tentara Jepun itu sudah sampai ke Poro, dan empat anak gadis plus tiga janda sudah menjadi korban kebiadaban penjajah bertopeng saudara tua itu? Bayangkan, kalau aku tak menikahi Jailawa ketika itu, mungkin daftar pemerkosaan, dan mungkin juga pembunuhan oleh tentara Jepun, akan bertambah! Dari pada barang bagus jatuh kepada Jepun, mengapa tak diselamatkan terlebih dahulu?

Jatuh cinta kepada Lawa? Jatuh cinta kepada Zahra? Latar belakang percintaan dengan keduanya memang punya spesifikasi khusus. Sulit menceritakan latar belakangnya secara jelas. Sulit juga menemukan jawaban, cinta yang mana satu yang paling mustahak, yang tak bisa kutolak. Atau, salahkah kalau aku mencintai keduanya sekaligus?

Menjelang Ramadan, tepat setahun pernikahan kami, aku ditakdirkan berjumpa kembali dengan Leman. Dia datang ke pasar Poro. Tapi, kali ini dia tidak lagi seperti beberapa bulan lalu. Amarahnya kini lebih terkendali. Walau di pupil matanya kulihat rasa benci yang dalam, kini Leman terlihat semakin kooperatif dengan tindakanku untuk menikah.

’’Apa kabar Bunda? Apa kabar Za?’’ Aku tak kuasa menahan gejolak ingin tahu. Rasa rindu seperti perbukitan; berundak-undak, bergulung-gulung.

Leman mengajakku ke sebuah lepau. Memesan dua cangkir kopi pahit. Ada sepiring goreng pisang plus dua piring ketan. Teman yang sama-sama tertangkap denganku, dan sama-sama lari dari kamp tawanan Salo itu, hanya memandangku dengan tatapan seperti dulu; tetap kesal.

Leman kemudian bercerita banyak tentang Bunda. Katanya, orang tuaku itu sekarang masih dalam kesedihan panjang. Ketika dia mendengar kabar aku berhasil kabur dari penjara, dia terlihat sangat senang. Namun ketika dia mendengar kabar pernikahanku dengan Lawa, hal pertama yang dia lakukan adalah pingsan. Kemudian, hal yang pertama dilakukannya setelah siuman adalah menyebut nama Zahra. Hal pertama yang dilakukannya ketika tenaganya pulih adalah ke rumah Mamak Sidin, menjumpai Zahra. Kemudian, hal pertama yang dilakukannya ketika bertemu Zahra adalah memeluknya, dan kemudian pingsan lagi.

Namun kesedihan itu kini sudah mulai terlipus perlahan-lahan. Racun kerinduan akan anak dan rasa sakit atas pengkhianatan seorang anak terhadap Bunda, kini sudah mulai tawar oleh perjalanan waktu. Kata pepatah: hilang bisa karena biasa. Walau tetap tak terima, Bunda berusaha untuk tabah.

Beberapa kali dia bertekad untuk datang ke Poro. Namun usaha itu dihalangi Mamak Sidin. Selain situasi keamanan semakin buruk akibat kedatangan Jepun, motivasi kedatangannya juga masih rancu; karena rindu atau karena mau menumpahkan rasa malu? Atau hanya sekadar mau marah-marah? Jangan-jangan kedatangannya hanya akan memperuncing keadaan, membuat Markoni; aku, benar-benar akan mengharamkan Mahat untuk ditempuh.

Begitu juga Zahra. Dia ingin sekali datang ke Poro. Tapi semua orang melarangnya.

’’Kalau jodoh tak akan kemana. Rezeki pipit takkan dimakan enggang,’’ kata orang-orang memberi nasehat. Tepatnya, menyampaikan kalimat hiburan.

’’Tapi jodohku sudah jelas-jelas diambil orang. Enggang sudah memunah-ranahkan rezekiku,’’ kata Zahra.

’’Sejauh-jauh bangau terbang, kembalinya akan ke kubangan juga,’’ kata orang lagi, membujuk Zahra.

’’Kapan mau kembali? Setelah tua jengkuh? Setelah dia beranak-pinak? Setelah batang tubuhku tak lagi berdaya? Setelah sisa yang kudapat tak berguna apa-apa?’’

’’Kalau begitu, menikah sajalah dengan yang lain. Tak usah tunggu Markoni. Dia bisa menikah dengan orang lain, mengapa ngkau tidak? Bukankah banyak yang menginginkan ngkau sebagai istri?’’ kata Mamak Sidin beberapa kali. Dia sudah kehilangan akal dengan rajuk anaknya.

Kalau sudah membentak seperti itu, tak ada yang bisa melawan. Semua hanya bisa menundukkan kepala. Mamak Sidin memang jarang marah, tapi sekali marah, tak ada yang berani mendekatinya. Kumisnya yang agak tebal menambah kelam dan temberangnya wajah Mamak Sidin.

Begitu juga Zahra. Bila ayahnya sudah menyampaikan kalimat itu, dia akan terdiam. Perlahan, air matanya berlinang. Kemudian, dia akan terhanyut dalam sesenggukan panjang.

’’Takkan ayah. Beranak empat pun akan Za tunggu juga. Za tak nak menikah kalau tak dengan Bang Markoni,’’

Beranak empat? Aku teringat kata-kata Zahra yang selalu dikutip Leman. Aku pegang kukuh kalimat itu. Bukan pada angkanya, tapi lebih kepada spirit menunggu bagi seorang perempuan. Sebegitu matikah cintanya kepadaku? Apakah pendiriannya akan selalu begitu? Inilah salah satu pertimbangan utama untuk pulang ke kampung halaman. Menjumpai Zahra, Bunda, dan orang sekampung.

Soal beranak empat ini kemudian menjadi tema sentral dalam pikiranku. Setahun pernikahan kami, tanda-tanda ke arah itu belum ada. Tak ada empat anak. Satu pun tidak. Bahkan, terlambat datang haid pun istriku tak pernah. Tak ada tanda apa-apa. Tak ada kehamilan.

Leman tahu soal tak ada anak itu. Tahun pertama dia datang, ketika dia menyampaikan kalimat beranak empat itu, dia sudah tahu kalau kami belum dikaruniai seorang anak pun. Lalu, satu persatu jurusnya masuk. Secara bergurau dia sampaikan soal beranak empat itu. Dia sampaikan juga bahwa kemungkinan aku meninggalkan Lawa sangat terbuka. Bukankah Lawa tak bisa memberikan keturunan? Bukankah itu bisa menjadi alasan yang paling pas untuk menceraikan seorang perempuan? Kalau ingin sedikit diplomatis, mungkin aku bisa menawarkan kepada Lawa untuk menikah saja dengan lelaki lain agar dia mendapat keturunan. Mungkin dengan aku dia tak ada rezeki, tapi dengan orang lain siapa tahu.

’’Ngkau kulihat sangat subur. Tak mungkin takkan punya anak. Aku tak ingin menyiksamu dan memerangkapmu dalam sebuah keluarga tanpa anak. Aku tahu, keinginanku untuk punya anak mungkin tak sebanding dengan keinginanmu untuk punya anak. Pasti lebih besar keinginanmu. Kalau ngkau ingin, aku izinkan untuk menikah dengan siapapun. Aku jatuhkan talak satu kepadamu. Kamu boleh bebas, dan kemungkinan besar akan punya anak dengan lelaki lain.’’

Kalimat itu diajarkan beberapa kali oleh Leman kepadaku. Katanya, itu manjur. Kalimatnya juga lebih diplomatis. Kita seakan-akan menghargainya, memberikan kesempatan kepadanya, padahal sesungguhnya kita menciptakan kesempatan untuk kita sendiri.

’’Mantap!’’ serunya.

Sayang, eh untung, eh… kalimat itu belum pernah sekalipun kusampaikan kepada Lawa. Apalagi pas sampai kalimat ’’aku jatuhkan talak satu kepadamu’’, aku pasti tak akan kuasa menyampaikannya. Karena sewaktu menikah, Lawa pernah berpesan kepadaku, aku boleh melakukan apa saja, menjatuhkan apa saja, termasuk martabatnya. Tapi aku tak boleh menjatuhkan talak, meskipun itu hanya satu. Baginya, talak adalah nyawa.

’’Jangan main-main dengan talakmu. Aku bisa mati,’’ katanya sejak dulu.

Provokasi demi provokasi yang disampaikan Leman sangat membebaniku. Hari-hariku selalu dengan renda pulang kampung; mengadu dan meminta maaf kepada Bunda; menjumpai Zahra, meminta maaf kepadanya, dan menyuntingnya. Kemudian, setelah menikah kami akan mempunyai anak. Aku ingin lima orang, dua perempuan tiga lelaki. Keluarga sebanyak itu bagiku sudah cukup membuat hari tuaku jadi bahagia. Zahra, dulu pernah mengatakan hanya ingin punya anak empat orang. Dua pasang. Sedangkan aku ingin lebih banyak dari itu. Bila perlu satu peleton. Ah, lima atau empat, atau berapapun, itu hanya hitungan sebuah jumlah. Pada intinya, kami ingin karena kehadiran anak-anak itu kami bisa membina sebuah keluarga.

’’Kalau lihat bentuknya, Zahra tu subur. Kedalaman lubuknya sejuk. Peranakannya bagus,’’ Leman terus memprovokasiku. ’’Kalau dilihat Lawa, rahimnya terlalu jauh. Rahimnya panas,’’ lanjutnya.

Leman sering bertindak seperti dukun beranak. Padahal aku tahu, dia tak tahu apa-apa. Tapi bagiku, itu cukup menghibur. Paling tidak bisa memberikan justifikasi kepadaku untuk membuat sebuah tindakan kelak.

Semakin hari, bayang-bayang akan Zahra dan kehadiran sejumlah anak, membebaniku teramat sangat. Zahra dan calon anak-anak kami kini benar-benar menjadi episentrum rindu bagiku. Tekad itu perlahan mulai membulat; suatu saat, kalau dapat jangan terlalu lama, aku harus pulang kepada Zahra. Membina rumah tangga dengannya. Dan aku harus meninggalkan Lawa.

Tapi, apa akal? Tak mungkin rasanya aku menceraikan Lawa. Apalagi dengan alasan karena belum punya anak. Sangat naif. Sangat tidak fair. Hukuman yang tidak seimbang. Pasti aku dianggap zhalim. Apalagi kami punya kesepakatan, persoalan anak adalah hal yang tak boleh lagi kami bicarakan. Cukup dilakukan. Kami juga tidak boleh mencari-cari siapa yang salah, apalagi kalau harus bercerai hanya karena itu.

’’Kalau aku memang ditakdirkan tidak akan punya anak, cukupkanlah kebahagiaanku karena memilikimu. Tuan adalah tapak berpijak, sandaran yang lunak. Hatiku sudah cukup berbahagia dengan memiliku Tuan,’’ kata Lawa.

Untuk memantapkan hati dan menghilangkan kesan hati yang berselingkuh, aku selalu membangun opini yang positif tentang aku, Lawa, dan hubungan suami-istri kami. Aku selalu mendeskripsikan sosok Lawa kepada siapapun sebagai perempuan yang sebenarnya sangat sempurna dan sangat pantas untuk dicintai. Aku juga menegaskan di dalam hati bahwa Lawa adalah perempuan ketiga yang mampu mengisi hatiku. Seorang perempuan yang hidup dalam kesendirian. Seorang perempuan yang sudah kucintai sepenuh hati. Mustahil aku akan meninggalkannya. Tak ada alasan apapun, sekalipun soal anak itu. Bukankah soal anak adalah urusan Tuhan? Bukankah kami baru menjalani pernikahan ini dalam umur yang masih sebentar? Kalau tak dapat tahun ini, tahun depan, atau tahun depannya lagi. Bilangan tahun itu bisa tak berbatas. Ada orang yang menikah sampai 10 tahun baru punya anak, ada pula yang 20 tahun. Ya, jalani saja. Seperti kata Lawa, kalaupun kami harus ditakdirkan tidak akan punya anak, kami cukup berbahagi dengan rasa saling memiliki.

Tapi, mengapa jauh lebih banyak orang yang dengan mudah mendapatkan anak dari pada yang susah? Mengapa pula rasa bahagia memiliki anak adalah kebahagiaan lain yang tidak dapat digantikan apapun?

Antara pulang dan tidak, antara menceraikan Lawa dan tidak, terus menjadi kecamuk dalam hati dan otakku. Pemikiran ini ternyata mampu merasuk dan mempengaruhi kehidupan sehari-hariku. Perubahan itu bisa dirasakan Lawa. Perubahan sikap dan cara aku menyayangi dia, tidak pure lagi. Ada sesuatu yang menyelinap, menjadi kersik, menjadi miang yang menggatalkan, menjadi duri dalam daging. Benar kata orang, hubungan suami-istri selalu ditautkan oleh perasaan yang tak mungkin didustai. Bergetar saja ujung urat nadi suami, pasti akan dirasakan seorang istri. Patah saja sebatang ranting di hati suami, sang istri sudah pasti akan tahu. Apalagi kalau suami memikirkan perempuan lain, tak ada kesah do. Pasti akan terbongkar juga rahasia tu.

Rasa penasaran dan kecurigaan Lawa itu semakin terasa saat menjelang Idul Fitri tahun pertama kami menikah. Ketika aku minta izin kepadanya untuk pulang ke kampung, rasa penasaran Lawa berubah menjadi buah gundah. Dia semakin merasakan gundah itu ketika aku bersikukuh tak mau mengajaknya ikut serta. Alasan keamanan di perjalanan tak mampu menipunya. Upayaku untuk menipu perasaannya tidak berhasil sama sekali. Akhirnya, aku memang tak jadi pulang kampung.

Lalu, tahun pertama berjalan seperti biasa. Aku terus mencoba untuk mempertahankan rumah tangga kami, menyiangi kembali kebun cinta yang sempat bersemak. Lawa juga begitu. Rasa sayang dan perhatiannya kepadaku semakin terasa. Pertengkaran kecil soal rencana kepulanganku di Hari Raya itu, sudah diatasi. Kami sepakat untuk kembali ke status quo. Dia mencoba lebih bergairah dalam membina biduk rumah tangga ini. Kami sama-sama menghilangkan kesan mencurigai dan dicurigai. Seakan tak pernah terjadi apa-apa.

Bahkan, tahun itu Lawa mengajakku berusaha lebih giat. Bukan hanya di balik kelambu, tapi juga untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Dia mengajak membuka lahan perladangan. Kebetulan pula, saat itu hampir semua orang di kampung membuka lahan hutan untuk ladang baru. Kata Lawa, perladangan itu nantinya untuk bekal kalau sudah punya anak nanti. Bila kami nanti punya anak, tentu kami bisa mewariskan sesuatu untuk mereka. Jujur saja, rasa dan harapan akan punya anak itu masih membuncah di tahun-tahun pertama itu.

Jauh di lubuk hatiku yang tersimpan rapi, membuka lahan dan menambah harta untuk Lawa paling tidak akan bisa menjadi bargaining bagiku bila harus meninggalkannya suatu saat nanti. Paling tidak, jaminan sosial dan ekonomi sudah jelas ada. Bila aku meninggalkan Lawa dengan harta yang cukup, tentu dia tak akan merasa sangat keberatan. Paling tidak, dia bisa memaafkan aku, walau itu tak dari dalam hati. Paling tidak pula, ketika aku meninggalkannya, dia tak akan mati tak makan.

Maka kukerahkan semua tenagaku untuk membuka lahan itu. Berhari-hari kadang kami tak pulang. Kami memandah di pondok ladang yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari kampung. Aku bertanam apa saja. Ada padi, pisang, sayur-sayuran, cengkeh, getah, dan lainnya. Kadang terasa letih, bahkan teramat letih. Namun hal itu tidak membuatku menyerah.

Apakah badan letih ini yang menyebabkan aku tak punya anak? Karena terlalu penat di ladang sehingga tak kuasa lagi di ranjang?

Hampir saja aku bisa melupakan rasa ingin pulang kampung, menjumpai Zahra. Namun kedatangan Leman setiap tiga bulan, membuat bayang-bayang itu terus menyita alam pikirku. Dia selalu menyampaikan pesan-pesan dari Mahat.

Gondang oguong sudah berbunyi, calempong dipukul tingkah-bertingkah, lemang tapai sudah diampai, anak sunting melambai-lambai. Adat merantau adalah pulang, adat berguru mendapat ilmu, adat anak mengabdi kepada ayah bunda, adat kawan ingat-mengingatkan, adat janji ditepati, adat sumpah jangan dimamah, adat bujang dengan anak dara, seperti aur dengan tebing, mati sekubur dia berdua, tak hidup aur kalau tak tebing, tak tahan tebing kalau tak ada aur…

Kalimat itu bukan lagi seperti diucapkan, tapi dinyanyikan. Leman pandai betul menggubahnya menjadi syair. Tiap kali, selalu kalimat itu yang dia syairkan kepadaku. Untung, dia tak pernah menyampaikan hal itu kalau Lawa di sampingku. Kalau sempat Lawa tahu, bisa mati aku. Atau, apakah Lawa benar-benar tak tahu? Aku juga tak yakin, sebab beberapa kali Lawa memergokiku sedang melantunkan syair itu.

Tahun kedua ladang itupun bertambah. Kalau tahun pertama cuma sembilan galang, kini kami naikkan hingga 20 galang. Tahun ketiga naik sampai 30 galang. Tahun keempat jadi 50 galang. Kini cengkeh sudah mulai berbunga. Harumnya semerbak memenuhi luang-luang kebun. Rimbun. Ketika dia mulai berbuah, aku jadi lebih bergairah. Kelopaknya yang merah menyala selalu mampu meningkatkan gairah dan adrenalinku untuk terus berusaha.

Tahun keenam, aku bisa memperbaiki rumah soko Domo, rumah Lawa, berkat penjualan cengkeh. Aku juga bisa membeli sebidang tanah bencah di samping kampung untuk bertanam padi sawah. Di samping rumah, lumbung padi yang biasa kami sebut ongkiang dan dua buah kepuk di salang rumah, sudah penuh dengan bulir-bulir padi. Tinggal menumbuknya untuk dijadikan beras. Sedangkan kebun getah, dalam tiga tahun ke depan sudah pula bisa ditakik.

Usahaku berhasil. Jailawa boleh sedikit berbangga dengan harta yang ada. Dari penjualan pisang saja, biaya hidup minggu ke minggu sudah cukup. Sedangkan padi yang disimpan di ongkiang dan kepuk, itu dijadikan sebagai simpanan.

Tapi, soal anak, tetap belum ada. Sudah enam tahun, bahkan mencapai tujuh tahun, sang buah hati itu juga tak kunjung datang. Hatiku benar-benar risau. Risau dengan sandiwara yang sudah kulakoni sampai tujuh tahun. Risau dengan pengharapan yang tak beroleh jawaban. Gejolak ingin meninggalkan Lawa, terus membuncah dan memunggah. Walaupun terus kuredam dan pendam jauh di lubuk hati, rasa itu semakin kuat ingin menyeruak ke permukaan.

Sampai akhirnya, di malam itu, ketika rasa itu sudah tidak tertahankan lagi, akupun pergi. Meninggalkan Lawa yang tertidur pulas setelah semalam penuh menunaikan tugas seorang istri di atas tempat tidur. Aku bulatkan tekad. Aku nekat. Tak ada yang bisa menahanku untuk bertahan di Poro. Tidak Jailawa. Tidak harta. Yang ada di benakku hanya tiga kata; Bunda, Zahra, dan anak. Ketiganya menari riang di pikiranku. Tak bisa lagi kumaafkan diriku kalau tak memenuhi tiga kata itu pada tahun ini. Tujuh tahun menyia-nyiakan mereka sudah cukup bagiku. Sudah saatnya aku pergi dari Lawa, dan kembali kepada Bunda dan Zahra.

Oh ya, dua bulan lalu Leman kembali datang ke Poro. Dia kali ini bercerita dengan sengguk tangisnya. Dari bibirnya yang hitam meluncur cerita pilu tentang penantian seorang Bunda dan Zahra. Katanya, tujuh tahun adalah angka yang terlalu lama untuk menguji sebuah kesabaran. Lebih dari tujuh tahun, biasanya pintu maaf akan tertutup, kesabaran akan berakhir. Angka tujuh adalah penutup bilangan keramat atas penciptaan. Tentang tujuh lapis langit, tujuh lapis bumi, tujuh benua, tujuh samudra, tujuh keturunan, tujuh hari, tujuh malam, tujuh sumpah, dan segala angka tujuh yang keramat.

Ketersiksaan dua perempuan yang semakin lekat di hatiku itu, telah memantapkan diriku untuk pulang ke kampung di Mahat. Bahkan, aku sudah berjanji dan memastikan bahwa aku akan pulang ke Mahat. Waktunya, jelang bulan pulotan, sekitar sebulan jelang bulan puasa.

Mendengar kalimat itu, Leman pulang ke Mahat membawa kabar yang dianggapnya paling membahagiakan itu. Tapi, sebulan kemudian dia datang lagi. Kali ini dengan kabar yang lebih menggila. Bunda dan Zahra seperti orang gila karena bahagia. Bahkan, mereka sudah mempersiapkan segalanya. Sebuah pesta. Tujuh hari tujuh malam. Tujuh ekor kerbau sudah ditambat, siap untuk dibantai. Tujuh ampaian lemang sudah siap untuk didiang.

’’Ini bukan hanya pesta Bunda atau Zahra, ini pesta orang sekampung kita,’’ kata Leman memberi semangat kepadaku.

Dan, inilah. Kini aku dalam sebuah perjalanan panjang. Perjalanan yang sudah kurencanakan sejak tujuh tahun lalu. Perjalanan yang akan mengantarkanku ke Mahat, ke pelukan Bunda, ke kelembutan dan kedalaman air mata dan peranakan Zahra.

***

Dari kejauhan, aku sudah melihat Kampung Tanjung. Seperti Poro, kampung itu juga di bibir sungai. Berjuntai. Mungkin karena letaknya yang agak menjulur ke sungai makanya dinamakan tanjung. Nampaknya, hampir semua perkampungan di kawasan XIII Koto Kampar berada di pinggir sungai. Maklum, mata pencaharian serta transportasi masih sangat mengandalkan Sungai Kampar.

Dari tempatku berdiri, di pulau sungai yang membentuk pantai, Kampung Tanjung masih ada setengah jam perjalanan lagi. Dia persis berada di belokan sungai. Dekat beting. Biasanya, bila banjir bandang mulai surut, beting itu menjadi tempat utama menangkap ikan dengan tangguk. Arusnya yang deras membuat ikan tak kuasa untuk tidak menepi. Dan, di tepi sungai itu pula puluhan penangguk ikan siap memangsa.

Kampung itu pernah menjadi tempat persinggahan sementara saat aku lari dari kamp Salo, sekitar delapan tahun lalu. Kali ini kampung itu kurencanakan lagi sebagai tempat persinggahan. Kali ini juga dengan status pelarian. Bukan dari Belanda, tapi dari Lawa. Aku sangat berharap kalau Mak Etek Ijum masih hidup dan aku bisa menumpang di rumahnya untuk bermalam agak semalam.

Ketika aku baru selesai melaksanakan shalat Ashar di rumput pulau sungai, sekonyong-konyong ada seseorang melambai-lambai dari kejauhan. Aku melihat sekeliling, siapa tahu dia melambai kepada orang lain, bukan kepadaku. Namun di sekelilingku tidak ada sesiapa kecuali dia dan aku. Pasti dia melambai kepadaku. Kucoba pastikan apakah dia melambai untukku atau tidak. Kudengar pula dia berteriak memanggil. Namun suaranya sayup-sayup terdengar, tertelan riak air dan ngarai sungai.

Aku menunggunya mendekat. Dari sosoknya terlihat seperti perempuan. Rambutnya agak masai bergerai diterpa angin pantai sungai. Baju kurung dan kain pinggang yang agak sempit membuat dia berjalan agak menjungkit-jungkit. Kelihatannya dia sulit melangkah sebab pasir sungai seringkali menghirup kakinya yang melangkah seperti sumpit.

Masya Allah. Seorang perempuan yang sangat jelek. Sungguh, sangat jelek. Aku tidak bermaksud menghina. Tapi perempuan ini memang sangat jelek. Kulitnya hitam legam, seperti arang. Bahkan, terkesan lebih hitam dari arang. Dia pakai baju merah dan selendang kuning. Dari jauh, sangat terkesan kalau dia seperti tunggul hitam dililit api. Seperti tahi di atas batu. Setelah dekat, aku bisa memastikan kalau gigi geraham bawahnya ompong sebagian. Sebagiannya lagi menghitam entah dimakan apa. Rambutnya pendek keriting dan kusut masai. Selendang kuning yang mengerudunginya tidak mampu menambat rambutnya yang berkirai. Dia menjinjing sebuah bungkusan kain, juga dari kain buruk. Mirip orang gila. Aku hampir saja lari ketakutan kalau dia tidak tiba-tiba menyeru.

’’Tuaan…’’

Dia memanggil dengan suara agak parau. Kali ini sudah sangat dekat. Aku melihat dia benar-benar kesulitan menghela tubuhnya meninggalkan lautan pasir itu.

’’Tuan… Apakah Tuan melihat suamiku tadi lewat di sini?’’ tanyanya setelah benar-benar dekat denganku.

Ups. Aku hampir mengulang kata suami dengan nada ejekan. Perempuan ini punya suami? Siapa yang sudi menjadi suaminya?

’’Pasti suami dia jeleknya minta ampun,’’ aku berburuk sangka dalam hati. ’’Apa, Dik? Suami?’’ aku mengulang pertanyaannya.

’’Iya, suamiku tadi subuh pergi. Katanya dia mau kawin lagi,’’ katanya. Kali ini dia mengacak pinggang.

Aduh... Suaminya pergi? Mau menikah lagi?

Analisa sederhanaku, sangat beralasan seorang suami akan meninggalkan perempuan seperti dia. Bukankah dari penampilan saja dia sangat tidak layak dijadikan sebagai istri? Jadi wajarlah kalau suaminya pergi, dan kawin lagi.

’’Tak ada. Saya tak lihat siapa-siapa. Lagi pula, saya tak kenal dengan dia,’’ aku coba menjawab sekenanya. Sekadar menghargai dia.

’’Orangnya macam Tuan inilah,’’ katanya sekadar memberi inisiasi.

Wah. Bisa gawat ini. Reputasiku sebagai lelaki gagah bisa terlipus semuanya. Bagaimana bisa orang seperti aku mempunyai istri seperti dia?

’’Masa iya suaminya seperti aku. Apakah aku sepantaran dengannya?’’ aku membatin. Agak tersinggung. Dan sedikit sombong.

’’Iya. Orangnya macam Abang inilah. Dia disuruh kawin lagi oleh mamaknya,’’ katanya lagi meyakinkan. Nampaknya dia melihat keraguanku.

Tapi, tunggu dulu. Suaminya pergi subuh tadi? Orangnya macam aku? Mau kawin lagi? Disuruh mamaknya? Wah, mengapa ada kemiripan dan dimiripkan dengan statusku sekarang. Satu lagi, mengapa sekarang dia memanggilku dengan katang Abang? Macam sudah akrab saja.

’’Tidak. Ini tidak benar. Hanya kebetulan. Mana mungkin?’’ kataku. Masih dalam hati.

Perempuan itu menghempaskan pantatnya di pasir putih. Dia nampak sangat kelelahan. Aku perhatikan lekat-lekat dari dekat. Ternyata perempuan ini tidak hanya hitam wajahnya, tapi juga tengkuknya, lengannya, betisnya, bahkan bibirnya. Lehernya yang agak terbuka ketika angin menyibak selendangnya, terlihat bersisik, macam ikan. Wuih, benar-benar tak kusangka ada orang sehitam dan sejelek ini.

Selain itu, perempuan ini juga bau. Anyir. Akupun mengambil jarak. Mencari bagian puting angin.

Cukup lama kami terdiam dalam diam. Sejurus kemudian, aku beristighfar. Menyadari kalau aku sudah terlalu banyak berburuk sangka kepadanya, menghinanya. Aku tiba-tiba teringat kepada Allah yang menciptakan manusia. Bukankah perempuan ini manusia juga? Mengapa aku harus menghina bentuknya? Bukankah orang yang paling mulia di sisi Allah tidak ditentukan oleh bentuk rupa dan warna kulit, melainkan dari hati dan ketaqwaannya?

’’Belum tentu hatinya sehitam bentuknya. Belum tentu pula aku jauh lebih baik dari pada dia,’’ batinku.

Aku agak menyesal. Lalu, aku melunakkan suaraku, mengubah pola pandangku.

’’Sudah shalat Ashar, Dik?’’ aku menyambung kata batinku ke bahasa verbal yang bisa didengarnya dengan jelas.

’’Aku tak shalat, Bang. Lagi datang bulan,’’ katanya lugas.

Wah. Perempuan ini benar-benar pantas dihina. Sudahlah bentuk jelek, adabnya juga jelek. Belum sempat aku membangun simpati, dia malah sudah membuatku jadi benci. ‘Kan tidak layak kalau seorang perempuan buka-bukaan soal haid di depan lelaki yang belum dikenalnya! Kesabaranku yang baru dibangun, hampir runtuh oleh sifatnya yang tidak berbasa-basi.

’’Jadi, Adik mau kemana lagi?’’ kataku agak tegas.

’’Aku harus mencari suamiku itu. Dia harus pulang. Ngapo pergi tidak cakap-cakap. Tak jantan betul menjadi suami,’’ katanya. Masih dengan lugas dan ketus.

Waduh, hatiku tersinggung lagi. Skenario yang dibuat suaminya hampir sama dengan skenario yang kini sedang kujalani. Apakah semua lelaki akan berbuat serupa bila ingin meninggalkan istrinya?

’’Bang, dimana kampung terdekat di sini? Nampaknya sudah malam. Aku takut ni…’’ katanya sejurus kemudian.

Aku nampaknya jadi serba salah menghadapi perempuan ini. Mau marah, tak mungkin. Kasihan, dia terlihat sangat payah. Mau tak marah, hatiku sudah kesal dengan sikapnya. Apalagi ada pula kemiripan yang disampaikannya. Padahal, aku tidak ingin seseorang pun yang mengetahui atau menyadari kondisiku sekarang ini. Ingin rasanya aku meninggalkannya di pantai sungai ini. Tapi itu juga tak mungkin. Nampaknya dia benar-benar tak tahu harus kemana. Mau membawanya ikut serta, apa kata orang? Dia nantinya juga akan menjadi beban dalam perjalanan ini. Lagi pula, dia bukan muhrim bagiku.

’’Di mana kampung suami Adik?’’

’’Namanya tahu, Bang. Katanya Muaro. Tapi aku tak tahu dimana dan tak pernah ke sana. Katanya, tak jauh dari Mahat,’’

Seerrr… Darahku kembali berdegup lebih kencang. Aku benar-benar tak terima dengan beberapa kebetulan ini. Mengapa pula Tuhan mengirimkan seorang wanita yang sangat tidak kukenal dalam perjalanan ini? Mengapa terlalu banyak kebetulan dalam kehidupannya dengan kehidupanku?

’’Eh, Bang. Dimana kampung terdekat? Hari lah menjelang maghrib ni,’’

Dia menyadarkan lamunanku.

Aku melihatnya sekali lagi. Benar-benar tak pantas aku ajak turut serta dalam perjalanan ini.

Tapi rasa iba terus menyelinap.

’’Ya, sudah. Ikut saya saja dulu. Di ujung beting itu ada kampung Tanjung. Ada mak angkat aku di sana,’’ kataku.

Dia nampaknya senang. Berkali-kali dia terkekeh. Air liurnya sesekali muncrat.

’’Ah, sungguh tak sopan. Pantas ngkau ditinggal suami,’’ batinku.

Kami berjalan agak jauh. Dia berada beberapa langkah di belakangku. Selain bisa dianggap tabu, aku juga tak ingin bersisian dengannya. Bau! Bisa rontok semua bulu hidungku sebelum sampai ke rumah Mak Etek Ijum.

Beberapa lama perjalanan, kampung yang dituju sudah di depan mata. Tak sulit bagiku mencari rumah Mak Etek Ijum. Aku sudah hapal jalan ke rumahnya karena pernah tinggal hampir sebulan di sana. Rumah itu tak terlalu besar. Bagian depan dan samping kiri-kanan dindingnya menggunakan papan yang diarit. Bagian belakang dan dapur masih menggunakan kulit kayu. Atapnya dari daun padang yang dijalin. Yang agak berubah, aku melihat di bagian depan rumahnya kini sudah ada plangkin untuk tempat duduk. Nampaknya masih baru.

’’Assalamualaikum…’’ seruku.

’’Assalamualaikum…’’ perempuan di sampingku itu ikut menyeru pula.

’’Huh. Kenapa pula dia ikut-ikutan? Tak sopan betul. Mencari perhatian betul,’’ kataku dalam hati.

Dari dapur kudengar orang bergegas.

’’Waalaikum salam…’’ suara Mak Etek Ijum.

Perempuan tua itu menjulurkan kepalanya di pintu depan. Rambutnya masih dililit selendang.

’’Markoni?’’ Dia nampak terkejut. Dia berlari turun jenjang rumah. ’’Kemana saja kamu nak… Ngapo tak pernah memberi kabar lagi samo Mak kau ni? Mak pikir Ngkau sudah mati dikejar Belanda dulu,’’ katanya.

Dia tiba-tiba memelukku. Nampaknya dia sangat rindu. Dulu, dia kutinggalkan tanpa pamit. Aku pergi dari rumahnya dan meninggalkan kampung Tanjung saat tentara Belanda melakukan penggeledahan di kawasan itu. Mereka mencari para pelarian seperti aku. Dan, aku tidak ingin tertangkap lagi. Kalau tertangkap, bisa-bisa aku mati dimakan lintah buntal di kamp Salo.

’’Mana Pak Ngah, Mak?’’ aku bertanya sesaat kemudian.

Tiba-tiba dia melepas peluk. Dia menatapku sekejap. Dan kemudian dia memelukku lagi. Kali ini dia menangis. Air matanya membasahi kerah bajuku.

’’Pak Ngah kau lah meninggal Koni… Lah dua tahun. Mak kini sendiri saja di rumah buruk ni,’’ dia berucap di antara isak tangisnya yang terdengar sangat berat.

Aku jadi salah tingkah. Merasa berdosa ketika bertanya soal Pak Ngah, suaminya. Kucoba menenangkannya dengan memegang kedua bahunya.

’’Innalillaahi wainna ilaihi rajiuun… Sabar ya Mak…’’

Dia melepaskan pelukannya. Kemudian, dia menarik tanganku. Mengajak masuk, menaiki jenjang rumahnya yang terbuat dari kayu.

’’Naiklah ke rumah. Nanti kita bercerita panjang. Mak terkenang betul dengan ngkau tu,’’ katanya. ’’E, ngkau dari mana? Dari Mahat ‘kan?

Aku terdiam. Mak Etek Ijum memang tidak tahu tentang Poro. Dia hanya tahu aku punya satu kampung, yaitu Mahat.

’’Ngapo tak ajak Bunda ngkau?’’ tambahnya lagi.

’’Aku tak dari Mahat, Mak. Aku dari Poro,’’ kataku.

’’Poro? Dekat jembatan kayu yang dibangun Jepun tu?’’

Aku mengangguk. Tak ingin membuka debat lebih panjang.

Aku memang hanya tinggal sebulan di rumah Mak Etek Ijum. Tapi karena anak bujang satu-satunya mati ditembak Belanda, kehadiranku waktu itu sangat besar artinya bagi mereka. Mereka menganggapku sebagai anak sendiri. Sayangnya, aku tak bisa berlama-lama tinggal di rumah mereka dulu. Karena tentara Belanda dan mata-matanya pada beberapa hari terakhir aku tinggal di sana, sering singgah ke kampung itu untuk mencari pelarian di sana.

Begitu langkah pertamaku menapak di dalam rumah. Tiba-tiba aku terkesiap. Aku terlupa. Rupanya aku tidak sendirian. Ada kawan baru yang tadi kutemui di pantai sungai.

’’Astaghfirullah… aku lupa,’’ aku menepuk kening. ’’Mak, aku ada teman. Tu masih di bawah,’’ kataku menunjuk.

Aku sedikit malu dan merasa bersalah terhadap perempuan itu.

Mak angkatku itu melirik ke bawah, mengamati perempuan itu.

’’Istri ngkau?’’ tanyanya.

’’Tak. Teman jumpa di jalan,’’ jawabku cepat. Aku tak ingin dihubung-hubungkan dengan perempuan itu. Aku melirik kepada perempuan hitam legam itu.

’’Yalah… kawan sudah berjumpa Mak. Awak ditinggal sendiri di luar. Tak bertanggung jawab betul. Macam inikah sifat semua lelaki? Suka melupakan perempuan yang pernah bersamanya?’’ perempuan itu meradang, tepatnya merajuk.

Aku kembali turun. Aku jemput dia.

’’Mari, masuk ke rumah Mak aku ni,’’ ajakku.

’’Iya, naiklah nak,’’ sahut mak angkatku dari rumah.

Dia masih merajuk. Tapi aku tak mau lagi membujuk.

’’Mau naik atau tidak? Kalau tidak, jangan salahkan kami. Di sini banyak babi hutan berkeliaran. Babi sini main seruduk saja,’’ kataku.

’’Hah… babi? Mati aku… awas, aku nak naik,’’ katanya berteriak. Dia menyerobot naik ke rumah. Berkejaran memotong jalanku. Nampaknya dia sangat takut dengan babi hutan.

’’Hehehe…’’ aku menggeleng-geleng saja.

’’Siapa nama kawan kau tu, Koni?’’ tiba-tiba mak angkatku itu bertanya. Aku terkejut dan tak bisa jawab apa-apa. Sebab aku juga tak kenal namanya. Tadi aku memang tidak bertanya soal nama kepadanya.

’’Tiara, Mak,’’ jawab perempuan itu.

O… namanya Tiara. Cantik betul namanya. Aku baru tahu. Tiara adalah batu berkilau dan sangat berharga. Tapi, mengapa orangnya bisa seburuk itu?

Tak sempat terlalu lama bercerita, maghrib sudah jatuh. Pukulan ketuntung di surau tengah kampung bertalu-talu memberi isyarat agar orang-orang melaksanakan shalat.

Maghrib itu kami lalui dengan canda. Setelah menjadi imam, mak angkatku mengajak makan malam. Akupun membuka bungkusan yang kuambil subuh tadi dari tempat penyimpanan Jailawa. Ada rendang daging kijang, ada nasi ketan. Perempuan yang ikut bersamaku tadi, Tiara, juga mengeluarkan perbekalannya. Dia juga mengeluarkan rendang kijang, dan nasi ketan.

Aku memandangnya. Kok kebetulan?

Dia hanya tersenyum.

’’Eh, perbekalan kita sama yang Dik Tiara. Ngapo bisa kebetulan pula ya?’’ kataku sejurus kemudian.

’’Iya ya Bang, ini betul-betul hanya kebetulan. Abang tentu dimasakkan istri Abang. Sedangkan aku masak di rumah sendiri. Mana pula bisa sama,’’ katanya.

Dia berupaya melipus rasa penasaranku. Tapi aku tak habis pikir, bentuk rendang kijang dan bungkus nasi ketan kami mirip. Macam dibungkus oleh orang yang sama.

Aku cuma menggeleng-geleng.

Aku mulai makan. Mak angkatku juga makan dengan lahapnya. Tiara juga begitu.

Entah karena terlalu penat, aku tertidur lebih awal dibanding biasa. Aku tidur di ruang beranda. Mak angkatku dengan Tiara tidur di kamar tengah.

Paginya aku terbangun dengan badan sangat segar. Rupanya malam tadi aku tertidur lelap sekali. Perjalanan sehari penuh kemarin, telah mengundang penat yang sangat di tubuhku sehingga tidur pun menjadi sangat nyenyak. Tiara kulihat juga seperti itu. Begitu memperlihatkan wajahnya pagi itu, sepulang dari tepian sungai, dia nampak tersenyum gembira.

Ada yang sedikit berbeda pada wajah perempuan itu. Kini dia tidak lagi selegam kemarin. Paling tidak, sudah tidak kusut. Dia lebih segar. Dingin air sungai nampaknya sudah mendatangkan beberapa tetes cahaya di wajahnya. Aku sempat beberapa detik melihatnya dengan seksama. Tapi pagi itu aku tak memberikan komentar apapun.

Pagi itu juga, setelah meminta izin kepada Mak Etek Ijum, aku melanjutkan perjalanan ke Mahat. Sebenarnya dia belum mengizinkan aku meninggalkannya. Namun ketika kusampaikan bahwa Bunda dan Zahra sudah menunggu di kampung, dia malah memintaku untuk secepatnya melanjutkan perjalanan ini.

’’Salam buat Bundamu ya. Nanti jangan lupa, kalau suasana sudah tenang, ajak Bunda dan Zahra ke sini. Saya nak menengok pula macam mana bentuk intan payung seperti kata ngkau tu,’’ katanya.

Mak angkatku memang sudah tahu cerita tentang Bunda dan Zahra. Ketika tinggal di rumahnya beberapa tahun lalu, aku memang banyak bercerita tentang kedua perempuan itu kepadanya. Makanya, ketika kemarin aku datang bersama seorang perempuan, buruk rupa pula, dia sempat terkejut dan cemberut. Dipikirnya itu adalah istriku. Karena dari dulu dia selalu memberi semangat dan berpesan agar aku menikah dengan Zahra.

’’Jangan cari juga lagi perempuan lain. Zahra tu sudah pas untuk jadi istri ngkau,’’ katanya.

Ketika embun pagi belum sepenuhnya kering di dedaunan, kampung Tanjung sudah kutinggalkan. Tiara, perempuan hitam yang hadir dalam perjalananku kemarin, tetap ikut bersamaku. Jujur, aku terbebani dengan kehadirannya dalam perjalanan ini. Namun dengan berbagai alasan kemanusiaan dan keterpaksaan, akhirnya aku ajak juga dia. Apalagi, Tiara terlihat keras kepala, berkulit badak, dan bermuka kuali. Malam tadi sebenarnya sudah kusampaikan tak mungkin mengajaknya, namun itulah, dia tampil dengan berbagai alasan yang sulit juga kutolak.

Selain terbebani, sebenarnya aku juga risih. Ketika meninggalkan rumah mak angkatku, kami terpaksa melewati jalan kampung untuk melanjutkan perjalanan. Eh, perempuan degil ini malah membuatku tambah kesal. Dia tak mau berjalan di belakangku. Dia mengambil posisi bersisian. Macam orang laki-bini. Sengaja pula bercanda kalau di depan orang banyak.

’’Kalau tak merasa kasihan, sudah kutepuk kepala budak ni,’’ batinku.

Sikap Tiara di perjalanan memang sering memusingkanku. Kadang dia minta berhenti. Kadang dia minta minum. Kadang dia terduduk pula di bawah pohon sambil mengurut-urut kakinya. Huh, untung saja dia tak minta digendong. Kalau sudah minta gendong, benar-benar jatuh gengsiku.

Tapi ada juga untungnya dia bersamaku. Hal ini kurasakan setelah lama kami berjalan. Sikap nyinyir dan suka bercandanya, ternyata membawa berkah juga bagi perjalanan ini. Paling tidak, ada juga hiburan pelengah-lengah hati. Jadi tak sunyi. Jadi ada kawan untuk berbagi. Tiara pandai berpantun, pandai pula berteka-teki. Beberapa kali, pantun dan teka-tekinya cerdas. Tapi lebih banyak pantun dan teka-tekinya yang tak mengena. Ya, kadang dia suka berpantun dan berteka-teki cabul. Harusnya pantang. Dan satu lagi, tertawanya membuatku kadang malu hati. Macam bukan perempuan saja. Tak punya adab dan tak memperhatikan adat. Tak seharusnya dia tertawa seperti itu. Macam cigak dapat pisang saja. Ramai dan hiruk.

Ketika matahari sudah di ubun-ubun, kami berhenti di sebuah tebing sungai. Penat juga rasanya kaki ini. Punggung yang membawa beban perbekalan, juga terasa sangat pegal. Apalagi, beberapa kali Tiara memintaku untuk ikut memikul beban perbekalannya.

Aku menselunjurkan kaki. Melemaskan kembali otot betis dan paha yang terasa mau keram. Meletakkan beban di tanah untuk kemudian kujadikan sebagai sandaran. Tiara juga terlihat seperti itu. Tapi hanya beberapa menit. Dia kemudian turun ke sungai. Eh, rupanya terberak.

Aku tak hendak melihat ke bawah. Gengsi rasanya melihat orang terberak di sungai. Apalagi orangnya sangat hitam. Aku lebih memilih memejamkan mata, melepas penat, mengumpulkan tenaga untuk berangkat melanjutkan perjalanan nanti.

Baru saja aku tidur selayang, Tiara sudah berada di sampingku. Dia mencipratkan air dingin ke wajahku.

’’Hoii… tidur saja Abang ni. Tak nak melanjutkan perjalanan? Atau, kita sudah sampai?’’ katanya setengah menghardik.

Aku mengelap wajahku yang terciprat air. Aku baui, untung tak bau berak.

’’Ah, dikau ni tak beradab betul. Orang baru nak istirahat sudah diganggu. Tak boleh lihat orang senang. Penat aku ni!’’ kataku protes.

Tiara hanya senyum kambing.

Lalu, dia membuka buntalan perbekalannya. Aku turun ke sungai untuk membasuh muka.

’’Kita langsung makan siang kan, Bang?’’ tanyanya.

’’Serah ngkau lah,’’ teriakku dari bawah tebing.

’’Aku tunggu. Tak sedap makan sendiri,’’ katanya lagi.

Aku tak menjawab. Kemudian, aku membasuh muka, dan terberak pula. Beberapa kali aku melihat ke tebing, takut Tiara mengintip.

Ketika aku sampai di atas tebing, aku lihat Tiara sudah membentangkan kain panjang. Di atasnya sudah ada pinggan, cangkir, dan makanan. Di perbekalan, ada nasi ketan, ada kapituok goreng balado.

Sekilas aku terkejut. Sebab, aku juga akan mengeluarkan makanan jenis itu. Di buntalan perbekalanku memang ada nasi ketan dan kapituok goreng balado. Menurut Jailawa, ketika dia mempersiapkan perbekalan, pada hari kedua dalam perjalanan memang kami akan memakan penganan ini. Aku agak ragu mengeluarkannya. Namun kemudian keraguan itu kuhilangkan begitu saja. Mungkin dalam setiap perjalanan, makanan jenis ini sudah dianggap sebagai perbekalan wajib. Jadi, ya, mungkin saja akan ada persamaan bagi semua perantau.

’’Tak mungkin sama, Bang. Abang dimasakkan istri Abang, sedangkan aku masak sendiri,’’ kata Tiara saat aku mengeluarkan perbekalan. Dia berkomentar tanpa kuminta sama sekali.

Akhirnya kami makan berdua. Tak ada makanan yang harus dibagi, karena keduanya memang sama. Aku melihat bentuk giling dan goreng cabainya juga sama. Besar ukuran ikan kapituok-nya juga sama. Besar bungkus nasi ketannya juga sama, warna dan minyak nasi ketan itu juga sama. Jadi, karena sama-sama, tak ada yang patut untuk dibagi.

Kali ini aku lebih banyak diam.

Tiara juga diam.

Hanya kunyah nasi di mulut saja yang terdengar. Kecipak mulut Tiara terdengar lebih kuat. Sekali lagi, makan tak beradab.

’’Jangan dilihat lagi persamaan perbekalan kita, Bang. Abang tentu dimasakkan istri Abang, sedangkan aku masak sendiri di rumah. Mana pula bisa sama. Mungkin sama bentuknya, tapi tak sama enaknya. Makanan yang dimasak istri Abang tentulah lebih enak dari pada masakan orang macam aku ni,’’ kata Tiara memecah alam lamunanku. Nampaknya dia ingin mempertegas pernyataannya menjelang makan tadi.

Aku memandang kepadanya. Dia menebak sekaligus menjawab rasa bingungku atas persamaan kali ini. Nampaknya dia mengulang kembali kalimat yang disampaikannya malam tadi saat makan malam di rumah Mak Etek Ijum.

Aku kemudian tersenyum. Seakan mengiyakan apa yang disampaikannya.

Suasana kembali hening. Yang terdengar hanya kecipak mulut Tiara yang tak beradab.

Ketika aku turun tebing untuk membasuh tangan ke sungai, tiba-tiba ada suara mendekat. Kali ini derap sepatu dalam jumlah banyak. Berikut juga suara orang-orang yang bahasanya tak kukenali. Seperti menggumam. Tepatnya, memekak dalam bentuk gumam.

Aku terkejut. Begitu selesai membilas tangan, aku langsung berlari ke atas tebing. Ya Allah, betapa terkejutnya aku. Ternyata di tempat aku makan tadi, telah berdiri empat orang lelaki berseragam, ada pula dua orang yang berpakaian orang kampung. Orang yang berseragam itu mengenakan sepatu laras, ada senapan yang sudah dikokang, ada topi koboi yang menutup kepala. Mereka adalah tentara Belanda. Setelah Jepun kalah, tentara Belanda memang kembali datang ke Indonesia dengan maksud untuk menjajah. Kepada kami, mereka bicara berteriak-teriak. Tapi aku tak paham maksudnya. Walau pernah ditahan di kamp tawanan Belanda beberapa bulan, tapi aku tidak begitu mengerti maksud mereka. Atau, mungkin tentara Belanda ini masih baru di sini sehingga bahasa Belanda-nya sangat asli.

Dan, Tiara, kini sedang dipegang oleh seorang lelaki yang berpakaian kampung.

Aku terkesiap bukan main. Takut tak kepalang. Apalagi Tiara, dia terlihat sangat ketakutan. Wajahnya yang hitam kini makin pasi. Tapi dia tak berteriak. Mungkin tak berani untuk berteriak.

’’Sedang ngapo Abang di sini?’’ bentak lelaki berpakaian orang kampung. Dia memandangku lekat-lekat.

’’Tak ada Bang. Kami dalam perjalanan pulang,’’ kataku gemetaran. Aku takut kalau-kalau ada salah satu dari mereka yang mengenaliku. Siapa tahu, ada yang dari Kamp Salo dulu. Kalau dia kenal aku, tentu aku akan masuk kembali ke kamp itu.

’’Ini siapo?’’ katanya. Dia menunjuk Tiara.

Aku terdiam. Bukan hanya takut karena bentakannya, tapi juga sulit memberi inisiasi terhadap Tiara. Disebut teman perjalanan, itu artinya akan menimbulkan beberapa kesimpulan bagi orang Belanda dan mata-mata itu; kalau tak gadis, pasti janda. Apapun statusnya, tentu Tiara akan menjadi korban pemerkosaan mereka. Bukankah di mana-mana kabar sudah beredar bahwa tentara agresi Belanda sangat suka memperkosa? Selain suka mengazab orang-orang kampung, tentara Belanda sangat suka memerkosa gadis atau janda. Apalagi kalau menemukan perempuan di perjalanan, biasanya mereka tanpa basa-basi.

’’Dia bini saya, Tuan,’’ kataku sejurus kemudian. Kata-kata itu melompat begitu saja dari bibirku. Dalam hitungan per sekian detik, aku membuat kesimpulan dan kebijakan yang menurutku itulah yang terbaik. Karena aku sadar dan mengerti, Tiara bisa diselamatkan bila dia kuakui sebagai bini.

’’Bini?’’ batinku.

Aku tak percaya dengan kata-kata ini. Bagaimana aku bisa dengan berani mengakui perempuan hitam itu sebagai bini? Bukankah ini bisa menjatuhkan martabatku sebagai lelaki gagah?

’’Iya Tuan, dia bini saya. Kami dalam perjalanan pulang ke rumah. Mau menengok Bunda di kampung menjelang puasa ni. Sudah lama kami tak pulang kampung. Tolong jangan dibentak bini saya Tuan. Dia hamil muda. Itu anak pertama kami,’’ kataku.

Kata-kata itu mengalir deras dan terkesan tidak dibuat-buat sama sekali. Aku juga bingung mengapa bisa menyampaikan kalimat bohong itu tanpa harus tergagap sama sekali. Nampaknya, dengan kata-kata itu pula mereka terlihat percaya. Buktinya, lelaki berpakaian orang kampung tadi melepasnya. Tentara Belanda itu juga sudah menurunkan senapan yang sudah dari tadi dikokangnya.

Kemudian mereka bersiap untuk berangkat meninggalkan kami.

’’Cari bini yang cantik sikit Bang. Abang harusnya bisa dapat yang lebih putih dari dia ni,’’

Lelaki yang tadi mencengkeram lengan Tiara berbisik di telingaku. Dia tersenyum. Kemudian pergi meninggalkan kami.

Aku tak bisa bicara apa-apa. Tiara nampaknya juga masih lemas. Dia terduduk sambil memandangiku. Dari rona wajahnya nampak sekali dia ingin menyampaikan ucapan terima kasih. Namun aku kemudian memalingkan wajah, memandang ke air sungai Kampar yang mengalir.

Sungguh lama kami terdiam, sampai akhirnya aku kembali turun ke sungai. Mengambil wudhu, kemudian shalat Zhuhur. Sehabis shalat, aku terbawa ke dalam zikir yang panjang, doa yang khusyuk. Berterima kasih karena siang itu kami selamat dari penangkapan tentara agresi Belanda.

Ketika aku selesai shalat. Tiara sedang membereskan perbekalan. Kali ini bukan hanya buntalan perbekalan dia yang dibereskannya, tapi juga perbekalanku. Kali ini dia sudah tidak ketakutan seperti tadi lagi. Dia mencoba tersenyum saat memandangku.

’’Bini?’’

Kali ini aku kembali mengingat kata-kata tadi. Apa perasaan Tiara saat kusebut dia sebagai bini? Apakah dia sangat bersyukur, senang, atau hanya bersikap biasa saja, menganggap bahwa tindakanku itu sudah sewajarnya dilakukan? Aku pikir, dia pasti sangat bersyukur. Pasti dia tak pernah berpikir akan mendapat laki segagah aku. Yang jelas, aku tak ingin ada konsekuensi apa-apa setelah ini. Aku tak ingin irama perjalanan ini jadi berubah setelah aku menyebutnya sebagai bini.

’’Mari kita berangkat. Masih takut?’’ kataku kepada Tiara.

Dia menggeleng. Perempuan hitam legam ini kemudian menyerahkan buntalan perbekalanku. Dia menjinjing sendiri buntalan perbekalan dia.

Kami melangkah, melanjutkan perjalanan ini. Mahat masih jauh. Apalagi Muaro, kampung suami Tiara. Perjalanan ini masih memerlukan waktu minimal dua hari dari sekarang.

Setelah keluar dari kampung Tanjung pagi tadi, aku berencana akan bermalam di Kumontan, tak sampai setengah hari perjalanan ke Salo. Paginya nanti, kami akan melanjutkan perjalan ke Rantau, terus ke Batu Bersurat dan akan bermalam pula di sana.

Kali ini langkah kami agak lebih cepat. Matahari sudah turun, dan kampung Kumontan masih jauh. Ada yang agak berbeda antara aku dan Tiara sekarang ini. Aku tak mempermasalahkan kalau dia berjalan bersisian denganku. Malah, kuanggap itu lebih baik. Karena, di sepanjang jalan ke arah Kumontan ini, ternyata sudah banyak tentara Belanda yang lewat. Bila sudah berpapasan dengan tentara agresi itu, kami biasanya berjalan lebih merapat. Kadang Tiara mendekat, kadang aku. Kadang, Tiara tak segan-segan memegang tanganku. Apalagi kalau jumlah tentara agresinya banyak, Tiara tak segan-segan memeluk lenganku.

Nampaknya dia takut.

Sebenarnya aku juga takut.

Tapi, mengapa aku tak risih lagi ketika Tiara coba memeluk lenganku? Apakah aku tiba-tiba merasa suka?

’’Abang ‘kan suamiku. Mengapa harus takut? Aku senang bepergian dengan Abang. Abang memang pemberani!’’

Aku masih merasa terkejut dengan kata-kata yang menusuk gendang telingaku. Ternyata Tiara merespon cepat kata-kataku tadi. Oh, tidak. Nampaknya itu bukan suara Tiara. Aku melihat ke arah perempuan itu. Aku ingin memastikan bahwa itu bukan kalimat dia. Ternyata, memang iya. Bukan dari Tiara, tapi hasil lamunan dan ketakutanku. Dari tadi Tiara memang tak berucap apa-apa. Dia masih sibuk melihat-lihat.

Kalau ingat soal bini tadi, aku tiba-tiba dihinggapi rasa takut yang aneh. Sebenarnya tidak aneh, bahkan menurutku sangat wajar. Aku bukan bujangan lagi. Aku sudah punya istri. Aku sudah tak selayaknya mengatakan bahwa perempuan lain sebagai istriku. Aku sudah punya istri di Poro. Orangnya lawa, seperti nama orangnya; Lawa. Aku juga akan punya calon istri di Mahat, namanya Zahra, semerbak harum bunga seperti juga namanya. Tak mungkin aku akan tertarik dengan Tiara. Walau namanya mampu mengalahkan kebesaran arti Lawa dan Zahra, tapi orangnya tidak sama sekali. Tak sepadan nama dengan orangnya. Tiara berutang kepada nama.

Kampung Kumontan sudah dekat. Dari tempat kami berdiri, aku bisa mendengar suara azan Ashar. Aku tahu asal suara azan itu. Pasti dari musalla yang terletak di tepi sungai Kampar itu. Biasanya, jemaah surau itu mengambil wudhu langsung di tepian sungai.

Kami berhenti sebentar. Melepas penat, sekaligus menunaikan shalat Ashar. Aku sengaja tidak menjamak shalat dalam perjalanan ini. Walau boleh, tapi aku tak mau. Lagi pula, sepanjang perjalanan ini aku akan selalu menyusuri tepi sungai. Jadi, kapanpun waktu shalat masuk, aku bisa berhenti, mengambil wudhu, dan shalat. Sekaligus, berhenti shalat ini bisa kumanfaatkan sebagai waktu untuk istirahat dan mengumpulkan tenaga.

Sambil menungguku shalat, Jailawa membuka perbekalannya. Dia menyantap beberapa limpiang daun bomban. Begitu aku selesai shalat dan melihatnya asyik melahap lepat pulut yang dibungkus daun bomban itu, aku kembali terkesiap. Bukankah limpiang tersebut juga ada bersamaku?

Aku tak bertanya. Karena aku tahu, jawabannya pasti sama seperti yang disampaikan Tiara beberapa waktu lalu.

Di Kumontan, kami bermalam di rumah kepala kampung. Dia sangat baik dan menerima kami bermalam di sana dengan senang hati. Aku tidur bersamanya di ruang depan. Sedangkan Tiara tidur bersama istri dan anak-anaknya di kamar tengah. Malamnya kami makan bersama. Juga shalat berjamaah.

Tapi sebelum tidur, tiba-tiba Tiara terdengar menggumam. Dari balik dinding, terdengar jelas dia mengigau, juga menggigil. Tak lama kemudian, Mak Tusi, istri kepala kampung, memanggil kami. Kali ini dengan suara agak berat.

’’Tiara nampaknya demam. Sinilah, Tuan!’’ katanya memanggil kepala kampung itu.

Aku berdiri lebih cepat dibanding kepala kampung. Aku agak berlari memasuki kamar tengah itu menyusul sang kepala rumah tangga. Di atas dipan beralas kasur kapuk, aku melihat Tiara berbalut selimut kain panjang. Mak Tusi menambah dua helai selimut lagi. Tapi gigil Tiara berlebih-lebih. Dia mengaku sangat kedinginan. Kupegang telapak kakinya, satu-satunya daerah badannya yang putih itu ternyata seperti bara api. Seperti tungku penjerangan. Ooo… dia kena panas dingin. Panas di luar, dingin di dalam. Penyakit ini menjadi salah satu tanda demam malaria!

’’Mungkin malaria!’’ seru Mak Tusi.

Aku dijemput rasa takut. Aku tak bisa membayangkan kalau Tiara benar-benar kena malaria. Penyakit mematikan itu memang sangat sulit menemukan obatnya. Hampir di semua kampung, penyakit ini sudah banyak merenggut nyawa. Termasuk nyawa ayahku di Mahat, dan juga mertuaku, ayah Lawa istriku di Poro. Kalau kemudian Tiara harus meninggal, dan kebetulan pula seperjalanan denganku, apa yang harus kukatakan nanti kepada suaminya di Muaro?

Kepala kampung bertindak cepat. Dia langsung membuat obat. Pucuk betik di belakang rumah ditambah dengan bunga-bunganya, dia tumbuk halus di dalam lesung bersama dengan jadam arab. Tak perlu terlalu lama. Ditambah dengan sedikit garam dan sedikit gula enau, ramuan pucuk betik itu kemudian diperas airnya. Dapat setengah gelas. Kemudian, minuman obat itu diberikan kepada Tiara. Dalam gigilnya, perempuan yang matanya terlihat sudah sangat layu itu, menelannya.

Pahit. Tiara terlihat mau berucap kata-kata itu. Tapi itu diucapkannya hanya dengan mengerutkan dahinya. Aku juga tahu, minuman itu sangat pahit. Pucuk betik yang pahit bercampur dengan jadam arab yang juga sangat pahit. Tapi, rasa pahit itu pula yang dipercaya mampu menahan laju serangan demam malaria. Rasa pahit itu akan menawarkan racun yang berasal dari gigitan nyamuk hawa tropis tersebut.

Baru saja minuman itu menyentuh lidah dan memasuki kerongkongannya, Tiara nampak mau muntah. Namun mulutnya cepat dibekap Mak Tusi. Dia didudukkan supaya sari pucuk betik itu cepat turun ke perut, tidak terlalu lama di pangkal tekak. Tiara kembali mau muntah. Badannya membungkuk seperti udang galah. Kali ini Mak Tusi memberinya segelas air putih hangat-hangat kuku. Langsung diminum dengan cepat oleh Tiara.

Kelihatannya, sekarang dia lebih enteng. Dia tidak ingin muntah lagi. Rasa mual itu perlahan-lahan hilang.

Tiara kemudian dibaringkan. Kemudian lima lapis selimut ditimpakan ke tubuhnya. Masih kurang, Mak Tusi kemudian menambah sebuah kasur kapuk plus ikut menjerembabkan tubuhnya di atas tumpukan selimut. Mak Tusi mengatakan, kalau terkena demam panas-dingin, semua orang harus diperlakukan seperti itu. Bahkan, katanya, dia pernah terkena serangan demam seperti ini. Dua tumpuk selimut pun, kadang tidak terasa. Karena dingin itu tidak berasal dari kulit, tapi menyusup dan meriap dari tulang-belulang tubuh.

Sementara, perempuan dalam bekapan selimut itu terlihat sangat kasihan. Tiara sangat kepayahan. Namun dia tetap meringkuk, menggigil, dan meracau entah mau bicara apa. Sesekali hanya terdengar kalau dia sangat kedinginan. Dia juga minta ditambah selimut. Di sela gigilnya yang panjang, beberapa kali terdengar dia memanggil-manggil dengan perasaan yang dalam, kerinduan yang tak terperi.

’’Tuan… tuan…’’

Ya Allah, aku sangat takut. Belum pernah aku melihat orang yang terkena penyakit seperti ini. Belum pernah pula aku menemukan orang merindu di saat yang memang sangat perlu. Aku kemudian menarik kepala kampung.

’’Apa tak sebaiknya kita panggil bomo, Pak?’’ kataku, ‘’bomo biasanya terkenal pintar mengobat orang,’’

’’Boleh juga. Biar aku jemput bomo Rohim. Semoga saja dia ada di rumah,’’ katanya. Kemudian dia bergegas keluar rumah. Menembus malam, dan hilang di kegelapan.

Dari balik dinding papan kamar tengah, aku bisa mendengar dengan jelas perkembangan Tiara. Ada sedikit lega membalut perasaanku. Gigil yang sedari tadi terkesan mampu mengguncang rumah ini, sudah mulai berkurang. Seperti angin, kalau sebelumnya adalah topan, kini sudah berangsur-angsur mereda. Mulut Mak Tusi yang sebelumnya selalu melontarkan doa dan rasa belas kasihan, kini juga mulai terdengar hanya satu-satu.

’’Bagaimana Tiara, Mak? Sudah berkurang?’’ tanyaku.

’’Agak kurang. Tapi panasnya masih tinggi,’’ kata Mak Tusi dari dalam kamar.

Tiba-tiba aku merasa sangat senang mendengarnya. Kali ini bukan rasa senang yang dibuat-buat. Tapi senang yang berasal dari lubuk hati. Senang mendengar kalau Tiara sudah agak sehat. Senang kalau dia ternyata tak kena malaria. Senang karena dia tidak harus meninggal dalam perjalanan ini. Bersamaku pula.

Untuk memastikan, aku kembali masuk ke kamar tengah. Kulihat Tiara memang sudah tidak ditimbun lagi dengan kasur kapuk. Hanya ada tiga helai kain panjang plus selimut tebal. Kasur kapuk yang tadi menghimpit tubuhnya, kini sudah dielakkan. Walau matanya masih sayu, Tiara sudah bisa menyunggingkan selarik senyuman. Senyum itu dilemparkannya kepadaku dengan sisa-sisa tenaganya.

Aku terkejut ditampar senyuman itu. Aku gelagapan. Aku tak bisa melihat seperti apa ekspresi wajahku saat itu. Tebal rasanya. Dan, aku juga tak bisa memberikan reaksi apa-apa. Tamparan senyuman itu telah membatukan wajahku seketika. Bahkan tak bisa membalas dengan senyum walau hanya secuil.

Tiara kembali tersenyum kepadaku. Dia kemudian mengeluarkan tangannya dari balik selimut. Melambaikannya, memberikan isyarat agar aku mendekat.

Seperti kerbau tercucuk hidung, aku mendekat. Tiara tersenyum lagi. Kali ini sangat lembut. Sejak dua hari ini, aku tak pernah melihat dia tersenyum selembut itu. Tiara hanya kukenal sebagai perempuan kurang adab dan tak tahu adat. Perempuan pasar. Sebenarnya, selama ini dia selalu tersenyum kepadaku. Tepatnya bukan tersenyum, tapi menyeringai, menjulungkan bibirnya, memperlihatkan giginya yang sebagian ompong itu. Tapi, kali ini, dia benar-benar tersenyum. Tapi, sekali lagi, mengapa dia bisa tersenyum selembut itu? Mengapa aku merasakan senyumnya itu sangat lekat dan dekat? Mengapa aku merasakan senyumannya itu sangat berarti? Apakah karena aku merasa kasihan melihat penderitaannya sehingga aku jadi lebih melankolik, sehingga senyuman yang sebenarnya biasa saja itu tapi terasa sangat luar biasa bagiku? Atau, bisa saja dia selama ini tersenyum seperti itu, hanya saja aku tidak pernah memerhatikannya.

Aku mendekati Tiara yang terbaring lemah. Kupegang ujung kakinya. Kali ini tidak lagi sepanas tadi. Kupegang lengannya, panasnya juga mulai reda. Kupegang keningnya, terasa ada air yang melekat di sana. Rupanya dia berpeluh. Keringat dingin yang tadi menggumpal dan menyumbat di pori tubuhnya, kini sudah keluar. Aku rasa, ramuan yang diminum Tiara tadi sangat manjur dan langsung bereaksi.

Saat kupegang keningnya, Tiara membuka matanya. Tiba-tiba dia memegang tanganku. Aku terkejut, mau menepisnya. Tapi dia memandangku dengan sayu. Seperti pandangan mengiba seorang istri yang berharap agar suaminya tidak pergi.

Aku tiba-tiba merasa iba, tak kuasa berbuat kasar. Ada suatu pusaran yang menyedot lubuk hatiku untuk menggenangi hatinya yang mengering. Aku tak ingin membuatnya berpatah hati kalau aku menarik tanganku. Atas dasar itu semua, akhirnya kubiarkan saja tanganku itu dalam genggamannya. Dia terlihat senang. Kemudian, perlahan dia mendekatkan jemariku ke bagian pipinya. Pipinya pipih. Walau hitam, tapi lembut. Di bidang yang sebenarnya terlihat cumil itu, kurasakan lebih basah dibanding bidang yang lain. Sepertinya bukan peluh. Lalu kulihat ke pelupuk matanya, rupanya ada air yang menggenang di sana. Dia menangis. Tiara menangis. Tapi dia tak bersuara sedikitpun.

Aku lepaskan jemarinya. Tiara agak keberatan seakan tak membiarkan aku melepaskan kulit arinya. Ketika kuberikan seulas senyum, dia baru mau melepaskannya. Dan, kemudian jemariku beralih ke rambutnya yang masih kusut. Mengelusnya dengan rasa sayang. Aku coba kirai rambut itu. Sebenarnya rambut itu cukup bagus. Cuma sepertinya tidak pernah diurus. Kalau diurus, pasti bisa mengalahkan rambut Lawa, istriku. Bedanya, rambut Tiara lebih pendek. Cuma sebahu. Sedangkan rambut Lawa sepinggul. Kalau Lawa berjalan dan melepaskan sanggulnya, rambut itu selalu menampar-nampar pinggulnya yang juga menari-nari. Kalau Tiara berjalan, kupikir rambutnya akan membuka-tutup lehernya yang jenjang itu. Eksotik yang mana, ya? Menampar-nampar pinggul atau membuka-tutup leher? Hmm… dua bagian tubuh yang selama ini selalu kupuja!

Saat kuelus rambutnya, ada dua hal yang terbit di dalam hatiku. Pertama, aku ingin memberi semangat agar Tiara bisa tegar dalam menghadapi cobaan ini. Aku sangat berharap dia sembuh, dan menyambung perjalanannya. Bagaimanapun, dia adalah kawan seperjalananku. Akan banyak pertanyaan-pertanyaan yang akan tumbuh kalau terjadi apa-apa dengannya.

Kedua, di dalam hatiku sebenarnya aku sedang menghitung-hitung lebih-kurang Tiara dengan Lawa, juga dengan Zahra. Selintas pandang, perempuan yang meringkuk di balik selimut itu memang tidak ada apa-apanya dibanding kedua perempuan yang pernah mengisi ruang hidupku itu. Namun setelah kulihat perkembangannya dua hari belakangan ini, Tiara mulai terlihat lain. Dia seperti mutiara yang terendam lumpur. Kini, air perlahan-lahan telah membasuhnya. Dia mulai berkilau, walau baru sedikit. Tapi gerakan kilau Tiara sangat nyata. Dia berlari cepat. Dalam dua hari saja, aku sudah menemukan perubahan besar dalam cara pandangku.

Lihat saja bibirnya. Belah katupnya berhasil mencuri pandangku. Garis-garis bibirnya sangat mirip dengan bibir Lawa, istriku. Bedanya, lebih hitam dan terkesan sangat kering. Sedangkan bibir Lawa, warnanya merah muda, dan selalu basah. Lihat pula alis matanya, lebih tebal. Lebih hitam. Dia bertengger di atas dua mata yang bagian hitamnya sangat bening.

Sebenarnya aku ingin menyentuh bibir lembut itu. Tapi itu urung kulakukan. Terlalu berisiko kalau kulakukan hal itu. Sebab, kalau kupegang keningnya, aku masih punya alasan untuk mengecek panas tubuhnya. Kalau kupegang rambutnya, bisa dengan alasan agar dia lebih tegar karena ada orang yang sayang kepadanya. Kedua sisi tubuh itu, biasanya tempat menyalurkan energi sugesti. Tapi kalau kupegang bibirnya, atas alasan apa? Bukankah bibir merupakan salah satu bagian tubuh yang paling privacy, paling sensitif? Aku tak ingin kalau Mak Tusi menangkap gelagat yang berubah dari diriku.

Berubah?

Sebenarnya sejak pagi tadi, gelagatku memang berubah terhadap Tiara. Saat dia selesai membasuh wajah, Tiara terlihat lebih segar. Hatiku bergetar. Apalagi ketika siang, ketika tentara Belanda menangkapnya. Gelagat hatiku benar-benar tak bisa kukendalikan. Aku bahkan berani mengatakan dia sebagai bini, istriku. Jujur, kalimat itu terlontar bukan hanya sebatas untuk menyelamatkan nyawa dan marwahnya sebagai perempuan, tapi ada sedikit banyaknya berasal dari dalam hati.

Pola pandang dan rasa hatiku memang berubah terhadap Tiara. Tapi, perubahan itu sebenarnya masih sangat sedikit. Dari perasaan benci dan tak mau tahu menjadi mulai iba dan kasihan kepadanya. Lagi pula aku memang tak berniat untuk memandang lebih jauh dan merasakan dia lebih dekat. Bukankah aku sudah punya istri yang sah; Lawa? Bukankah aku juga akan punya istri yang sangat rupawan, cinta pertamaku; Zahra? Sekali lagi, bila membandingkan Lawa, Zahra dengan Tiara, tentu tidak berbanding sama sekali.

’’Jadi, aku senang atau sayang kepada Tiara?’’ batinku.

’’Ah, itu hanya sesaat. Kita sering merasa kasihan terhadap orang yang dalam kesusahan. Jangan masukkan ke dalam hati. Bila dia sudah cukup tegar dan tak perlu lagi dikasihani, rasa itu pun akan hilang seperti debu di atas batu,’’ kata sudut batinku yang lain. Nampaknya kali ini hati kecil yang berbicara.

’’Assalamualaikum…’’ kepala kampung datang dengan bergegas. Di belakangnya menyusul seorang bomo. Di tangannya tergenggam sebungkus ramuan.

’’Bagaimana kondisi anak dagang ni? Masih parah?’’ tanya kepala kampung kemudian.

’’Sudah agak berkurang, Tuan. Tapi kami tak paham juga. Mungkin Tuk Bomo lebih tahu,’’ kata istrinya menyahut.

Lalu, sang dukun yang biasa dipanggil Tuk Bomo pun duduk bersimpuh di samping Tiara. Dia memegang lengan perempuan itu. Kemudian keningnya, membuka kelopak matanya, dan kemudian memegang ubun-ubunnya.

Tuk Bomo mendehem. Dia mengeluarkan bungkusan yang dibawanya tadi.

’’Masih ada empu kunyit?’’ katanya kemudian.

’’Ada Tuk, masih ada di dapur. Biar saya ambilkan,’’ kata Mak Tusi.

’’Ambilkan tiga. Kalau bisa empu kunyit tunggal,’’ katanya lagi.

Mak Tusi bergegas ke dapur. Tak lama kemudian, dia pun hadir di ruang tengah. Di tangannya ada tiga empu kunyit tunggal. Sebesar ibu jari kaki. Dia menyerahkan kepada Tuk Bomo.

Lelaki di ambang senja itu mengeluarkan pisau. Lalu dia mengelupas kulit ari satu empu kunyit, dibelah dua, dan diletakkannya di atas punggung tangannya. Sejurus kemudian dia berkomat-kamit membaca mantera sambil tangannya membuat putaran. Hup, empu kunyit itu dilemparkannya ke lantai. Sebelah tertelungkup, sebelahnya lagi tertelentang.

Lalu dia mengambil empu kunyit kedua. Dia melakukan hal yang sama. Empu kunyit ketiga juga begitu. Namun empu kunyit yang ketiga ini semuanya tertelungkup. Dia pun mengangguk. Empu kunyit yang tertelungkup itu dipungutnya dan isinya digaris. Kemudian Tuk Bomo membuat garis menyilang di kening Tiara. Kemudian di dagunya, di perutnya, di lututnya, di tumitnya, di ujung-ujung jarinya.

’’Dia ditegur makhluk halus. Terkena dekat tebing di hilir sungai,’’ katanya kepada kami menyampaikan hasil visum ala dukun.

Aku mengangguk-angguk. Kepala kampung dan Mak Tusi juga. Aku cukup terkejut ketika dikatakan terkena di tebing di hilir sungai. Dari mana Tuk Bomo tahu?

Kemudian Tuk Bomo mengambil sebutir telur ayam kampung dan menggelindingkan di keningnya, turun ke hidung, dagu, leher, dada, perut, dan memutar di sana sampai satu putaran untuk kemudian singgah di bagian pusar. Waktu melewati bagian dada dan perut, telur itu digelindingkan di dalam baju. Aku jadi risih sendiri. Antara mau melihat dan membuang muka. Walau Tuk Bomo melakukannya dengan hati-hati, ada juga sedikit tubuhnya yang tersingkap. Ternyata perut Tiara putih, tidak sehitam kulit bagian luarnya. Lalu, telur itu dipecahkan di atas sebuah pinggan. Plok, ternyata di kuning telur itu terdapat bintil-bintil putih, seperti panau.

’’Roh makhluk halus itu sudah keluar. Sebagiannya sudah mati terkena telur ni. Selimutkan dia, biarkan istirahat. Tapi jangan tinggalkan dia seorang di kamar. Nanti kena tegur lagi, payah kita,’’ kata Tuk Bomo.

Aku mengangguk-angguk. Kepala kampung dan Mak Tusi juga.

Tuk Bomo disuguhi kopi. Kami pun menghabiskan penghujung malam itu di ruang depan rumah. Bercerita panjang ke hilir ke mudik. Di tengah percakapan yang panjang itu, aku sesekali teringat juga dengan analisa perdukunan Tuk Bomo terhadap Tiara. Kata Tuk Bomo, Tiara ditegur makhluk halus di tebing sungai. Tapi sepanjang pengetahuanku, Tiara memang ditegur. Tapi bukan oleh makhluk halus, melainkan ditegur bahkan ditangkap tentara Belanda. Mana yang benar?

’’Ah, mungkin Tiara masih shock dengan kedatangan tentara agresi tadi, makanya mendemam. Lagi pula, bagi seorang perempuan yang lemah, ditegur tentara agresi dengan ditegur makhluk halus sama-sama menakutkan,’’ batinku.

Paginya, kami menunda melanjutkan perjalanan. Aku melihat Tiara masih sangat lemah. Walau dia sudah bisa ke dapur membantu-bantu Mak Tusi, tetap saja aku melihat dia tak siap untuk perjalanan jauh. Sebenarnya pagi tadi dia sudah mengajakku berangkat, paling tidak menyuruhku berangkat lebih dulu. Tapi aku tak mau. Tak mau mengambil risiko kalau mengajaknya, dan tak mungkin meninggalkannya di kampung orang. Biarlah kami di sini dulu agak sehari, baru kemudian melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Waktu seharian di Kumontan, kuhabiskan untuk mencari ikan bersama kepala kampung. Dia mengajakku menjenguk tingkalak yang dipasangnya kemarin. Rupanya, kami hari itu benar-benar beruntung. Tingkalak yang digunakannya untuk memerangkap ikan, ternyata berhasil. Ada cukup banyak ikan yang terperangkap di sana. Ada kopiek, tilan, motan, dan lainnya. Bentuk tingkalak yang besar dan diisi dengan aneka jenis dedaunan dan buah-buahan makanan ikan, ternyata mampu mengundang makhluk air itu untuk bernaung di sana.

Jadilah malam itu kami pesta ikan. Tiara khusus memanggangkan ikan katuong untukku. Ikan katuong ini sekilas terlihat sangat tidak menarik. Badannya penuh sisik tebal dan keras. Punggungnya juga berduri. Namun jangan salah, kalau sudah dimasak, apalagi dibakar, ikan katuong ini ternyata sangat lezat. Hampir tak ada tulang di dagingnya selain tulang besar. Dagingnya juga enak dan berminyak. Panggang ikan Tiara juga terlihat sempurna; tidak hangus, tidak mentah, tidak terlalu asin, juga tidak terasa hambar. Enak!

Karena Tiara terlihat sudah benar-benar sehat, akhirnya keesokan harinya kami benar-benar berangkat. Mak Tusi dan kepala kampung sudah mengizinkannya. Tak lupa pula dia membungkuskan makanan untuk kami sebagai bekal dalam perjalanan nanti. Aku sangat berterima kasih terhadap pertolongan orang tua itu. Mereka memang sangat baik. Bahkan, Tiara sempat memeluk Mak Tusi sebelum berangkat sebagai tanda sayangnya.

Kali ini perjalanan kami tidak terlalu banyak yang istimewa. Tujuan kami untuk mencapai Salo menjelang siang, ternyata tidak begitu sulit. Jalan memang sudah bagus. Tentara Belanda dan Jepun yang bermarkas di sana, memang sudah membangun jalan itu sejak lama. Rumah penduduk, kedai, dan beberapa bangunan nampak sudah dibangun dengan semen. Bahkan beberapa mobil milik Belanda berselisih pula dengan kami. Tiara nampak sangat terkesima dengan kemajuan ini. Sedangkan aku tidak. Bagaimanapun, aku pernah beberapa bulan mendekam di kamp tawanan Salo. Jadi kemajuan seperti ini tidak membuatku tercengang.

Begitu melewati kamp tawanan, aku merasakan hal yang berbeda di sana. Tempatnya sudah tidak menakutkan lagi. Tentara agresi juga tidak mencurigai siapapun yang lewat, apalagi menangkapinya.

Dulu tak ada yang berani lewat sini. Kemungkinan ditangkap Belanda sangat tinggi. Di kamp ini, aku juga melihat banyak perubahan lain. Kolam lintah buntal yang berada tak jauh dari pagar, kini sudah bersemak. Nampaknya, kolam lintah itu sudah tidak dipakai lagi. Itu kuketahui dari penjelasan beberapa orang Salo yang kujumpai di jalan. Katanya, kamp tawanan itu kini murni menjadi markas tentara agresi saja. Tak ada tawanan yang dipenjara di sana. Bahkan, ketika Jepun masuk mengalahkan Belanda, semua tawanan dibebaskan. Dan sejak Belandang datang lagi, belum ada tawanan yang ditahan.

Sebenarnya hari masih siang. Kami harusnya masih bisa melanjutkan perjalanan hingga perhentian Rantau. Namun karena terbilang aman dan aku juga ingin melihat-lihat lebih jauh kondisi Salo, akhirnya aku dan Tiara menginap di daerah ini untuk satu malam. Lagi pula, kesehatan Tiara boleh dikata tidaklah pulih seratus persen. Jadi aku mengambil kesimpulan tidak memaksakan untuk berangkat.

Waktu petang hari di Salo, kami habiskan untuk berkeliling kampung. Kami juga menyusuri sungai, melihat orang-orang di pemandian tepian. Tiara juga pergi mandi. Dia membasuh tubuhnya yang hitam kelam itu. Tapi, tunggu dulu. Sebenarnya tidaklah terlalu kelam. Waktu pertama berjumpa dengan dia di pantai pasir sungai di Tanjung, perempuan itu memang teramat kelam, hitam gelap. Keling. Macam jadam. Tapi setelah melewati perjalanan hampir tiga hari denganku, boleh dikata kulit hitam itu perlahan-lahan mengelupas. Tepatnya, Tiara tak lagi sehitam waktu aku jumpai pertama. Wajahnya mulai terlihat agak jernih, rambutnya juga tak kusut masai lagi.

Apakah perubahan di tubuh Tiara benar-benar terjadi, atau hanya pemandanganku saja yang sudah berubah. Semacam kamuflase? Atau, karena aku sudah mulai menyukainya, maka pola pandangku jadi berubah?

Entahlah. Aku juga tak tahu persis soal pandanganku yang berubah. Dalam tiga hari perjalanan ini, aku merasakan ada perubahan yang sedikit demi sedikit terjadi di hati dan otakku. Tiara yang awalnya sangat tidak kusukai itu, perlahan-lahan menyelusup ke bilik hatiku. Aku sebenarnya mulai menyukai perempuan itu, walaupun itu tak pernah kuungkapkan sama sekali. Aku masih menjaga perasaan itu dengan sangat rapi. Lagi pula, aku sendiri juga bingung, bentuk suka terhadap Tiara itu masih entah seperti apa. Apakah karena aku suka kepadanya karena benar-benar suka, atau aku suka kepadanya karena aku hanya kasihan?

Dari kemarin aku mencari definisi itu, ternyata aku tidak bisa membuat kesimpulan apa-apa. Atau… aku jadi ingat cerita seorang kawanku saat masih di Mahat dulu. Namanya Jufri. Dia baru pertama kali merantau meninggalkan Mahat. Bujangan gatal itu ikut dengan sebuah rombongan perniagaan berpindah-pindah antar pasar. Kebetulan, dalam rombongan itu ada seorang ibu setengah tua yang sudah janda.

’’Bentuknya buruk rupa. Giginya ompong semua, kecuali ada dua yang masih melekat, itupun dilapis emas. Kalau dalam perjalanan, kainnya sering tersingkap. Jujur, aku tak suka atau tertarik sama sekali. Lah keriput sangat. Itupun, di pinggangnya melilit kurap selebar tapak tangan,’’ katanya saat mendiskripsikan perempuan yang diceritakannya itu.

Jufri memang bekerja kepadanya. Membantu-bantu. Kadang mengangkat barang, kadang juga ikut menjaga dagangan. Maka tak heran kalau Jufri sangat hafal dengan sosok perempuan itu. Apalagi, mereka memang suka berdagang dalam waktu lama. Kadang pergi sebulan, kadan tiga bulan tak pulang-pulang.

Disebutkannya, ternyata waktu dan kedekatan bisa mengubah segalanya. Kebersamaan dalam waktu lama telah mengubah cara pandang dan rasa hatinya terhadap perempuan itu. Perlahan-lahan, timbul rasa sukanya. Kemudian, timbul pula rasa ingin memilikinya.

’’Macam mana tidak. Waktu berangkat, bentuk mak tu lebih tua dari mak kita. Tapi bulan ketiga, dia nampak lebih cantik dari anak gadis umur 14 tahun. Lebih berminyak,’’ katanya dengan bahasa kelakar yang khas.

’’Rasanya, kalau pergi merantau lama tu, kambing pun diberi bedak bisa nampak macam bidadari,’’ lanjutnya lagi.

Apakah rasa sukaku terhadap Tiara seperti rasa suka Jufri terhadap majikannya? Tapi, aku baru tiga hari bersamanya. Mengapa bisa langsung berubah cepat?

Petang itu, pola pandang dan rasa hatiku kepada Tiara semakin menunjukkan gejala yang tidak mengenakkan. Atau, mungkin terbalik; sangat mengenakkan. Perempuan yang tiga hari lalu kukenal, kini sudah berubah jauh. Senyumnya lebih manis, pipinya lebih cumil, matanya lebih bersinar, dan satu hal yang membuatku sangat surprise, tutur kata, adab dan adatnya juga sangat berbeda kontras dengan waktu pertama kukenal. Dia jauh lebih sopan. Senyumnya juga tidak menyeringai seperti kerbau lagi. Gayanya berjalan tidak lagi seperti preman di pasar. Kulitnya juga tidak sehitam kemarin. Mulai bersih. Apakah selama ini dia tak mandi-mandi sehingga menjadi hitam? Apakah dia kini mulai mandi dan kelihatan lebih cantik disebabkan ada sesuatu yang diharapkannya dariku?

Mengapa dia benar-benar berubah?

Mengapa aku juga ikut berubah?

’’Abang tak mandi?’’ tanyanya petang itu. Di jinjingannya ada setumpuk kain yang sudah dicuci. Sebagiannya adalah pakaianku. Sejak dari Kumontan, Tiara memang sudah mulai mencuci pakaianku.

Saat dia memanggil dengan kata Abang, terasa sangat asing di telingaku. Tiga hari lalu, panggilan Abang itu terasa sangat menjijikkan. Suaranya sangat kasar dan tidak dengan hormat. Tapi panggilan Abang kali ini jauh lebih lembut, dan memberi kesan sangat menghormati.

Aku jawab pertanyaannya dengan seulas senyum saja. Aku memang mau pergi mandi. Aku juga tak ingin terlarut dalam sebuah suasana yang membuatku akan bertambah salah tingkah.

Setelah makan, malam itu kami habiskan dalam diam. Tiara nampak memberes-beresi perbekalan untuk keberangkatan besok. Aku tak lagi ingin melihat perbekalannya. Pasti akan banyak dijumpai persamaan. Aku coba semakin maklum, ini adalah perbekalan khas orang dalam perjalanan. Jadi sangat mungkin mengalami kemiripan.

Aku duduk di ruang depan. Rumah Pak Talib yang kami tempati, memang cukup luas. Dia menyambut baik kedatangan kami. Pak Talib adalah pejuang di Salo yang dulunya pernah ditangkap Belanda. Bagi Belanda, dia adalah ekstremis. Bahkan diumumkan sebagai musuh masyarakat yang harus ditangkap. Aku mengenalnya waktu sama-sama dalam kamp tawanan, beberapa tahun silam. Aku lebih dulu ditangkap dibanding Pak Talib.

Namun kemudian kami terpisah karena aku bersama beberapa tawanan yang lain berhasil kabur. Sedangkan Pak Talib baru keluar dari kamp ketika agresi Jepun datang untuk menggantikan agresi Belanda yang kalah telak sebelumnya.

Di dalam kamp itu kami memang seperti satu keluarga. Senasib sepenanggungan. Semuanya saling menolong. Karena tak ada lagi keluarga atau sanak yang lain selain sesama kawan di kamp ini. Lagi pula, menjadi penghuni kamp sama artinya dengan masuk dalam antre untuk dibunuh. Kalau kami tak kompak, apalagi saling salah menyalahkan, gerak daftar pembunuhan tawanan itu bisa berlari cepat. Pak Talib sendiri kami jadikan orang yang dituakan di kamp itu. Memang, secara umur dia juga sudah tua.

Menjelang tengah malam, ketika embun sudah lama turun, ketika kesibukan di Salo sudah tidak terasa lagi, mata pun tak kuasa menahan kantuk. Aku berangkat tidur. Tiara sudah dari tadi tertidur.

***

Mengapa lelaki lebih cepat tertarik dan mengucapkan cinta kepada perempuan dibanding perempuan terhadap lelaki? Mengapa lelaki lebih miang dan gatal dibanding perempuan? Mengapa lelaki lebih mementingkan nafsu dibanding perasaan padahal di sisi lain nafsu perempuan sebenarnya jauh lebih besar dibanding lelaki? Mengapa hampir semua lelaki punya keinginan memiliki istri banyak sedangkan perempuan sangat jarang punya suami lebih dari satu sekali pakai?

Pertanyaan-pertanyaan itu pernah menjadi diskusi yang panjang dan menarik antara aku dan Lawa. Dulu, ketika perkawinan kami memasuki usia keempat. Tema-tema seperti ini memang sangat menarik untuk dibicarakan. Apabila diskusi ini sudah dibuka, biasanya suasana menjadi cair. Bahkan cenderung panas. Lawa biasanya paling bersemangat. Bagi dia, dan juga bagi hampir semua perempuan, tema sensitif seperti ini sangat menarik untuk dibincangkan. Biasanya bila sudah masuk ke dalam ranah diskusi ini, pasti ramai. Rata-rata tak ada yang mau mengalah. Jangankan kalah, seri pun tak ada yang mau. Syariah yang memperbolehkan lelaki menikah sampai empat orang, tetap tak bisa diterima. Bagi mereka, ayat itu sangat tidak menghargai perempuan. Kalimat yang tidak sensitif gender.

Kalimat adil dalam ayat tersebut mereka jadikan senjata yang paling ampuh untuk menolak syariat poligami ini.

’’Yang adil itu hanya Allah dan rasulnya. Tak ada manusia yang bisa berbuat adil sama sekali. Artinya, Tuhan hanya berbasa-basi. Tak sungguh-sungguh membuka keran pernikahan lebih dari satu itu,’’ kata Lawa.

’’Huss… Masa Tuhan dikatakan basa-basi?’’ seruku.

’’Iya kan, basa-basi. Sudah dibukanya peluang, tapi ditutupnya rapat-rapat kemudian dengan kata adil. Kan, tak mungkin manusia berbuat adil,’’ kata Lawa tak mau kalah.

Anggapan mereka bahwa semua laki-laki punya keinginan dan kesempatan untuk menikah banyak karena pertimbangan memenuhi nafsu syahwat saja, begitu mengemuka. Sedangkan alasan bahwa lelaki menikah banyak karena ingin menolong perempuan seperti yang dilakukan Nabi Muhammad, mereka anggap hanya tipu daya. Soal yang satu ini, mereka tak mau kalah. Mereka tak suka. Cenderung mengingkari sunnah. Fasik. Bahkan cenderung mengarah kepada musyrik dan kafir. Bagi para perempuan itu, kalau sudah menjadi milik mereka, berpantang untuk dibagi dengan orang.

Lalu, aku menceritakan kepada Lawa tentang perubahan spesifik pada fisik dan psikis lelaki dan perempuan. Pada tubuh lelaki, dihuni tiga jenis rasa dan resa. Yaitu 10 persen otak, 89 persen nafsu, dan hanya satu persen perasaan. Di tubuh perempuan, dihuni 1 persen otak, 1 persen perasaan, dan 98 persen nafsu. Tiga rasa itu sangat mengemuka dan tergambar ke dalam kehidupan sehari-hari dua jenis insan ini.

Lelaki, dia punya keinginan dan nafsu syahwat yang kuat. Ada 89 persen. Tapi dia masih punya 10 persen otak. Sehingga dia punya kesempatan untuk berpikir; baik berpikir lebih tenang dan objektif, maupun memikirkan jalan untuk mengibuli perempuan agar bisa menikah lagi. Lelaki lebih mengagungkan akalnya dibanding perasaan. Itu ditandai, dalam mengambil tindakan, dia tak terlalu memikirkan perasaan orang yang akan terluka. Tentang istri yang akan merana, cemburu, atau tidak terima sama sekali, adalah urusan belakangan. Yang penting, secara logika, menikah lagi itu sah. Soal orang lain akan tersiksa, dia hanya memikirkan dengan satu persen perasaan saja.

Sedangkan bagi perempuan, sebenarnya dia punya nafsu yang lebih besar. Ada 98 persen. Sepuluh persen lebih banyak dibanding lelaki. Tapi karena perasaannya sedikit, cuma satu persen, dan otaknya juga sedikit, juga satu persen, akhirnya apapun yang dibuat jadi serba tidak terkontrol. Tak mau berkompromi. Tak berpikir dengan akal sehat. Sekali milik saya, selamanya milik saya, kata mereka.

Tentang formulasi yang kubuat tadi, Lawa membantahnya. Itu formulasi yang tidak berdasar sama sekali. Tak ada riset.

’’Itu kan Abang buat-buat saja. Banyak akal laki-laki nak berbini lagi,’’ kata Lawa dengan mencibir.

Biasanya pertengkaran itu tak pernah selesai. Tak ada kesimpulan.

Tapi sepertinya aku punya kesimpulan sendiri; apapun pendapat perempuan soal lelaki, semuanya mentah di lapangan. Buktinya, hampir semua lelaki menyatakan tertarik dan ingin berselingkuh dengan perempuan yang bukan istrinya. Minimal selingkuh mata, bagi lelaki yang benar-benar takut kepada istrinya. Bukti di lapangan juga menunjukkan, bagi orang yang punya duit agak lebih, mereka rata-rata mempunyai istri lebih dari satu. Ada yang sampai 10. Istilahnya, di mana ada kampung, di situ istri siap menampung. Di mana ada simpang, di situ istri siap dipampang.

Menikah lebih dari satu memang dibenci perempuan, namun pada kenyataannya tetap jalan terus bagi laki-laki. Aku juga melihat, pilihan tidak menikah lagi bagi laki-laki bukan karena tidak mampu, tapi karena takut. Mampu, sebenarnya bisa diusahakan. Tapi takut kepada istri, hmmm…

Sedangkan aku?

Sampai sekarang aku hanya punya satu istri; yaitu Lawa. Selama tujuh tahun, aku bertahan dengan segenap kelebihan dan kekurangannya. Apakah aku tertarik dengan perempuan lain selain dia? Jawabnya tidak. Tepatnya, sebenarnya ya. Tapi cuma pada satu orang, yaitu Zahra. Kekasihku yang tinggal teramat jauh dan sudah menjadi bagian masa lalu. Selain Zahra, aku tak tertarik sama sekali dengan perempuan lain. Jangankan berniat menikahi, bermain mata saja hamper tak pernah kulakukan. Padahal, aku sebenarnya punya kesempatan dan kemampuan untuk itu. Bagaimanapun, kehidupanku beberapa tahun terakhir ini cukup berada. Secara keuangan, aku sanggup melakukan itu. Tapi, sekali lagi, aku tidak ingin melakukannya.

Hatiku hanya tertambat kepada satu orang, eh, dua orang; yaitu Lawa dan Zahra?

Tunggu. Itu ternyata dulu. Sekarang, nampaknya deretan itu bertambah satu. Namanya Tiara. Seorang perempuan hitam yang kujumpai tiga hari lalu. Tiba-tiba, aku suka kepadanya. Malam ini harus kuakui dan tak ingin kupungkiri lagi, aku memang suka kepadanya. Sepertinya aku sudah punya definisi atas kesukaan ini. Bukan karena kasihan, tapi memang suka karena benar-benar suka. Walau tidak 100 persen, tapi rasa suka itu berlari sangat cepat. Dari benci di hari pertama, 10 persen di hari kedua, 30 persen di pagi hari ketiga, 60 persen di petang dan malam hari ketiga, dan kugenapkan jadi 99 persen saat dia memanggilku Abang plus sebuah senyum tulus petang tadi saat menyuruhku pergi mandi.

Hanya 99 persen? Sepertinya untuk sementara, ya. Sebenarnya sudah cukup 100 persen, tapi kini kutahan dulu, atau minimal tak kuakui yang 1 persen itu. Aku masih berpikir panjang untuk mengakui yang 1 persen itu. Kalau itu kuakui, bisa-bisa aku tak sempat sampai ke Mahat. Bisa-bisa aku menikah malam ini juga di Salo. Bisa jadi Zahra bukan yang kedua, tapi yang ketiga. Bisa jadi rencana dari Poro saat berangkat dulu berubah skenario.

Aku harus menunggu. Aku harus menahan. Kalau bisa, jangan sampai jadi. Lagi pula, Tiara sudah punya suami. Walau sudah ditinggal suaminya, tapi dia tidak mungkin kunikahi sekarang. Masih memerlukan proses. Tiara harus melewati masa iddah selama tiga bulan sepuluh hari. Lagi pula, aku tak bisa membayangkan kalau punya istri tiga orang. Satu di Poro, satu di Mahat, dan satu di Muaro. Tidak, rasanya ini masih belum adil. Paling tidak, aku harus menikahi Zahra dulu, membina kehidupan agak setahun-dua, dan kalaupun harus menikahi Tiara, itu bisa saja dilakukan pada tahun ketiga.

Huh, menikah untuk yang kedua saja belum, aku sudah memikirkan pernikahan ketiga. Bangunan rumah tangga yang pertama saja berantakan, apalagi harus membangun tiga rumah sekaligus. Dasar laki-laki! Miang!

***

’’Bolehkah aku tahu tentang kehidupan keluarga Abang?’’ tanya Tiara.

Aku menghentikan langkah kaki. Kupandangi perempuan itu sekilas. Dia tersenyum. Tak ada kesan ingin menghukum.

Perjalanan dari Salo kini sudah hampir mencapai Rantau. Tinggal menyeberang sungai Kampar untuk sampai ke kampung itu. Sepanjang pagi ini, kami lebih banyak bercerita tentang apa yang kami temukan di jalan. Jarang sekali kami berbicara dari hati ke hati. Bahkan beberapa jenak berjalan, kami hanya terpaku dalam diam. Aku coba kuatkan niatku untuk menunda pembicaraan soal hati dengan Tiara. Dia juga nampaknya seperti itu. Tak menyinggung-nyinggung soal hubungan kami.

’’Untuk apa? Bukankah rumah tangga adalah urusan di dalam rumah yang tak boleh diketahui orang banyak?’’ jawabku dengan tanya.

’’Tak usah cerita soal buruknya, yang baiknya sajalah. Lagi pula, saya tak yakin kalau Abang punya rumah tangga seperti saya yang kacau ini,’’ katanya.

Tiara memang terbuka kalau bercerita. Tak banyak basa-basinya. Dia tak malu mengakui kalau rumah tangganya kacau. Dia, sejak awal berjumpa, memang sudah bercerita tentang suaminya yang pergi meninggalkannya.

Dengan alasan bahwa Tiara adalah orang yang terbuka dan bisa dijadikan tempat mencurahkan perasaan, sekaligus ingin mendalami kedalaman lubuk hatinya, maka aku bercerita kepadanya tentang Zahra. Tentang seorang perempuan yang aku pernah berjanji kepadanya. Tentang seorang perempuan yang kini sedang menunggu, bahkan sudah menungguku sejak lama.

’’Tujuh tahun memang batas kesabaran yang sangat tinggi. Kalau aku, tak sanggup mungkin do,’’ kata Tiara meningkahi, ’’ingin aku kenal dengan perempuan seperti itu,’’ lanjutnya.

Aku sedikit tersanjung dengan pernyataan Tiara. Aku mengartikan niatnya untuk menjumpai Zahra sebagai bentuk kekagumannya. Itu artinya, Zahra memang perempuan yang baik, perempuan yang agung, yang hebat.

Cerita tentang Zahra pun mengalir deras. Tentang siapa dia, seperti apa dia, sampai sejauh mana hubunganku dengan dia, dan juga tentang janjiku kepadanya. Semuanya kuceritakan dengan lugas. Tak lepas pula kuceritakan tentang apa yang kini sedang terjadi di Mahat, tentang orang-orang yang sedang menunggu, tentang gondang oguong yang sudah dibunyikan, tentang helat besar sedang disiapkan, tentang anak dara yang siap menunggu di pelaminan.

’’Berarti, begitu sampai di Mahat Abang langsung menikah?’’ tanyanya.

Aku hanya menjawabnya dengan senyum.

Tiara hanya mengangguk-angguk. Tiba-tiba, terlihat ada kesan di wajahnya bahwa dia kurang suka saat aku menceritakan soal Zahra. Apalagi ketika pertanyaannya yang terakhir kujawab dengan senyuman. Mungkin karena aku terlalu memuji Zahra dan sebentar lagi akan menikah sehingga Tiara cemburu?

Wah, soal Tiara cemburu memang sempat menggodaku beberapa detik. Berarti, ada kemungkinan aku takkan bertepuk sebelah tangan? Ada kemungkinan Tiara benar-benar suka denganku. Mungkinkah dia mau menikah denganku setelah aku menikahi Zahra? Jadi yang kedua, eh, yang ketiga?

Lalu, kualihkan pembicaraanku tentang Lawa; Jailawa, istriku. Soal yang satu ini, belum pernah aku ceritakan sedikitpun kepada Tiara sebelumnya. Sejak berjumpa dengannya empat hari lalu, aku memang tak pernah menyinggung sedikitpun tentang Lawa. Ini kulakukan untuk memberi kesan bahwa aku bukan lelaki pecundang yang sedang lari dari istrinya. Juga jangan sampai terkesan bahwa aku termasuk kelompok lelaki yang berencana beristri lebih dari satu.

Di sisi lain, ceritaku tentang Lawa kusampaikan dengan pertimbangan lain pula. Awalnya aku tak mau menceritakan tentang masa lalu ini kepada Tiara, karena ini sama artinya dengan membuka aibku sendiri. Namun karena sudah kupertimbangkan masak-masak, akhirnya kuambil juga langkah ini. Aku juga ingin memberi kesan bahwa aku orang jujur. Tak ada yang harus ditutup-tutupi. Lebih baik Tiara tahu sekarang semuanya tentangku daripada dia baru tahu suatu hari kelak. Aku tak ingin kasus Lawa yang tak tahu tentang Zahra akan berulang pada Tiara yang tak tahu soal Zahra dan Lawa. Kalau Tiara tahu belakangan, ketika kami nanti sudah menikah, sekali lagi; kalau, pasti itu akan lebih menyakitkan.

Lagi pula, biasanya seorang perempuan akan sangat menghargai kejujuran laki-laki walaupun itu sangat menyakitkan. Salah satu bentuk kejujuran itu, ya, soal status tadi. Banyak perempuan yang bisa menerima kehadiran seorang suami orang untuk menjadi suaminya karena sang lelaki itu berkata jujur. Mereka siap dijadikan yang kedua, ketiga, atau entah ke berapa. Kalau sang lelaki bercerita tentang bagaimana duka dan tersiksanya dia dalam berumah tangga dengan seorang perempuan, bukan tak mungkin perempuan lain akan bersimpati dan berempati kepadanya.

Aku punya beberapa contoh. Salah satunya adalah Zahra.

Wah, nampaknya pada kasus seperti ini, adagium yang mengatakan bahwa kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana, termasuk untuk mendapatkan istri baru, bisa diterapkan.

’’Jadi Abang dah punya bini?’’ belum sampai habis ceritaku Tiara sudah menyela.

Aku mengangguk.

’’Ya, Allah. Jadi selama ini aku dah berjalan dengan laki orang. Apa kata kak Lawa kalau tahu aku berjalan dengan lakinya sekarang ni,’’ Tiara menyeru.

’’Sejak awal jumpa ngkau kan sudah tahu aku sudah punya bini. Kalau tak tahu, kenapa pula ngkau cakap bahwa perbekalanku tak mungkin sama dengan perbekalan ngkau. Perbekalanku yang membuatkan biniku, sedangkan perbekalan ngkau adalah ngkau sendiri. Itu artinya, ngkau dah tahu aku dah punya bini,’’ kataku membela diri.

’’Ya, aku kemarin tu kan cuma basa-basi,’’ katanya.

Perempuan itu menolehku sekali lagi.

’’Abang pergi sekarang ini sepengetahuan dia atau tidak? Mengapa Abang tak mengajak dia? Atau jangan-jangan Abang sengaja meninggalkannya untuk menceraikannya?’’

Tiara seperti ingin menghukumku dengan kalimat-kalimat pertanyaannya. Pertanyaannya kini banyak yang bersayap. Aku sedikit gelagapan waktu mau menjawabnya. Salah-salah jawab, bisa menimbulkan masalah.

’’Apa kak Lawa tahu cerita tentang Zahra?’’

Pertanyaan kali ini semakin menukik, menghunjam jauh ke lubuk hatiku yang sedari dulu merasa bersalah.

’’Jadi mengapa Abang meninggalkannya?’’ katanya.

Aku jadi salah tingkah. Aku benar-benar dihempaskan ke palung terdalam. Pertanyaan Tiara semakin sulit kujawab. Terlalu panjang untuk diterangkan. Lagi pula, aibku jadi terdedah begitu saja di hadapannya. Pertimbanganku untuk jujur nampaknya kurang tepat.

’’Ini adalah keputusan terburuk yang pernah kuambil. Tapi ini juga keputusan terbaik dari semua keputusan yang lain,’’ kataku.

Tiara memandangku. Dia menunjukkan ekspresi tidak percaya.

Lalu, di atas sampan yang menyeberangkan kami di daerah Rantau, Tiara menyampaikan pertanyaan yang kemudian membuatku terhenyak.

’’Seandainya Lawa benar-benar terluka hatinya namun bisa memaafkan Abang, dan mengharapkan Abang kembali kepadanya dan Abang tidak jadi menikahi Zahra, apa yang akan Abang lakukan?’’

Aku tak bisa menjawab. Aku hanya bisa diam dan memandang perempuan yang tiba-tiba menjelma sangat kritis dan sangat perhatian itu.

’’Aku tak bisa membayangkan jika aku adalah Lawa. Aku juga tidak bisa membayangkan jika aku adalah Zahra. Semuanya memang serba sulit. Apalagi kalau aku harus membayangkan jika aku adalah Abang. Pasti bisa stres. Tapi sehemat aku, antara Abang dengan Lawa sudah diikatkan tali pernikahan; sebuah tali dengan buhul yang sangat suci. Sedangkan Abang dengan Zahra hanya dihubungkan dengan sebuah janji muda-mudi; sebuah tali yang sangat halus dan tak berdaya,’’ katanya lagi.

Aku semakin terhenyak. Terdiam. Degup jantungku tiba-tiba berpacu seperti peluru.

’’Bila Abang sudah menyeberang ke Rantau, Mahat jadi tambah dekat, Poro akan bertambah jauh. Takkan ada kemungkinan Abang akan kembali ke Poro. Sudah tamat riwayat Lawa. Abang pasti akan menikahi Zahra. Lawa akan menjadi masa lalu yang hanya boleh dikenang, takkan lagi dipegang. Bolehlah Abang berpikir sekali lagi. Kalau memang masih mungkin, berbaliklah! Tak ibakah Abang dengan perempuan semata wayang itu? Dia tak berayah, tak beribu, tak bersanak, dan sebentar lagi takkan punya laki. Tak ada lagi sesuatu yang bisa dipunyainya di muka bumi,’’ katanya sekali lagi.

Aku tak kuasa menoleh ke arah Tiara.

’’Tapi semuanya terserah Abang. Abang yang punya badan. Abang juga yang akan menanggung semuanya nanti,’’ sambung Tiara.

Kalimat terakhir ini sulit kuterjemahkan. Di satu sisi, terkesan memberi pembelaan. Namun di sisi lain, kalimat ini juga bernada ancaman.

Kali ini aku tidak membalasnya. Bahkan tidak dengan senyuman.

***

Itu Hatiku, Tuan!

Gondang oguong dipukul bertalu-talu. Calempong berbunyi tingkah-bertingkah. Suaranya menyelusup ke mana angin berembus. Memenuhi ceruk kampung, membuncah di kedalaman lembah, menyusuri ngarai, bergelombang-gelombang seperti pundak bukit. Lagunya tentang rindu. Tingkahnya benar-benar pilu. Seperti sayatan sembilu.

Dari manakah suara itu berasal? Benarkah itu dari Mahat? Apakah gondang oguong itu dari rumah Bunda? Apakah ini bagian upacara menyambut perantau lama tak pulang?

Aku mempercepat langkah. Menuju asal suara. Tiara masih mengekor. Dia nampak terkebil-kebil, tak cukup mampu mengimbangi langkahku yang panjang-panjang.

’’Bernafsu betul nampaknya Abang ni,’’ katanya.

Aku pikir, Tiara salah. Aku tidak sedang bernafsu, tapi sangat bernafsu. Ini adalah hari yang paling kutunggu sejak tujuh tahun lalu. Sebuah harap pinta yang akan berbalas. Sebuah rindu yang akan dilampiaskan. Sebuah kesalahan yang akan ditebus.

’’Lah semakin jauh ngkau Lawa. Abangmu benar-benar tak harap lagi ‘kan ngkau,’’ katanya lagi.

Dari kemarin, Tiara benar-benar nyinyir. Telingaku disumpal dengan sumpah-seranah, tentang kata-kata penyesalan. Ketus! Menyebalkan! Dan menghukum! Dia seakan tak punya rem. Bahasa kasar dan keras ditembaktumbukkan kepadaku tanpa basa-basi.

’’Mengapa Ngkau begitu membela Lawa? Mengapa Ngkau tak coba sekali-kali bersimpati dengan sikapku, atau paling tidak bersikap adil dalam mengambil sikap?’’ aku protes.

’’Memanglah! Laki-laki memang macam itu. Nak menang sendiri. Apakan suka dia saja perempuan ni,’’ katanya. Lagi-lagi ketus.

Sepanjang pagi ini, Tiara memang tidak manis sama sekali. Rasa simpatiku terhadapnya yang terbangun selama beberapa hari lalu, sudah hilang tak bersisa. Aku sangat kesal karena dia sangat menyesalkan sikapku tak mau pulang ke Poro, tak mau menjumpai Lawa, tak mau membatalkan kepulangan dan pernikahanku nanti di Mahat. Kalaupun aku pulang ke Mahat dan merindui Bunda, Tiara mengizinkan. Tapi kalau kepulanganku untuk menikahi Zahra, Tiara bersikukuh menegah.

Aku juga merasa terhina bahwa dia ikut campur dalam keputusanku. Bukankah aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri? Bukankah keputusan ini sudah kupertimbangkan sejak tujuh tahun lalu. Bagaimana dia bisa menghukumku padahal dia baru saja tahu soal ini dan pertimbangannya sangat premature?

’’Abang tak kasihan dengan Lawa? Ingat Bang, semua perempuan akan melakukan apapun untuk mempertahankan miliknya,’’ katanya lagi.

Aku tak memedulikannya. Kalau tak karena mempertimbangkan budi dan nasibnya yang buruk selama perjalanan, tentulah dia sudah kucampakkan di jalan.

’’Kalau kucampakkan ngkau ke ngarai, takkan ada yang tahu. Ngkau akan mati tak berkubur. Beruntung aku masih baik,’’ kataku dalam hati.

Kini Mahat benar-benar sudah dekat. Ujung kampung itu sudah di ujung mata. Aroma Mahat sudah membuncahi penciumanku. Aku juga sudah bisa melihat pucuk daun kelapa di kejauhan. Mungkinkah itu pucuk kelapa di rumah Bunda? Ah, bukan. Itu bukan pucuk kelapa di rumah Bunda. Bukankah rumah Bunda agak berada di tengah kampung?

Menjelang kampung Mahat, ada persimpangan. Kalau aku berbelok ke kanan akan ditemukan jalan lurus. Di ujung jalan itu nantinya akan ditemukan dua batu yang berdiri kukuh membentuk celah, seperti gerbang. Itulah gerbang dan tempat terakhir aku melihat Zahra; intan payung itu. Di sana pula semuanya sempat berakhir, dan Zahra menyampaikan janjinya tidak akan menikah kalau tidak denganku. Di sana pula untuk ke sekian kalinya lenggok pinggul Zahra mengigal berahi, membuatku ingin melihatnya lagi, dan lagi.

Masihkah celah bukit itu ada? Masihkah dia merekam dengan baik lenggok pinggul Zahra? Masihkah janji yang pernah terucap di sana masih absah?

Ingin aku ke sana melihat jejak lama. Mengulang kisah yang pernah melekat erat. Tapi, Zahra pasti tidak di sana. Intan payung itu pasti sudah di rumah, di beranda rumahnya. Menungguku. Entah sudah berapa lama. Lagi pula, aku ingin segera sampai ke rumah, menjumpai Bunda. Bersujud di kakinya, menyembah meminta ampunannya. Aku juga ingin menjumpai Mamak Sidin, melakukan hal yang sama.

Aku sebenarnya tak yakin akan mampu melakukan itu semua. Kesalahan yang kutabung sudah sedemikian banyak. Kekecewaan yang kutinggalkan demikian menggunung di hati mereka. Tapi, itu semua harus kulakukan. Kalau tak kulakukan sekarang, kapan lagi? Beruntung mereka sekarang masih berbaik hati, masih mau menungguku, masih mau memaafkan aku. Kalau tak sekarang, mungkin aku takkan punya waktu lagi.

Kini kakiku sudah menapak memasuki kampung. Rumah Ombak Siman yang berada di ujung kampung sudah kulewati. Kini tinggal delapan rumah lagi mencapai rumah Bunda. Hmm… kampung ini ternyata tidak jauh berubah. Delapan tahun setelah kutinggalkan, kampung ini masih seperti sedia kala. Surau papan beratap daun padang masih tak berubah. Malah atap daun padang itu sudah berguguran karena lapuk. Rumah Udo Kimal yang berberanda luas, juga masih seperti yang dulu.

Dan, itu… bubung atap rumah itu. Bubung rumah yang sudah terlalu lama kurindu. Bubung atap seng yang sudah mulai berkarat itu adalah rumahku. Rumah Bunda.

Kulihat ada asap mengepul di atasnya. Ada pucuk kelapa yang melambai-lambai, dan suara yang benar-benar ramai.

Gondang oguong itu memang dari sana. Dari rumah beratap seng berkarat itu. Calempong tingkah-bertingkah itu berasal dari balai-balai depan pekarangan rumah. Orang-orang membangunnya di sudut depan rumah, lengkap dengan hiasan daun kelapa. Biasanya, kalau kami mengadakan helat, selalu ada musik gondang oguong lengkap di balai-balai depan rumah. Biasanya hiburan tradisi ini diadakan sepekan penuh. Tujuh hari tujuh malam.

Dari tempatku berdiri kaku, terlihat rumah itu benar-benar ramai. Sanak tetangga rupanya berkumpul di sana semua. Untuk beberapa saat, aku tak kuasa melangkahkan kaki. Aku hanya memandang ke bubung rumah, atap beranda, orang-orang di balai-balai, dan kepulan asap yang memenuhi tingkap bumi. Duh, begitu dalam aku merindukan tempat ini. Sungguh teramat rindu!

Lamunan itu tersadarkan ketika dari depan rumah, di pintu masuk, orang-orang berteriak. Berebut mau keluar. Sebagian mereka nampak memegang seorang perempuan di ambang usia. Perempuan tua berbaju kurung dengan tikuluk yang dililitkan di atas kepalanya. Seorang perempuan yang kemudian berusaha memburu dengan tubuhnya nyaris meluruh. Berteriak dengan suara serak.

’’Koni…’’

Air mataku berlinang. Pikiranku menerawang. Bulu kudukku meremang.

’’Anakku…’’

Hatiku bergetar hebat. Belah dadaku tersebat.

’’Koni anakku…’’

Aku ditubruknya. Kepalanya persis terdampar di dadaku. Sejurus kemudian digoyangnya tubuhku. Tangisnya meledak, menyulut sumbu melankolik perasaanku. Aku pun tak kuasa menahan haru-biru yang sedari tadi menggebu. Sebungkah emosi yang sejak tadi kularang, kini tumpah memenuhi ruang. Dan, meledaklah semuanya. Aku terbawa ke dalam lautan haru. Ambang petang itu pun menjadi sekuel drama yang penuh dengan tumpahan air mata.

Tapi drama melankolik itu tiba-tiba berjalan sumbang. Itu terjadi ketika tiba-tiba perempuan yang empat hari bersamaku; Tiara, ikut memeluk Bunda. Air matanya ikut tumpah, menangis sejadi-jadinya. Tak ada kesan dibuat. Tak terlihat seperti menjalankan skenario. Tiara bahkan lebih menghayati peran rindu ini melebihiku. Bunda yang hanya bingung mematung, tak bisa berbuat apa-apa. Tiara mendekapnya terlalu erat, larut dalam haru-biru rindu.

Bunda memandang ke arahku dengan mata sembab. Seakan meminta penjelasan. Tapi aku tak bisa memberi penjelasan apa-apa. Lagi pula, suasana masih pecah karena isak tangis Tiara. Hampir semua orang yang hadir petang itu, juga terlihat ingin mendapat penjelasan dariku. Aku seperti terdakwa yang harus segera mengajukan pembelaan. Mengapa ada perempuan bersamaku? Bukankah kepulanganku untuk menikahi Zahra? Atau, apakah perempuan ini Lawa, istriku di Poro?

Semua orang berharap jawaban. Aku hanya bisa terdiam. Salah-salah jawab, aku akan menjadi terpidana yang papa kedana.

Sandiwara apa yang sedang diperankan Tiara? Apakah dia ingin membujuk hatiku yang memang sedang kesal dua hari ini? Mungkin. Mungkin dia ingin menebus kesalahannya. Mungkin juga dia ingin menebar pesona sekaligus memancingku untuk tetap menaruh hati kepadanya. Mungkin juga dia ingin memberi kesan kepada Bunda bahwa dia juga sedang merindukan sosok perempuan itu, lalu, dia berharap akan menjadi bagian dari kehidupan kami.

Sumpah! Menurutku, ini merusak sekuel yang sangat penting dalam hidupku. Bisa-bisa dia akan menimbulkan prasangka yang tidak-tidak di benak Bunda, di pemikiran orang-orang sekampung. Bukankah kepulanganku, materi utamanya adalah melepas rindu kepada Bunda dan akan meminang Zahra? Bukankah kehadiran perempuan ketiga justru akan membuyarkan semua rencana ini?

Aku menarik Tiara dari Bunda, melepaskan dekapannya. Tiara sebenarnya tidak mau. Tapi karena Bunda ikut mendorongnya, dia ikut mengalah.

’’Sudah… tak usah diteruskan,’’ kataku agak ketus.

Tiara memandangku dengan matanya yang juga sembab. Tak ada rasa takut di sana. Bahkan kini kulihat matanya begitu jernih ketika memandangku. Senyumnya sangat tulus dan manis.

’’Apa tak boleh? Apa salahnya kalau aku juga merindu Bunda Abang? Bukankah Bunda Abang adalah Bundaku juga. Bukan hanya Abang yang merindu, aku juga,’’ katanya.

Waduh, mati aku. Mengapa Tiara berucap seperti itu? Bukankah itu akan menambah runyam suasana? Bukankah jawabannya berarti akan mempertinggi tempat jatuhku? Bukankah menyamakan Bundaku sebagai Bunda dia artinya menyamakan posisi kami berdua, yaitu sebagai suami-istri?

Ups, tunggu dulu. Aku tiba-tiba ingin mengulang kalimatnya yang terakhir. ’’Bukankah Bunda Abang adalah Bundaku juga? Bukan hanya Abang yang merindu, aku juga.’’ Bukankah itu kalimat Lawa? Bukankah kalimat itu yang disampaikan Lawa ketika ingin ikut bersamaku? Mengapa Tiara selalu menjelma sebagai Lawa? Atau, Tiara adalah Lawa yang sedang menyamar, seperti kecurigaanku tiga hari terakhir?

Sekali lagi, semua orang memandang kepadaku. Kali ini lebih tajam. Seperti ingin menjatuhkan hukuman yang teramat berat.

’’Bunda, dia ni Tiara. Kawan seperjalanan aku pulang ke sini. Dia nak menjenguk lakinya di Muaro,’’ kataku.

Mulut Bunda seperti membentuk huruf ’O’, kepalanya mengangguk. Nampaknya dia mengerti. Orang-orang yang merubungi kami juga mengangguk. Aku seperti telah membuang beban berat dari tengkukku yang menghimpit sejak tadi.

’’Mungkin dia tak punya ibu sehingga Bunda dianggapnya sebagai ibunya,’’ kataku untuk mempertegas bahwa tidak ada hubungan apa-apa antara aku dengannya.

Mendengar jawabanku, semua orang lega. Tiara sepertinya juga. Kemudian dia kembali memeluk Bunda. Sangat Lama. Dia memperlakukan Bunda seperti orang yang sudah sangat dikenalnya, atau paling tidak seperti orang yang sangat dirindukannya. Bahkan, ketika sekuel drama itu bubar, Tiara-lah yang memapah Bunda untuk naik ke dalam rumah. Huh, benar-benar ingin tebar pesona.

Petang itu, hal pertama yang kulihat berubah di Mahat ini adalah Bunda. Perempuan yang melahirkan dan membesarkanku itu tak lagi seperti dulu. Dia tak lagi setegar waktu kutinggalkan. Kulitnya sudah teramat keriput. Sudah seperti perempuan tua jengkuh. Dia terdengar batuk-batuk. Matanya cekung, bibirnya suka bergetar kalau sedang bercakap. Dua batang kakinya seperti tak kuat menahan tubuhnya yang mulai bungkuk.

Sebegitu jengkuhkah Bunda dalam tujuh atau delapan tahun terakhir? Sebegitu susutkah badannya sehingga memberi kesan tinggal kulit pembalut tulang?

Secara fisik, aku tak percaya dengan proses penuaan yang berjalan secepat ini. Namun aku yakin, proses penuaan ini pasti karena faktor psikis; perasaan. Tentang Bunda yang merindu, tentang Bunda yang menahan malu. Ketika Leman dulu datang ke Poro, dia seringkali bercerita tentang kepiluan hati seorang perempuan yang ditinggalkan anaknya.

’’Lah macam kulit pembalut tulang!’’ kata Leman memberi contoh.

Bunda memang persis seperti penggambaran Leman. Jengkuh sebelum usia sampai. Lisut karena perangai anaknya menyampai. Walau begitu, aku melihat Bunda lebih cekatan petang itu. Wajahnya lebih bermaya. Senyumnya lebih merekah.

Ambang petang itu berlalu sangat cepat. Waktu berlari bagai peluru. Belum sempat aku bercerita banyak dengan Bunda, Maghrib pun datang. Aku mendapat kabar, Mamak Sidin akan datang. Aku juga mendapat kabar, Zahra menyuruhku datang.

Mamak Sidin mau datang atau Zahra yang memintaku datang, yang mana yang akan kupilih?

Aku memang belum sempat ke rumah Zahra. Sejak kemarin, aku sudah berencana, perempuan kedua yang akan kujabat adalah Zahra. Namun jelang Maghrib, aku belum bisa keluar rumah. Semua orang masih berkumpul. Kawan-kawan lama juga tak mau memutus pembicaraan. Sanak-keluarga dan tetangga dekat masih juga ada yang bertamu.

’’Bunda, lebih baik kita yang datang ke rumah Mamak Sidin. Tak perlu dia yang datang ke sini. Kemenakan yang harus menjalang mamak, bukan sebaliknya,’’ kataku kepada Bunda usai shalat Maghrib.

Bunda mengangguk. Aku pikir, kesimpulanku itu sudah tepat. Memang aku yang harus menjumpai Mamak Sidin, bukan dia. Lagi pula, kalau Mamak Sidin yang datang, belum tentu Zahra akan ikut. Tapi kalau aku yang ke rumahnya, tentu aku akan menjumpai Zahra di sana.

Hmm… Zahra, seperti apa bentukmu sekarang? Masihkah engkau masih menjadi intan payung di seluruh pelosok kampung?

Aku tak ingin berangan tentangmu, tentang tubuhmu. Aku lebih suka terkejut ketika melihatmu sebentar lagi.

’’Ayo berangkat…’’ kata Tiara.

Aku terkejut. Perempuan itu menyikut lenganku.

’’Berangkat kemana?’’

’’Ya, ke rumah Zahra. Intan payungmu itu,’’ katanya agak ketus. ’’Perempuan yang telah membuat Lawa menjadi calon janda,’’ lanjutnya. Kali ini dia sampaikan dengan berbisik.

Aku terkejut dengan pernyataan Tiara. Dia masih ketus. Aku jadi benar-benar kesal.

’’Ngkau tu tak usah ikut. Tak usah ikut campur urusanku. Ini urusan pribadi. Tak ada urusannya denganmu,’’ kataku. Suaraku meninggi. Tiara terlihat agak kecut.

Bunda keluar tergopoh-gopoh. Dia menuju beranda, tempatku bertelagah dengan Tiara.

’’Tak apalah Tiara ikut. Dia hanya nak nengok macam apa Zahra calon menantu Bunda tu. Lagi pula, tak ada kawannya di rumah sekarang ni,’’ kata Bunda.

Aku tak mau melawan kata-kata Bunda. Aku hanya memandang kesal ke arah Tiara. Dia tersenyum menang dan senang. Aku menunjukkan gigi taring; menyeringai sengai. Bergegas kami menuju rumah Mamak Sidin.

Malam merambat. Gelap menyekap. Rumah-rumah papan sudah menutup tingkap. Pelita sumbu, apinya melindap. Melahap gelap. Kami menuju rumah Mamak Sidin beriringan. Perasaanku bergetar hebat ketika lampu yang menyelinap dari tingkap rumah Mamak Sidin menembus gelap. Rumah itu sudah terlalu lama melambungkan rindu. Di balik tingkap salah satu jendela kamar itulah, lenganku basah karena tumpahan air mata Zahra. Kenangan di malam terakhir aku bersama Zahra, sampai kini memang takkan pernah bisa kulupa.

Belum sempat kami memasuki pekarangan rumah, Mamak Sidin sudah berdiri di pintu. Lampu strongking yang menerangi bagian depan rumahnya, memperjelas wajah lelaki yang mulai memasuki masa tua itu. Dia menjulurkan tubuhnya, untuk kemudian bergegas turun ke tanah. Dan, di belakangnya mengekor sebatang tubuh. Tubuh yang tinggi semampai. Tubuh yang dibalut baju kurung panjang. Baju kurung yang melambai-lambai.

Itukah Zahra? Pasti. Itu pasti dia. Takkan mungkin perempuan itu bukan Zahra. Tubuhnya yang jangkung sempat mengecoh pandangan mata. Bukankah Zahra dulu bertubuh agak besar berisi? O… mungkin saja di usianya yang dewasa ini tubuhnya susut. Kurus. Mungkin juga dia kurus karena memikirkanku.

’’Assalamualaikum…’’

Bunda mengucap salam. Mamak Sidin yang menjawab salam, langsung menyalami Bunda. Kemudian, dia cepat meraihku. Merangkulku. Sedangkan Bunda, langsung menumpahkan air matanya bersama Zahra.

’’Koni lah pulang Za. Abangmu tu sudah pulang,’’ kata Bunda.

Zahra hanya menangis. Suaranya benar-benar serak.

Aku tak melihat gelagat matanya memperhatikanku. Sedari tadi dia hanya memeluk Bunda. Menangis bersama.

Lagi. Pertemuan penuh melankolik itu menjadi sumbang karena kehadiran Tiara. Perempuan itu telah membuat tangis Zahra berhenti seketika. Matanya memandang penuh selidik kepada Tiara.

’’Dia Tiara. Anak dagang. Kebetulan sama perjalanan dengan Koni,’’ kali ini Bunda memberi penjelasan.

’’Bukan Lawa?’’ tanya Mamak Sidin menyelidik.

’’Bukan Mamak. Dia tu Tiara. Kawan aku seperjalanan. Dia nak menjenguk lakinya di Muaro. Sedangkan Lawa saya tinggal di Poro. Saya pulang sendiri ke Mahat. Sudah meminta izin kepadanya. Saya juga sudah sampaikan mungkin tak akan pulang lagi ke Poro,’’ kataku menambah penjelasan.

Tiara memandang kepadaku. Remang malam tidak memperlihat air mukanya. Marahkah dia? Ah, terserah dialah.

Malam itu, aku bercerita banyak dengan Mamak Sidin. Zahra hanya duduk di ujung majelis. Dia hanya memandang ciling. Tidak sepatah pun kata-kata yang diucapkannya untukku. Tidak marah, tidak bertanya, tidak pula mengungkapkan kata-kata rindu.

’’Jadi macam mana urusan Ngkau dengan istri Ngkau tu? Sudah selesai?’’ tanya Mamak Sidin.

Aku mengangguk.

’’Sudah Mamak. Aku sudah menceraikan Lawa. Tak mungkin lagi rasanya aku ke sana. Mungkin kehidupan aku memang ditakdirkan di sini. Di Mahat ini,’’ kataku. Jantungku berdetak cepat saat kukatakan bahwa aku sudah menceraikan Lawa. Aku merasa sangat berdosa karena mengungkapkan hal yang bukan sebenarnya.

Ketika secara tak sengaja kupandang Tiara, dia nampak meneteskan air mata.

Mamak Sidin mengangguk. Dia percaya. Bunda juga. Zahra terlihat bernafas lega.

’’Apa yang aku cakap. Ngkau itu memang harus di sini. Memang tak elok mengungkit cerita tujuh tahun. Tapi ngkau harus belajar, tindakan yang diambil sendiri-sendiri itu selalu kurang perhitungan,’’ katanya.

’’Untung Mamak Ngkau tu masih baik,’’ kata Bunda menyela.

’’Aku sebenarnya tak baik-baik betul Kak. Kalau tak karena tubuh sebatang ni,’’ katanya sambil memandang Zahra, ’’tak hendak aku menunggu Markoni ni. Malu aku sebenarnya. Anak gadis sudah besar tapi tak berlaki. Anak gadis menunggu laki orang. Malu! Tak pantas! Tapi karena sayang ke anak, ditebal-tebalkan juga muka ni. Tapi kemenakan kita tak hendak memandang itu. Dia nak berbuat sekehendaknya saja. Kita sayang sebenarnya ke dia. Tapi dia tak sayang dengan kita.’’

Aku tertunduk. Hal yang kutakuti itu akhirnya terucap juga dari bibir Mamak Sidin. Akhirnya dia marah juga, mengeluarkan isi hatinya yang tertahan selama tujuh tahun terakhir ini. Zahra kulihat juga menunduk. Mamak Sidin memang keras. Kalau mengeluarkan pendapat atau sikap, sering tak memikirkan perasaan orang.

’’Sudahlah Din. Koni kan sudah pulang. Yang penting besok-besok jangan dibuat lagi,’’ Bunda coba menahan gejolak emosi Mamak Sidin. ’’Ingat baik-baik tu Koni! Berdosa kita kalau membuat orang menderita,’’ kata Bunda.

Aku mengangguk. Kedua orang tua ini memang benar. Bagiku, orang-orang terdekatku ini terlalu baik. Bahkan aku merasa sudah sepantasnya mendapat hukuman berat atas segala tingkahku selama ini.

Awal malam itu berlalu sangat lama. Terasa sangat panjang. Mamak Sidin sebenarnya ingin meluahkan segala kemarahan di hatinya. Tapi Bunda selalu coba mencegah. Sedangkan Zahra, dia tak berucap apa-apa. Ekor matanya beberapa kali kutangkap sedang melirikku. Saat aku coba memberi senyum, dia selalu alihkan ke tempat lain.

Dia pasti masih marah. Tapi aku yakin, ekor mata itu sedang mengigalkan rindu. Melambai-lambai. Ingin dibelai.

Bagaimana dengan Tiara? Sedari tadi, matanya terlihat liar. Kadang dia memandang Mamak Sidin, kadang ke Bunda. Tapi lebih sering kepada Zahra. Dari sorot matanya terlihat betapa dia tidak menyukai intan payungku itu. Dia menunjukkan kubu yang berlawanan. Dia tetap bersikukuh dengan sikapnya semula; tak setuju dengan pernikahan ini.

Tapi dia tak bersuara apa-apa. Lagi pula, dia memang tidak diberi kesempatan apa-apa. Bagi Mamak Sidin, seperti yang disampaikan Bunda, Tiara hanya teman seperjalanan. Besok dia malah akan melanjutkan perjalanan ke kampung suaminya di Muaro.

Ketika malam sudah panjang, akhirnya kami pulang juga. Malam itu, cerita hanya berkisar pada marah-marah. Menumpahkan rasa kesal. Kadang Bunda yang marah, tapi lebih sering Mamak Sidin. Sedangkan rencana untuk pernikahan dengan Zahra, tak disinggung sama sekali.

’’Besok-besok sajalah kita jalankan runding tentang orang berdua ni ya Kak. Mungkin tiga hari lagi. Aku nak memanggil mamaknya Zahra dulu. Tentu mereka yang akan berunding,’’ kata Mamak Sidin.

Kami berdua hanya mengangguk-angguk. Sedangkan Tiara, tak memberi reaksi apa-apa.

’’Kalau itu memang yang terbaik, tak apalah,’’ kata Bunda.

Malam itu kami pulang dengan perasaan agak lega. Paling tidak, kebuntuan hubungan yang selama ini terjadi, sudah mulai mencair sedikit demi sedikit. Soal runding pernikahanku dengan Zahra, aku pikir ini hanya soal waktu. Bukankah waktu masih panjang? Kalau rezeki tak akan kemana!

’’Itu yang namanya Zahra? Lumayan cantik bako Abang tu,’’ Tiara baru mengeluarkan suara ketika kami sudah keluar dari pagar rumah Mamak Sidin.

Tapi sebelum aku menjawab, tiba-tiba Zahra datang tergopoh-gopoh. Dia memanggilku agak kuat dari belakang. Aku terkesima. Ada apa gerangan?

’’Apa Za?’’

’’Tak ada Bang,’’ katanya sambil mengatur nafas. Dia melirik Tiara yang berdiri tak jauh dari sampingku. Dilihat seperti itu, Tiara seperti tahu diri. Dia berlalu menyusul Bunda yang sudah berjalan lebih dulu.

’’Jangan masukkan ke hati cakap ayah, ya Bang. Ayah masih seperti yang dulu. Keras. Kadang-kadang kasar, apalagi kalau marah. Tapi dia memang sayang kepada kita berdua,’’ katanya.

Aku memandang Zahra. Dalam gelap, aku masih menangkap getar bibirnya yang basah. Gerai rambutnya sebagian jatuh di dataran pipinya yang pipih. Jarak kami hanya satu meter. Inilah jarak terdekat sejak tujuh tahun lalu. Hangat tubuhnya meriap, menebarkan aroma harum seorang gadis.

’’Za…’’

Zahra memandangku. Dia ingin bertanya. Tapi hanya matanya yang menerawang.

’’Terima kasih ya, sudah mau menunggu Abang. Sungguh Za adalah perempuan yang patut dihormati dan kagumi,’’ kataku, merayu.

Zahra menunduk. Dagunya yang agak lancip menghunjam lehernya yang jenjang. Sejak kutinggal tujuh tahun, Zahra kini memiliki leher yang jenjang. Mungkin ini karena tubuhnya yang agak kurus.

’’Za… Abang nak bercerita banyak. Tapi hari dah terlampau malam. Besok kita sambung. Kita masih punya banyak waktu,’’ kataku. ’’Pulanglah. Nanti Mamak susah pula mencari Za,’’

’’Bang, siapa kak Tiara tu? Bukan bini Abang ‘kan?’’ tiba-tiba dia melontarkan pertanyaan menyelidik.

Aku agak gelagapan menjawabnya. Mengapa Zahra tak percaya dengan keterangan Bunda dan keteranganku sebelumnya? Mengapa dia masih ragu? Atau, dia cemburu?

’’Za rasa, dia tak menyukai Za. Dia nampaknya menyukai Abang,’’

Huh, sebegitu cemburukah Zahra?

’’Za takkan maafkan lagi kalau Abang masih membuat Za sakit hati,’’ katanya. Kemudian, perempuan itu berbalik, hilang di balik gelap.

Jantungku masih belum stabil setelah mendapat serangan tiga pertanyaan dan pernyataan beruntun. Gadis manisku itu benar-benar sudah dewasa sekarang. Sudah berani menunjukkan sikap. Akupun semakin menyadari, ke depan aku akan menghadapi orang-orang yang lebih tegas dibanding diriku sendiri. Orang-orang yang pernah tersakiti dan dibohongi. Orang-orang yang tak lagi mudah memercayai. Orang-orang yang tak lagi merasakan bisa karena sudah terbiasa.

***

Tiga hari ternyata tak lama. Waktu berlalu begitu cepat. Selama tiga hari pertama aku sampai di Mahat, aku habiskan untuk berkeliling Mahat. Melihat-lihat tempat lama, menjenguk kawan-kawan sepermainan. Aku ingin menikmati masa-masa dan tempat-tempat rendezvous itu. Aku juga sudah sempat datang ke celah bukit, tempat terakhir aku melihat Zahra, delapan tahun lalu. Dua bukit itu masih kukuh. Sekukuh cinta Zahra kepadaku.

Di negeri atas awan ini, sering kali ketika pagi aku ke sudut kampung, berdiri di atas sebungkah batu, lalu jemariku mencekau awan, menggumpal-gumpal calon mendung hujan. Aku, sedari dulu, memang paling senang saat ditampar gumpal-gumpal awan. Dari sini, bila melihat ke bawah, orang-orang seperti batang lidi, rumah masyarakat seperti kotak korek api.

Aku benar-benar menikmatinya. Menikmati Mahat yang selalu terpahat di hatiku. Sudah teramat lama aku merindukan tempat ini. Sawah yang menghampar, debur air yang terjun dari bukit menampar-nampar. Hawanya sejuk, udaranya bersih, masyarakatnya pandai pula bersopan-santun.

Oh ya, Tiara tak jadi melanjutkan perjalanan ke Muaro. Tepatnya, dia hanya menunda. Perempuan yang semakin mengkilat sejak sampai di Mahat, mengaku ingin melihat pernikahanku terlebih dahulu sebelum berangkat. Aku juga agak bingung dan protes. Dalam suasana seperti ini, sebaiknya Tiara tidak dekat-dekat denganku. Dia terlihat seperti memancing di air keruh.

Tentang dia tak jadi berangkat ke kampung suaminya, ingin kusampaikan kepada Bunda, saat pagi setelah pulang dari rumah Zahra. Aku melihatnya duduk bersama Bunda. Malah, kini dia semakin akrab saja.

’’Tak jadi ke Muaro?’’ kataku. Aku yakin dia tahu, itu bukan pertanyaan, melainkan perintah.

’’Abang mengusirku? Kenapa?’’ katanya.

Belum sempat aku menjawab, Bunda sudah menyela.

’’Tiara belum jadi ke Muaro. Dia masih menunggu perkawinan Ngkau dengan Zahra.’’

Nampaknya, Tiara tahu betul kelemahanku. Aku paling tidak bisa kalau sudah dihadap-hadapkan dengan Bunda. Aku pasti akan mengalah. Bahkan, tidak akan berani membantah. Apalagi kalau dilihat, keberadaannya di samping Bunda sepertinya memberi nilai positif kepada orang yang kucintai itu.

’’Biarlah dia jadi kawan Bunda di sini dulu. Iba betul hati Bunda melihat nasibnya ni. Perempuan baik ditinggal laki. Kalau aku punya dua anak laki-laki, satunya pasti aku kasih kepada Tiara ni,’’ kata Bunda lagi.

Aku tak bisa nak cakap apa-apa.

Dan, pada malam ke tujuh kami di Mahat.

Ini adalah malam yang patut dicatat dalam sejarah hidupku. Di beranda rumah Zahra orang-orang sudah berkumpul. Boleh dikata sangat lengkap. Keluarga Zahra, keluargaku, mamak-mamak kami, dan undangan yang lain. Yang tak hadir dalam perundingan itu hanya aku. Sedangkan Zahra, menyurukkan tubuhnya ke katil kamar tengah. Untuk urusan yang seperti ini, kami memang tidak perlu ikut campur. Tinggal terima bersih.

Perundingan sudah dimulai sejak tadi. Tentu saja perundingan itu tentang rencana pernikahan kami. Semua orang yang hadir di majelis itu terlihat setuju. Ibaratnya, bulat air di pembetung, bulat kata dimufakat, picak batu bisa dilayang, putih hati berkeadaan. Sedokak bak batu, sedencing bak ringgit. Bagi mereka, kerja baik lebih baik dipercepat, biar tidak tersela oleh kerja buruk. Kerja buruk lebih baik diperlambat, siapa tahu dapat disela perbuatan baik. Malam itu, kami resmi bertunangan. Tunangan singkat. Tepatnya lagi, memperbarui perjanjian tunangan yang lama. Aku kembali menyerahkan sehelai tikuluk pucuk, sebentuk cincin belah rotan, sebuah gelang kesat, dan seperangkat pakaianku. Sebenarnya, Bunda ingin memberikan lebih dari itu. Tapi Mamak Sidin menyampaikan sebelumnya bahwa kami jangan terlalu repot. Ini hanya tunangan singkat.

’’Cukup untuk memenuhi syarat adat saja jadilah,’’ kata Mamak Sidin.

Disepakati, pernikahan sekaligus peresmian akan dilangsungkan pada Kamis pekan depan. Tepatnya sepuluh hari sejak perundingan.

Begitu kata sepakat sudah didapat, persiapan pun dimulai. Aku, sebenarnya tidak terlalu banyak persiapan. Sebagai pengantin laki-laki kami memang tidak harus membuat helat. Pesta besar-besaran justru diadakan di rumah pengantin perempuan. Kami hanya akan bersanding di sana. Tamu dan keluarga di rumahku, juga akan dibawa semuanya ke rumah pengantin perempuan.

Jadi, di rumah Zahra-lah kesibukan itu sangat terlihat. Orang-orang sudah mendirikan balai-balai untuk gondang oguong, membuat plangkin untuk cuci pinggan, membuat dapur besar untuk memasak, menghias rumah dengan daun kelapa muda, menghias dalam rumah dengan aneka bentuk kain tikuluk, menghias kamar pengantin dengan songket dan renda-renda, serta tak lupa tempat tidur empuk tempat peraduan malam pertama.

Semuanya serba baru. Semuanya serba biru. Semuanya merupakan hasil rancangan Zahra sejak delapan tahun lalu.

Walau aku tak terlalu sibuk, tetap saja waktu berlalu bagai peluru. Apalagi, aku harus membagi waktu antara berkoordinasi dengan Mamak Sidin dengan menangani ulah Tiara. Perempuan seperjalananku itu mulai jatuh sakit setelah perundingan malam itu. Kali ini sakitnya terlihat agak parah. Dia terbaring. Lemah.

Sudah banyak dukun yang mengobatinya. Namun tak satupun yang mampu memberi sitawar sidingin kepadanya. Sejak mulai sakit sampai beberapa hari berikutnya, Tiara tidak bersuara apa-apa. Dia tak mengeluh, tak mengigau, tak meracau. Dia hanya terbaring. Lemah. Mungkin karena tak makan. Satu-satunya asupan gizi yang masuk ke tubuhnya adalah rendang daging kijang yang masih tersisa di perbekalannya.

Daging kijang, hmmm… aku jadi teringat dengan Lawa.

’’Bukan badannya yang sakit. Hatinya yang kini teriris pedih,’’ kata beberapa dukun yang mengobatinya.

Tiara merindu suaminya? Entahlah. Tapi kurasa, ya!

Dua hari menjelang pernikahan, Tiara sembuh seketika. Paling tidak, dia mencoba untuk bangkit dari tempatnya selama ini berbaring. Mungkin juga dia merasa tak enak hati. Karena orang-orang sudah mulai sibuk di rumah untuk persiapan pernikahan. Dia pun ikut membantu-bantu, walaupun awalnya ditegah oleh Bunda.

Pagi tadi, sehari sebelum kami menikah, Zahra datang ke rumah. Wajahnya merekah. Seperti cahaya matahari yang pagi itu bersinar sempurna. Aku tak pernah melihat Zahra secantik itu sebelumnya. Kalau sehari menjelang nikah sudah merekah, bagaimana kalau di malam pertama?

Hmmm….

Ketika berjumpa sekejap denganku, Zahra tidak banyak berkata-kata. Dia hanya menyampaikan serantang siah. Di dalamnya, selain makanan untukku, juga ada limau lima buah.

’’Untuk mandi nanti. Biar harum. Biar menolak bala,’’ katanya.

Biar harum? Aku setuju. Bukankah malam pertama orang harus berharum-harum? Ya Tuhan, mengapa malam pertama itu terasa datang sangat lama?

Biar menolak bala? Aku jadi terkejut. Bukankah pernikahan adalah waktu semua bala ingin menghampiri? Aku tidak ingin bala itu datang. Aku ingin semuanya berjalan lancar. Kata orang, seorang calon pengantin darahnya sangat manis. Mudah terkena bala. Apalagi kalau sang pengantin sedang diincar pula oleh lelaki atau perempuan lain, bisa dipastikan saat inilah kesaktian bala itu disampaikan.

Petangnya, aku mandi ke sungai. Sungai Mahat yang jernih. Sungai Mahat yang berbatu-batu. Batu hitam. Kelam.

Aku ingin harum. Aku ingin menolak bala.

Di tepian, kupandang Sungai Mahat yang kelam. Airnya mengalir agak deras, memecah tebing yang ditumbuhi bebatuan. Tiba-tiba aku menjadi ragu. Setelah lebih dua pekan aku di Mahat, kali ini bayang Poro melintas sekilas di pelupuk mata. Sungai ini terlihat sangat lebar dan dalam. Warna airnya tiba-tiba berubah agak keruh. Wajah Lawa kemudian berkelebat di bayang-bayang sungai. Tubuh itu terbawa arus sungai. Dia menggapai-gapai.

Aku berucap.

Tapi kali ini, di bayang-bayang sungai, menghilir pula tubuh Tiara. Dia tidak hanya menggapai-gapai, atau melambai-lambai. Dia memegang erat ujung bajuku. Dia menarikku ke pusaran air yang kelam.

’’Takkan kubiarkan,’’ katanya.

Aku berucap lagi. Aku benar-benar takut memandang sungai. Mengapa wajah Lawa datang silih berganti dengan Tiara? Apa karena mereka hampir mempunyai wajah serupa? Mengapa aku tiba-tiba teringat Poro? Apakah kedua perempuan itu berasal dari… Hei, Tiara berasal dari kampung mana? Ya Allah, aku tak pernah bertanya dia dari kampung mana. Tak satupun masa lalunya yang kuketahui selain tentang suaminya yang pergi meninggalkannya. Tentang kampungnya, orang tuanya, atau keluarganya yang lain, aku sama sekali tak tahu.

Fokus pikirku kini menuju ke arah Tiara. Perempuan itu memang tak lagi seperti yang kukenal beberapa pekan lalu. Perempuan itu kini sudah putih. Bahkan menurutku sangat putih. Wajah dan tubuh yang dulu hitam, kini sudah hilang semua. Pipinya pipih bagai pualam, hidungnya mancung seperti ujung pedang. Rambutnya yang dulu masai, kini sudah mulai melambai-lambai. Tidak hanya membuka-tutup lehernya yang putih, tapi juga menampar-nampar punggungnya yang lapang. Rambut itu kini sudah mulai agak panjang.

’’Mandilah, Bang! Biar harum. Biar menolak bala,’’ sebuah suara mengejutkanku.

Aku menoleh. Rupanya Tiara. Dia ada di hilir sungai. Mau mandi juga. Jarak kami tak lebih dari 15 depa. Di tepian perempuan itu dia bersama beberapa perempuan lain.

Keraguan yang tadi menyergapku, tiba-tiba hilang. Tentang Poro, tentang Lawa, dan tentang Tiara, sudah hilang. Apalagi, Tiara sudah di sini. Di hilir tempatku mandi. Tidak hanyut menggapai-gapai.

Aku beranjak mandi. Memeras buah limau dalam siah, mencampurinya dengan air sungai hingga melebihi setengah.

Rupanya Tiara begitu juga. Dia terlihat memeras air limau. Katanya juga lima buah. Limau itu adalah pemberian Bunda. Biar harum dan terlepas dari bala. Mengapa Bunda memberinya limau, lima buah?

Hari ini adalah hari pertama Tiara bisa mandi ke sungai setelah sakit selama sepekan lalu.

Bebatuan yang hitam membuat air sungai ini terlihat kelam. Padahal, kalau diangkat ke permukaan, air ini sangat jernih. Dulu, kami bahkan meminumnya tanpa dimasak sama sekali. Tanpa menunggu lama, aku menceburkan diri di sana. Menyelam. Membasahkan rambutku yang sedari tadi terasa gerah. Aku coba juga berenang, berkecipak air, dan juga menyelam lama untuk melatih pernapasan. Kata orang, melatih pernapasan dengan menyelam di kedalaman air, bisa membantu kekuatan seksual. Benarkah? Entah buaya entah katak, entah iya entah tidak. Tapi, semoga saja iya.

Ahhh… Segar sekali.

Perasan air limau itu kemudian kusiramkan ke kepala. Kemudian kualirkan ke tubuh tanpa tersisa. Setiap inchi tubuh ini kubaluri. Biar Zahra, malam besok bisa mencium harumnya tubuh ini sampai berkali-kali.

Hmmm… Zahra. Apakah ngkau mandi berlimau juga? Kalaupun tidak, aku tetap yakin, tiada sesuatu yang harum selain riap tubuhmu yang memang terawat itu. Biarkanlah dia menjadi padang yang maha lapang, rumput yang maha luas. Aku ingin belah bibirku tak lepas sampai kita merasa sangat puas.

Begitu selesai membilas tubuh, aku beranjak naik ke atas tebing landai. Mau mengeringkan tubuh untuk kembali pulang.

Tiba-tiba tubuhku melihat sesuatu yang ganjil. Sebuah siah hanyut di arus sungai. Tapi bukan ke hilir, melainkan ke hulu. Dia menentang arus. Siah itu terombang-ambing dimainkan gelombang. Perlahan namun pasti, rantang aluminium itu hampir mencapai ke tempatku terpaku.

Aku melirik ke hilir sungai. Terlihat Tiara berdiri. Ada beberapa perempuan yang juga sedang mandi. Tapi perempuan lain itu tidak memerhatikan apa-apa. Hanya Tiara yang mulutnya ternganga. Sedari tadi, Tiara ternyata belum menceburkan diri ke sungai. Tubuhnya masih nampak kering dengan balutan kain basahan cukup dalam.

Tiara masih mematung. Pandangan matanya terlihat sangat kosong. Objek matanya mengarah ke siah yang hanyut menyungsang itu.

’’Siah siapa ini? Mengapa hanyut ke hulu?’’ kataku.

Tak ada yang menyahut. Tiara masih diam terpaku.

’’Siah siapa ini? Mengapa hanyut ke hulu?’’ kataku mengulang pertanyaan yang sama.

Tiara kemudian angkat bicara.

’’Duh Tuan, bukan siah yang hanyut itu, tetapi hatiku, Tuan. Dia hanyut mencari tuannya. Aku sudah coba menegah. Tapi keinginannya sangat kuat. Menentang arus pun dia lakukan agar berjumpa dengan tuannya. Itu hatiku, Tuan,’’ katanya.

Aku tersentak. Terkejut. Tertampar. Tertumbuk. Terhakimi. Terbunuh.

’’Tak ibakah hati Tuan melihat hatiku hanyut? Dia akan berlalu seperti tubuh ini yang tak tahan menanggung pilu. Dia akan mati seperti tubuh ini yang juga sudah hampir mati,’’

Tiara masih meracau.

’’Kasihanilah hati itu, Tuan. Ambillah dia kembali. Bawalah dia kembali ke Poro. Di sanalah tempat yang tepat buat hati itu, dan juga Tuan. Jangan biarkan dia hanyut dan bersepai seperti hanyut dan bersepainya tubuh yang malang ini,’’

Petang itu berlalu seperti peluru. Aku terdampar ke dalam suasana yang tertampar.

Aku memandang kembali kepada Tiara. Dia terlihat tidak main-main. Dia tidak sedang menjalankan sebuah peran ganda. Tubuhnya yang tadi tegap, kini terlihat membungkuk. Berkedut-kedut karena menahan sengguk tangisnya yang menelusup ke gendang telinga.

Kemudian dia terduduk. Memegangi ujung kain basahannya yang menjuntai di bibir sungai.

’’Ada apa ini, Tuhan?’’

Aku terduduk. Ingin rasanya kuraih siah itu, dan mengembalikannya kepada si empunya. Tapi, aku tak punya kuasa. Hati itu terlalu terluka. Dan hulu pisau berkarat itu ada di hatiku. Matanya yang runcing berkarat itu menusuk tikam di hati pemilik siah itu.

Siapa sebenarnya Tiara?

***

Mawar Merah

—Mengapa Tuan tak pernah membaca tanda-tanda? Apakah mata Tuan sudah mati dan buta seperti hati yang Tuan punya? Padahal, hanya Tuan yang kuharapkan. Hanya Tuan tempat kutumpangkan segala masa depan.—

Aku sudah Tuan campakkah ke sebuah padang yang maha gersang. Tempat yang tidak mungkin satupun makhluk bisa bertahan hidup di sana. Tidak rumput, tidak pula belatung pemakan bangkai. Tapi, mengapa pipit kerdil ini Tuan tinggalkan hanya dengan pegangan sebatang ranting kecil?

Tuan, sejak kematian omak saat melahirkanku, aku hanya punya ayah yang harus hidup melawan beragam penyakit. Terakhir, dia dihinggapi penyakit malaria yang kemudian merenggut nyawanya. Aku tak bisa berbuat apa-apa ketika itu. Untuk berteriak pun aku tak punya suara. Tak sampai setahun aku merasakan dekap ayah di tengah deritanya, dia pun pergi untuk selamanya. Aku tak mengenal bentuknya sama sekali. Walau, kata orang-orang, dia memandang dekat dan mencium lekat pipi dan mataku saat nafasnya berembus terakhir kali.

Kemudian hidupku harus kurajut dengan orang lain. Dengan Mamak Daud yang selalu membuatku salut. Walau dia mamak yang sangat mencintaiku, tetap saja kasih sayang itu tak kurasa dengan sempurna. Bukan kasih sayang seorang ayah, apalagi omak. Kehidupanku berada di tengah kepungan air mata. Hari-hariku adalah cerita tentang rindu. Malam-malamku adalah senandung berirama pilu. Sampai suatu saat aku bertemu dengan seseorang yang layak menjadi ayah dari ayahku, seandainya ayah masih hidup, yang kemudian ditahbiskan sebagai suamiku. Aku tak percaya akan bisa mengubah nasib bersamanya. Tapi aku tak punya pilihan lain. Ini adalah kebijakan yang paling bijak, kata Mamak Daud, yang dia ambil selama hidupnya.

Aku coba percaya saja. Tapi, benar kataku. Lelaki itu hanya datang untuk melengkapi duka. Dia meninggal sebelum sempat aku dalami kedalaman mata tuanya.

Tuan, mengapa Ngkau tak membaca tanda-tanda? Apakah mata Tuan sudah mati dan buta seperti hati yang Tuan punya?

Cerita duka dalam hidupku adalah untaian kata-kata penyair yang tiada mengenal kata sudah. Adalah tebing yang selalu ada sepanjang aliran sungai Kampar. Selalu ditampar-tampar. Adalah kuku yang selalu tumbuh walau selalu dikerat. Adalah ranting-ranting yang selalu mencading. Adalah tangis seorang anak di masa kanak-kanak.

Sampai, suatu ketika.

Tuan datang. Tuan memperlihatkan dada Tuan yang menyembulkan gemuruh dendam. Mata Tuan menyimpan api perlawanan. Rahang menggeram. Dan, juga segumpal darah di dada Tuan menyimpan bibit rindu akan seseorang karena saat itu Tuan hanya sendirian. Tuan, ketika itu akupun menjadi teman.

Perlahan, aku melihat bulan di wajah Tuan. Aku kemudian menemukan dua belah tangan yang akan bisa melindungi. Aku mendapat seutas tampuk jantung yang bisa kujadikan tempat bergantung. Aku selanjutnya ingin berenang di kedalaman mata Tuan. Aku ingin larut dalam irama degup jantung Tuan. Aku juga ingin meredam api perlawanan dan gemuruh dendam itu. Aku ingin menjadi orang yang bisa Tuan rindu dengan segumpal darah di dada Tuan.

Dan, Tuan mengabulkan permintaan itu. Tuan lambungkan aku dalam atmosfir bahagia yang bernama cinta. Tuan bangun taman bermain untuk kita berdua. Tuan lepaskan aku dari semua kebat derita. Cerita pilu telah Tuan jadikan sebagai bagian masa lalu yang habis sudah.

Tapi kulihat, dan juga kurasa, kebahagiaan kita kemudian tidak jadi sempurna. Tidak bagi Tuan, tidak juga bagiku. Ketiadaan si buah hati telah menghadirkan bibit gerun berpulun-pulun. Di tahun pertama, bibit gerun itu hanyalah benih yang belum mencading. Tapi di tahun ke tujuh kebersamaan kita, bibit gerun itu sudah menjadi pohon dunia; akarnya menghunjam ke ceruk lapis bumi ke tujuh, sedangkan pucuk dan rantingnya telah mencekau hatiku, dan tentu saja hati Tuan.

Dalam setiap hela nafas Tuan, selalu berisi lirik memilukan. Selalu terdengar nada kerinduan. Aku tahu, Tuan merindu seseorang, tepatnya dua orang, yang lebih spesial dibanding aku. Sebuah kerinduan yang akan menjadi bom waktu dan akan memisahkan kita di dunia.

Lirik dan lagu itu selalu Tuan senandungkan setiap waktu. Bukan aku tak tahu. Tapi sengaja aku berpura-pura tak tahu. Aku selalu berharap rasa rindu itu akan tergerus waktu.

Dan, itulah. Pagi itu menjadi sesuatu yang paling bersejarah dalam hidupku. Sejarah yang teramat pilu. Sejarah yang takkan pernah bisa kulupa walau padang mahsyar adalah bentangan kain-kain sutra.

Tuan pergi meninggalkanku. Tuan membohongiku. Tuan coba melupakanku. Tuan campakkan pipit kerdil ini ke tengah gurun gersang, dengan setangkai ranting kecil sebagai penopang yang angina sepoi pun tak bisa bertengger di atasnya.

Tuan menjadi pecundang!

Benar-benar tak jantan!

Aku kehilangan, Tuan. Sangat kehilangan Tuan. Kehilangan yang menjadi ruang hampa bagiku. Ruang rana. Ruang yang membuatku tak bisa berbuat apa-apa. Suatu kehilangan yang saat kita masih memerlukan sesuatu tapi sesuatu itu sudah tidak lagi bersama kita.

Tuan, mengapa Ngkau tak membaca tanda-tanda? Apakah mata Tuan sudah mati dan buta seperti hati yang Tuan punya?

Aku bukan perempuan yang egois. Aku bukan perempuan yang tidak bisa hidup sendiri di usia yang sudah seperempat abad. Bukan juga soal Tuan adalah hakku yang harus dipertahankan sampai kapanpun. Tapi… tak membacakah Tuan, bahwa jarum cinta sudah berkarat di hatiku. Dia sudah berendam dan bersatu di sana seperti bersatunya aur dengan tebing? Seperti jari dengan kukunya? Seperti bunga dengan harumnya? Jangan pernah Tuan cabut jarum cinta itu. Selain akan menimbulkan luka, karatnya akan menebarkan racun yang sangat berbisa. Bisa itu akan merusak hatiku, dan juga hati Tuan. Bukankah kita sudah punya masing-masing satu jarum cinta? Jarum cinta Tuan menikam hatiku, jarum cintaku menghunjam ke kedalaman hati Tuan. Bila tercabut satu, satunya lagi akan tercabut juga. Artinya, racun akan menebar dan merusak bukan hanya hatiku, tapi juga hati Tuan.

Dan, aku tak ingin Tuan menderita seperti aku pernah atau akan menderita. Aku takkan biarkan Tuan melarat dengan hati yang dipenuhi karat. Aku ingin menyelamatkan Tuan. Karena, dengan menyelamatkan Tuan, berarti aku juga menyelamatkan hatiku.

Mengapa Tuan tak membaca tanda-tanda? Apakah mata Tuan sudah mati dan buta seperti hati yang Tuan punya?

Aku tak membiarkan Tuan pergi sendiri. Walau hanya untuk sejengkal. Cinta kita harus diselamatkan. Niat Tuan untuk meninggalkanku, membunuh cinta kita, adalah keputusan yang paling buruk yang Tuan ambil. Lalu, aku ikuti perjalanan Tuan. Aku kejar pelarian Tuan.

Tapi, aku sengaja tidak memperkenalkan diri kepada Tuan. Pagi itu, aku potong pendek rambut ini. Aku tumbuk arang di dapur. Aku campur dengan kulit-kulit bawang. Aku aduk dengan lumpur. Lalu, kubaluri tubuh ini. Kukusut masai rambut ini. Sampai tak seorang pun mengenal Jailawa, bahkan Jailawa sendiri.

Dan, aku menyusul Tuan.

Sepanjang perjalanan kita, tepatnya pelarian Tuan, aku coba memahami hati Tuan kembali. Siapa tahu, ada sisi hati Tuan yang selama ini dirahasiakan. Siapa tahu juga, selama tujuh tahun perjalanan kita dalam mengarungi biduk rumah tangga, aku memang masih belum mengenal Tuan dengan sempurna. Siapa tahu ada kersik yang tak mampu Tuan hapus dari permukaan hati Tuan. Ada duri yang menyelip di sana sehingga membuat Tuan tak bisa mengenaliku secara sempurna.

Dan, ternyata aku menemukan beberapa rahasia kecil itu. Tentang Tuan yang mudah terpedaya oleh godaan perempuan lain, dan juga tentang Tuan yang mempunyai segudang rasa iba. Jujur Tuan, aku sayang kepada Tuan. Aku bangga kepada Tuan. Walau aku juga sangat menyayangkan dan tidak terima dengan beberapa sikap Tuan tadi.

Oh iya, aku coba juga menyelami kedalaman hati Tuan. Aku ingin mengetahui pendapat Tuan tentangku ketika aku menjadi orang lain. Siapa tahu, ada yang tak pernah terkatakan oleh Tuan kepadaku selama tujuh tahun pernikahan kita.

Ya Allah, benarkah yang aku kenal itu adalah Tuan? Adalah Markoni. Adalah orang yang selama ini menjadi pelita dalam gulita hatiku?

Tuan. Dengan keras hati Tuan katakan kepada semua orang tentang Lawa yang sudah pergi. Lawa yang takkan pernah kembali ke hati Tuan. Lawa yang tak bisa memberi anak. Tentang Lawa yang sudah Tuan talak. Sebegitu bencikah hati Tuan kepadaku selama ini?

Rasanya, aku ingin menangis. Ingin marah. Ingin menghabisi jiwa ini. Tapi, itu semua urung kulakukan. Karena, ketidakcintaan Tuan kepadaku bukan karena aku tak lagi menarik bagi Tuan. Bukan karena kesalahan yang kubuat. Bukan karena kesalahan Tuan yang juga mulai berkarat. Tapi, semuanya karena keinginan pihak lain yang tak bisa Tuan tolak sedikitpun. Dan juga bayang-bayang cinta masa lalu yang belum Tuan habiskan. Walaupun harus kuakui, semua faktor itu hanyalah pelengkap rasa ego Tuan yang sangat berlebihan.

Tuan, aku coba juga memaafkan semua sikap Tuan. Sebenarnya, ingin kukaramkan sampan yang menyeberangkan kita saat tangisku tak mampu mengubah sikap Tuan. Tapi, kubatalkan niat itu. Kulepas juga Tuan mengejar bayang-bayang. Siapa tahu, suatu saat Tuan akan berubah. Akan kembali ke rumah kita dan kedalaman hatiku yang selalu coba jadi pemurah.

Mengapa Tuan tak membaca tanda-tanda? Apakah mata Tuan sudah mati dan buta seperti hati yang Tuan punya?

Di rumah Tuan, di depan Bunda kita, di depan Zahra, di depan semua orang yang menghuni Mahat, aku tunjukkan betapa aku berharap supaya Tuan berubah. Tapi, semakin hari Tuan semakin jauh. Tuan sudah mengangkat sauh dan meninggalkanku dalam luruh. Tuan semakin menghilang dari ranah hatiku yang iba. Ketika sakit menimpa badan inipun, Tuan tak merasa iba. Padahal, hanya Tuan yang kupunya. Hanya Tuan tempat kurebahkan segala keluh-kesah.

Tuan, aku harusnya berbuat apa?

Tolonglah! Hanya Tuan yang kupunya. Ketiadaan Tuan sama artinya ketiadaan semuanya.

Sepulang dari pemandian di tepian itu, aku merasakan sakit yang luar biasa. Tak pernah aku merasa sakit seperti ini. Perutku melilit-lilit. Ususnya mungkin sudah membelat-belit. Kepalaku seperti dipukul bambu berbelah-belah. Keringat dingin bersimbah seperti air bah. Dan, beruntung aku masih sampai di depan pekarangan rumah Bunda kita sebelum aku tak ingat apa-apa. Beruntung pula, sebelum aku rebah, Bunda sudah datang untuk memapah.

Maafkan aku, Tuan. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku nampaknya tak punya harapan apa-apa lagi. Semua sudah usai. Hatiku yang hanyut menyungsang pun tak Tuan pandang. Apa yang kurang, Tuan? Apa yang harus kulakukan untuk kembali menjemput hati Tuan?

Aku putus asa.

Sepulang dari tepian tadi, sebenarnya aku sudah punya rencana. Aku sudah mencoba untuk menerima keputusan Tuan untuk menikah dengan Zahra. Aku bahkan ingin datang malam ini kepadanya. Menyerahkan Tuan bulat-bulat. Berjanji tak akan mengganggu-gugat. Dan kemudian pulang ke Poro sendirian, walau dengan hati yang berulat. Aku juga sudah siap menjadi janda untuk yang kedua kalinya walaupun itu sangat berat.

Walau sebenarnya aku siap untuk dimadu, siap untuk Tuan datangi walau hanya sekali setahun, tapi aku tak hendak merusak kebahagiaan Tuan dengan Zahra, walaupun hanya dengan pertemuan sekali setahun itu. Biarlah dia menikmati dengan utuh.

Tuan, aku sangat ingin datang malam ini kepadanya, dan juga melihat Tuan bersanding besok pagi. Tapi, rasa sakit ini benar-benar tak bisa kutahan. Apakah karat dari jarum cinta sudah menebar ke serata hatiku? Oh tidak, semoga tidak. Karena, aku tak ingin hal serupa terjadi juga pada Tuan.

Terima kasih, Bunda Tuan sangat baik. Benar kataku dulu, Tuan sangat beruntung. Masih punya Bunda. Dan, Bunda yang sangat baik. Aku merasakannya. Aku sangat bahagia sudah bisa mengenalinya. Sudah bisa merasakan kasih sayangnya, walau itu hanya beberapa hari. Aku sangat bahagia Tuan. Kerinduanku kepada sosok seorang Bunda sudah terobati sempurna dengan kehadirannya. Bola mataku seakan penuh karenanya. Mungkin kalau Tuan lihat rasa bahagia yang membekapku kini, pasti Tuan menyesali tidak membawaku ikut serta ke Mahat sejak tujuh tahun lalu. Karena ternyata dengannya aku sangat bahagia. Dia adalah Bunda yang sangat sempurna.

Sejak petang tadi, Bunda Tuan, eh Bunda kita, sudah menjemput dukun untuk mengobatiku. Dia terlihat sangat panik. Melebihi paniknya hati Tuan ketika aku sakit dulu di Kumontan. Di matanya mengalir rasa iba yang maha dalam melihat penderitaanku yang semakin dalam. Dia tak sedikitpun melepas pelukannya sejak tadi, sejak sakitku menjadi-jadi. Dia menangis Tuan. Sungguh, dia menangis. Air matanya menetes dan membasahi datar pipiku yang perlahan mulai lisut. Adakah Bundaku juga seperti dia? Adakah Bundaku, kalau masih hidup, akan menyayangiku seperti Bunda Tuan menyayangiku juga? Mengapa Tuan selalu mendapatkan hal yang sempurna dalam kehidupan, selain kepemilikan terhadapku?

Tuan, aku ingin menjadi anaknya secara sungguh-sungguh. Bukan hanya sebagai menantu. Aku ingin menjadikannya sebagai Bunda secara sungguh-sungguh. Bukan ibu mertua. Tapi, mungkinkah itu akan kulakukan sementara Tuan sudah mencampakkanku. Meninggalkanku. Menalakku. Mengapa Tuan tega memutuskan hubungan batin ini karena ego kelelakian Tuan?

Ketika pituah-pituah yang dibacakan dukun hinggap di ubun-ubun, Bunda Tuan coba menghadiahi seulas senyum. Tapi, ketika satu jam kemudian, dua jam kemudian, dan hingga kini hampir tengah malam, rasa sakit ini tak juga kunjung hilang, dia tak mampu menahan sesuatu yang sedari tadi mendesak di dadanya. Kali ini dia tidak menangis. Tapi meraung. Suara panjang tentang penyesalan, tentang ketakutan, tentang ketidakmampuan manusia atas sebuah cobaan. Dia tak hendak beranjak walau sejengkal dari tubuhku. Dia telah menjadikan tubuhnya yang jengkuh sebagai selimut untuk menghangatkan tubuhku yang semakin membeku.

Tuan, saat ini sudah jauh tengah malam. Mahat memang terasa sangat sunyi. Keramaian di rumah Zahra pun sudah berhenti. Orang-orang hanya menunggu pagi. Menunggu masa-masa Tuan dan Zahra duduk memanggak diri.

Bunda tak kunjung dijemput kantuk. Aku juga tak kunjung mengantuk.

Seseorang datang ke kamar tempatku terbaring, kamar milik Bunda ini. Dia adalah seorang perempuan di ambang senja. Namanya kemudian kukenal dengan Taman Bungo. Ya Allah, nama yang sungguh indah. Nama yang takkan pernah kulupa walau padang mahsyar akan dilapisi kain sutra. Bukankan nama perempuan di ambang senja itu adalah harap pinta semua manusia?

Setelah berbasa-basi kepada Bunda, dia memegang keningku. Memegang pipiku. Melihat ke kedalaman mataku di tengah lindapnya cahaya pelita sumbu. Lalu, dia memegang leherku, kemudian turun ke payudaraku. Di sana, dia berhenti untuk seketika. Meremasnya beberapa ketika. Aku kaget. Mau marah. Tapi, tidak terlihat niat buruk di sana. Lalu aku biarkan. Kemudian, tangannya menjangkau perutku. Mengusap yang kanan, memijit yang kiri. Bergantian. Dia memutar tangannya sepenuh lingkaran. Sedetik kemudian dia beranjak ke bawah sejengkal. Ke ranah yang tak pernah orang lain masuk ke sana. Kecuali aku, dan Tuan.

’’Tolong Markoni…’

Dia pegang permukaannya. Dia merasa basah. Di sana memang sangat basah dalam sepuluh hari ini.

Dia usap lagi permukaan itu. Merasakan lembabnya rerumputan yang benar-benar basah itu.

’’Ampun… Tolong aku Markoni. Apa yang terjadi?’’

Aku ingin menjerit. Ingin protes. Ingin marah. Tapi untuk apa? Toh, dia tak terlihat mempunyai niat buruk apa-apa.

Lalu, sssuuupp… jemari tengahnya menancap. Menancap! Menancap ke sebuah kawah yang sangat basah. Ke suatu tempat yang tak pernah seorang pun ke sana. Tidak juga aku. Hanya kamu, Markoni. Hanya Tuan. Hanya Tuan yang pernah masuk ke area yang selalu kujaga atas namamu. Atas nama cinta kita. Atas nama masa depan kita. Mengapa tiba-tiba, seseorang, bahkan orang itu adalah perempuan, masuk ke kedalamannya?

Sedetik, dua detik, dan mungkin sampai sepuluh detik. Jemari itu masih berada di dasar magma.

Akhirnya, penyiksaan itu berlalu. Perempuan itu, Taman Bungo itu, memandang ke kelam bola mataku di tengah lindap cahaya dari api pelita yang menjilat malam.

’’Apa Ngkau mengandung?’’

Ya Allah…. Apa-apan ini? Apa-apaan ini? Apa maksudnya, Tuan? Apa maksudnya, Markoni?

’’Apa Ngkau mengandung?’’ tanyanya lagi.

Aku menggigit bibir. Tak hendak menjawab. Karena aku memang tak punya jawaban apa-apa. Karena pertanyaan seperti itu tak pernah dilontarkan kepadaku sebelumnya. Bibirku seperti berdarah. Ada rasa masin mencecap di lidah.

Aku menggeleng.

Perempuan itu memandangku lagi.

Aku menggeleng lagi.

Perempuan itu seperti gundah.

’’Apa maksud, Nenek?’’

’’Apa Ngkau mengandung, Nak?’’

’’Maksudnya?’’

’’Apa Ngkau mengandung?’’

Pertanyaan itu sungguh jelas. Tak perlu diulang lagi. Tuan, aku tak pernah ditanya seperti itu. Seumur hidupku. Bukankah tujuh tahun perjalanan kita aku tak pernah mengandung? Terlambat haid pun bahkan tidak. Bukankah itu pula yang menjadi bibit cekau di antara kita? Bukankah itu pula yang menjadi bala sehingga Tuan terbang ke Mahat dan berniat meninggalkanku dalam luka?

’’Aku tak tahu, Nek,’’

’’Ngkau belum pernah punya anak? Belum pernah mengandung?’’

Aku menggeleng.

Sedetik diam. Sepuluh detik masih diam.

’’Ngkau mengandung, Nak. Ada bayi di perutmu. Ngkau tak sakit apa-apa. Ngkau hanya sakit orang hamil biasa,’’

Allaahu akbar…. Allaahu akbar… Allaahu akbar.

Tuan, apakah aku sedang terjaga? Apakah ini bukan dari kamuflase hati semata?

Aku ingin melonjak gembira. Aku ingin menyebut nama Tuan sampai aku tak lagi punya suara. Tapi, kutahan dulu rasa gembira itu. Aku ingin menyampaikannya pada saat yang paling istimewa.

Tapi, mengapa Bunda Tuan tidak surprise seperti apa yang kulakukan? Dia hanya memelukku. Memberi ucapan selamat, dan senang. Tak ada reaksi yang berlebihan. Dia hanya terlihat senang karena ketakutannya atas jenis penyakitku kini terjawab sudah. Artinya, dia tak perlu terlalu risau. Bukankah penyakit orang hamil adalah hal yang jamak dan bisa hilang setelah tiba waktunya?

Uppsss… Aku terlupa. Bunda memang tidak tahu siapa aku. Aku hanyalah Tiara, perempuan seperjalanan dengan Tuan, dan kini coba hidup menumpang sampai Tuan menikah untuk kemudian berangkat lagi ke Muaro, mencari suamiku. Ya, patut saja dia tidak kaget seperti aku. Patut saja kadar bahagianya tidak seujung kuku rasa bahagiaku. Padahal, kalau dia tahu bahwa di kandunganku ada anak dari anaknya, aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.

Tuan, Bunda senang melihatku berubah. Ketika dia melihat darah mengalir cepat dan menimbulkan maya di wajahku, melihat mataku kembali bersinar, melihat bibirku tersenyum merekah, melihat tubuhku yang tiba-tiba terasa bergairah, dia memelukku dalam waktu yang lama.

’’Selamat ya, Nak. Bunda takut kalau Ngkau kena apa-apa. Oh iya, sudah berapa lama tidak punya anak?’’

Kerongkonganku tercekat. Susah mendapatkan satu atau dua kata untuk dijadikan jawaban kepada Bunda. Kujawabkah dengan angka tujuh tahun? Rasanya, angka itu tak perlu. Mungkin itu akan mendatangkan bibit pertanyaan lain yang bisa menjadi sembilu.

’’Sudah lama,’’ kataku, akhirnya.

’’Mungkin Ngkau sakit selama seminggu lalu, itu karena pembawaan janin juga,’’ kata Bunda.

Aku tersenyum. Senang.

Melihat aku sangat senang, Nenek Taman Bungo ternyata juga sangat senang. Dia kembali memeriksa perutku. Dia pijat, tepatnya dia usap pelan-pelan. Dia juga mengusap bagian-bagian lain tubuhku.

’’Umurnya sudah hampir 20 hari. Masih rentan dengan goyangan. Ngkau harus menjaganya baik-baik,’’ kata si nenek.

Sudah hampir 20 hari? Artinya, tunggu. Aku harus flash back. Menghitur mundur ke belakang. Satu hari, dua hari, lima hari, dua puluh hari. Ah, janin ini terjadi pada malam itu? Pada malam itu kita hanya diterangi bintang. Malam di saat aku menjadi kembang setaman dan Tuan adalah kumbang yang mampu mengisap madu tanpa nyawa penghabisan? Suatu malam yang bisa mengeliminasi beribu malam?

Tuan, Ngkau telah jadi ayah. Aku adalah Bundanya. Kita sudah jadi orang tua.

Tapi, besok Tuan akan menikah. Akankah anak kita menemukan bunda dan ayahnya masih di bawah payung pernikahan?

’’Bunda, jangan katakan apapun kepada orang lain tentang ini. Cukup ini menjadi rahasia kita bertiga. Aku tak ingin ini didengar orang lain, terutama Bang Markoni,’’ kataku.

Bunda dan Nenek Taman Bungo memandangku. Aku menunjukkan bentuk wajah sungguh-sungguh.

’’Mengapa? Bukankah ini berita suka’’

’’Tak ada apa-apa. Tapi, pada waktunya Bunda akan tahu juga,’’ kataku.

Kalimat yang sangat menggantung. Kalimat yang membuat bingung.

Memang, aku ingin membuat semua orang jadi bingung, sampai akhirnya sesuatu yang pernah kurencanakan akan kuujudkan.

Pagi menyapa lebih cepat dari biasanya. Kesibukan yang terhenti sejak lewat tengah malam, kini dimulai lagi setelah subuh berlalu. Di rumah Tuan, orang-orang sudah banyak yang datang. Di rumah Zahra, apalagi. Helat yang mereka adakan sejak tiga hari lalu, hanya sebagai pembuka. Sedangkan pada hari ini, adalah hari puncak. Semua orang kampung tumpah ke rumah orang terkaya di kampung Mahat ini. Bunyi-bunyian semakin meramaikan suasana rumah yang memang sudah ramai.

Tuan sudah mandi. Aku melihatnya sekilas pagi tadi. Sedangkan aku, masih terbaring di tempat tidur kamar tengah. Bunda, juga terlihat sangat sibuk berbuat entah apa.

Tuan, aku sangat ingin mengabari peristiwa ini. Tentang peristiwa yang ingin kita rasakan selama tujuh tahun, setiap hitungan bulan berjalan. Kita, setiap bulan, selalu dilanda degup jantung yang panjang. Kita selalu berharap agar tak ada sesuatu yang berwarna merah keluar dari kelaminku. Kalaupun harus keluar, itu harus setelah sembilan bulan sepuluh hari. Dan, yang keluar bukan darah kotor, melainkan bayi merah yang sangat suci.

Tapi, ketika kabar gembira ini ingin kusampaikan sekarang, hatiku masih menegahnya. Belum saatnya, katanya. Hatiku berucap, berikanlah kabar yang spesial ini pada saat yang spesial pula. Walau aku juga tahu, sikap yang kuambil ini adalah sikap zalim karena mengorup informasi untuk kepentingan pribadi.

Ketika Tuan mulai memakai beskap, aku sebenarnya sangat iri. Ingin rasanya aku yang memasangkannya. Mamatutnya. Aku bangga, Tuan terlihat sangat gagah dengan pakaian pernikahan itu. Ketika menikahiku dulu, Tuan hanya datang dengan teluk belanga. Bukan dengan beskap yang membuat Tuan terlihat lebih muda. Kata Bunda, beskap itu peninggalan ayah Tuan. Dia mendapatkannya saat dalam perantauan entah di mana.

Matahari sudah naik sepenggalahan. Rumah Tuan tiba-tiba menjadi ramai. Puluhan orang dari keluarga Zahra sudah datang. Mereka ingin menjemput menantunya, menjemput Tuan. Mereka ingin membawa Tuan untuk duduk bersanding di rumahnya. Bersama Zahra. Memanggak diri dari pagi sampai petang. Bersama perempuan yang telah membuat hati dan mata Tuan menjadi mati dan buta.

Tuan, pagi ini semua orang berpakaian indah. Penuh bunga-bunga. Sebagiannya berbaju kurung, sebagian lainnya memakai kebaya. Apapun yang mereka pakai, semuanya serba mewah. Semua orang ingin menunjukkan apa yang terbaik mereka punya.

Sedangkan aku, di perbekalanku hanya ada baju kebaya bersulam bunga mawar merah. Baju kebaya yang kupakai saat malam pertama, saat Tuan mengucapkan sumpah setia, saat kita menikah. Mungkin, Tuan, inilah harapan terakhir yang kupunya. Hanya ini yang bisa membuat hati Tuan menjadi terbuka. Semoga benar kata orang, siapa yang lupa dengan baju pengantin dan malam pertama?

Tapi, apakah Tuan tidak akan terlupa? Apakah Tuan masih bisa membaca tanda-tanda? Apakah mata Tuan sudah tidak lagi mati dan buta seperti hati yang Tuan punya?

Baju kebaya bersulam bunga mawar merah. Inilah lambang luka yang meneteskan darah. Sublimasi nyata pernikahan kita.

Bunda menolehku sesaat, sebelum Tuan meninggalkan rumah. Dia terkesima. Dia melihatku dengan mata yang terpana. Apalagi ketika dia melihat kebaya mawar merah. Dia jadi terperangah.

Lalu, dia tahan langkah kaki Tuan untuk menjejak tanah. Dia ajak Tuan, dan semua orang, memandang ke kebaya bunga mawar merah.

Aku tertegun, berdiri dengan senyum merekah. Di pintu bilik kamar tengah.

Semua orang terpana. Menoleh ke mawar merah muda.

Tuan sebenarnya tak ingin melihat karena ingin bergegas ke rumah Zahra. Tuan sudah tak tahan untuk duduk bersanding, memanggak diri sebagai raja sehari. Tapi kerumunan orang yang riuh bagai lebah, perlahan berhasil mengundang rasa ingin tahu Tuan. Lalu, seperti Musa menyibak Laut Merah, kerumunan itu pun terbelah, memberi laluan kepada fokus mata Tuan.

Jalan membentang. Arus pandang tiada berhalang. Dan, sulam mawar merah mencuri pandang.

Tuan, aku melihat di sana. Di kedalaman mata Tuan yang terpana. Segenggam rasa tidak percaya. Sebuah tanda tanya sebesar rumah.

’’Dinda bukan Tiara. Dinda adalah Lawa…’’

Aku tersenyum. Tuan ditampar angin berpulun-pulun.

’’Lawa, bagaimana bisa…’’

Aku memperlihatkan gigiku yang tiada lagi ompong. Tuan berdiri dengan tatapan kosong.

’’Lawa, sandiwara apa…’’

Aku mengibaskan rambutku yang hampir sepinggang. Membuka-tutup leher jenjang. Menampar-nampar pinggul yang seperti bergoyang. Tuan mencoba berkacak pinggang.

’’Lawa…’’

Tuan, tolong. Jangan memandangku seperti itu. Mengapa Tuan terlihat sangat bernafsu? Bukankah Tuan masih punya hutang teramat banyak kepadaku?

Bunda melihat perubahan itu. Bunda merasakan ada sesuatu yang tidak beres hadir di sana; sebuah perjumpaan yang tidak semestinya. Dia memandang Tuan dengan mata seperti singa. Kepadaku dia mendelik penuh selidik.

Tuan ternganga. Aku tersenyum sangat bahagia.

Semua orang memandang kita berdua. Gondang oguong yang tadi mulai ditingkah, kini berhenti sudah. Kaki orang-orang yang tadi ingin melangkah, kini semuanya berbalik arah.

Apa kabar Zahra? Apakah dia terlalu lama menunggu untuk sebuah nganga mulut Tuan yang tidak bisa berkata apa-apa?

Apa kabar Mamak Sidin? Apakah otaknya sudah berpilin-pilin karena perbuatan kemenakannya yang tak bisa ditampin?

Tuan, tolong jangan memandangku seperti itu. Karena aku bukan Tiara yang bisa Tuan jadikan sebagai istri ketiga. Aku adalah istrimu yang pertama. Istri yang sudah Tuan tinggalkan dalam luka. Istri yang terlalu tabah untuk beribu cobaan yang Tuan tarah.

Upsss… Jangan memandangku seperti itu, Tuan.

Dan, Ya Allah… Jangan memandang ke arah perutku ini Tuan. Karena Tuan tidak tahu apa-apa. Tak ada siapa-siapa yang memberi tahu Tuan tentang apa-apa di perut ini ‘kan? Perut ini tidak berisi apa-apa. Jadi, aku tak apa-apa. Mengapa Tuan masih ingin bertanya sesuatu dengan awal kalimat mengapa, atau bagaimana? Apakah Bunda bukan orang yang amanah sehingga membuka cerita tentang tubuh bagian tengah?

Aku memandang ke bawah, ke arah panah mata Tuan mengarah.

Sedikit buncitkah?

Rasanya tidak. Umur kandungan dua puluh hari rasanya belum akan menghasilkan apa-apa. Belum menampakkan apa-apa.

Tapi, kemudian Tuan melangkah. Selangkah. Dua langkah. Tiga langkah. Dan kuhitung, kini sudah sembilan langkah. Jarak kita tinggal hanya dua langkah.

Sudah! Sudah, Tuan! Jangan mendekat lagi. Karena, selangkah lagi kaki Tuan ke depan, aku akan dapat merasakan dengus nafas Tuan. Aku akan bisa merasakan riap aroma tubuh Tuan. Akan bisa merasakan kekar tangan Tuan. Akan bisa bergantung di tampuk jantung Tuan. Akan bisa larut dalam detak nadi Tuan.

Tapi, ya! Tuan melangkah lagi. Kali ini dengan langkah yang sangat pendek. Pandangan mata Tuan tidak berbelah-bagi. Tetap mengarah ke selingkaran bagian tengah tubuhku. Tetap memandang ke perutku yang agak terpampang karena kebaya bersulam mawar merah ini tidak lagi lapang.

Orang-orang lengang. Tak sesuatupun yang menimbulkan sipongang.

Lalu, tangan Tuan menjulur.

Tolong. Jangan, Tuan! Aku rasa Tuan sudah terlalu jauh masuk ke dalam permainanku. Terlalu lama Tuan bisa kutipu.

Tangan Tuan menjulur. Kali ini tidak kusambut. Karena aku yakin, Tuan tidak berharap menyentuh tanganku, melainkan perutku. Dua detik kemudian, tangan itupun sampai. Menyentuh permukaan perut yang ditutupi serbuk sari kuning si bunga mawar merah.

Lalu, Tuan mengangkat wajah. Memandangku dalam jarak yang tidak sampai sejengkal. Menusuk tikam jelaga yang kupunya. Memaksa kunci bibir terbuka secepatnya untuk berucap sesuatu yang sangat rahasia.

Tuan, aku tahu apa yang Tuan mau. Tapi, aku masih mempertimbangkan, kalimat apa yang harusnya jadi pembuka? Tentang kandungankah? Tentang rujukkah? Atau, Tuan mau marah?

Akhirnya, aku putuskan sesuatu yang bukan kalimat. Hanya sebuah anggukan. Plus sesungging senyuman.

Orang-orang riuh. Suasana jadi keruh.

Bunda luruh. Bersimpuh di antara dua pasang lutut kita yang juga lintuh. Dia memegang ujung beskap dan kebaya mawar merah. Menariknya hingga kita berbagi air mata.

’’Mari pulang…’’

Tuan, hanya Tuan yang kupunya. Hanya Tuan tempatku menyandarkan keluh-kesah. Hanya Tuan tempatku gantungkan masa depan. Aku ingin Tuan pulang. Aku ingin kita kembali ke rumah kita yang berjuntai di bibir sungai.

Sudahlah, Tuan. Kumaafkan segalanya. Aku tak ingin jarum itu tercerabut dari kedalaman hati kita. Karena, di sana terlalu banyak racun berbisa.

***

Punggung bukit ini sungguh terjal. Sebuah kendaraan Belanda yang kita tumpangi, berusaha menjajal.

Gondang oguong tak lagi terdengar. Suara calempong sudah lama kita tertinggal. Persis ketika bunga mawar merah merekah, Mahat pun menjadi pecah. Semua orang berbisik tanpa sudah. Sebagian lagi menangis tanpa faedah. Sebagian lagi menyampaikan sumpah seranah.

Zahra, apa kabarmu?

Aku tak jadi melihatmu bersanding di pelaminan. Aku juga tak sempat melihat air mukamu yang membeku tersebab bunga mawar merah.

Mau menangiskah?

Apa peduliku.

Mau marahkah?

Aku tak peduli.

Mau bunuh dirikah?

Peduli apa aku.

Mau apapun kah?

Apa aku peduli?

Di sini, di mobil Belanda yang berjalan gagah, ada Bunda yang tersenyum bahagia, ada Markoni yang telah kembali, dan, ada si jantung hati.

Kelak, si jantung hati penaut hati, kita beri nama siapa?

***


Epilog

Malam sudah larut. Orang-orang meringkuk dalam selimut. Lelaki berselimut tikuluk pucuk itu berkali-kali menguap, menahan rasa kantuk yang teramat sangat. Tapi katup matanya tak kunjung bertaut, karena dua adiknya yang mulai sekolah itu tak kunjung mengizinkannya berangkat tidur.

”Cerita lagi...”

Apa yang harus diceritakannya? Tentang Pik Pintau? Tentang Siti Jailawa?

Semua bahan cerita sudah diulang-ulang. Bahkan dalam semalam sampai dua atau tiga kali. Mau menciptakan bahan cerita baru, sudah dicobanya. Tapi stok memang sangat terbatas, padahal rasa ingin tahu dan haus hiburan anak-anak kecil itu tidak terbatas.

Dia, sebenarnya ingin kembali menceritakan tentang Siti Jailawa. Tapi bahan itu sudah diceritakannya di awal tadi. Cerita tentang Pik Pintau, seorang anak raja beristrikan seekor burung pun sudah diulangnya dua kali. Cerita tentang raja yang mempunyai anak dua pun sudah sepanjang tali beruk; seakan tak putus-putus.

Ada seorang raja, mempunyai anak dua. Yang satu minta istana, yang satunya lagi minta ceria. Ceritanya begini... Ada seorang raja, mempunyai anak tiga, yang satu minta istana, satu minta tanah, yang satunya lagi minta cerita. Ceritanya begini... Ada seorang raja, mempunyai anak empat...

Cerita itu bisa tak berujung, sampai kiamat. Tapi, cerita tentang ini hanya berbuah protes dari adik-adiknya itu. Kata mereka tak seru, menipu, tak ada perkembangan, tak punya rasa.

Memang, tujuan lelaki itu adalah untuk membuat mereka bosan untuk kemudian menjemput tidur.

”Jadi, Siti Jailawa pulang ke rumahnya di Poro?” kata Mawar.

”Ya iyalah... Tadi ‘kan sudah diceritakan dia pulang bersama lakinya, mertuanya, dan juga anak dalam kandungannya,” protes Abdi. Abdi adalah yang paling kecil, tapi paling cepat faham soal cerita.

”Jadi Zahra?”

”Ya, tinggal di rumahnyalah. Di Mahat. Acu ni banyak tanya. Tak menyimak. Lanjutkan sajalah ceritanya, Do,” kata Isu menyela. Kali ini adiknya yang di tengah menyela Udo-nya, panggilan buat si pencerita.

Laki-laki itu sudah kehabisan bahan. Cerita Jailawa memang berakhir seperti itu. Neneknya, dulu, juga bercerita sampai di situ. Tak ada kelanjutan. Kalau dia meminta perempuan ambang senja itu meneruskan, dia malah disuruh tidur. Katanya, ada momok; ada harimau yang menakutkan.

Lalu, apa yang harus disambungnya kalau dia sendiri tak pernah mendapatkan sambungan cerita itu? Tapi kadang-kadang dia sambung-sambung juga cerita itu. Bahkan, malam itu, karena kantuk membekap erat, dia pun bercerita tanpa tahu lagi ujung pangkalnya.

”Jailawa pun pulang. Dari Mahat, dia sangat was-was. Takut dikejar atau malah dibunuh oleh Mamak Sidin, atau orang suruhannya. Dengan menaiki mobil tentara Belanda, mereka sampai juga ke Salo. Tapi Poro masih jauh. Kalau harus berjalan kaki, mungkin akan bermasalah dengan kandungan Lawa. Mereka pun bingung mencari cara. Tapi untung ada oplet, mereka pun naik oplet jurusan Panam. Lawa duduk di bangku empat. Markoni dan Bundanya duduk di bangku enam. Ketika baru separo jalan, stokar oplet minta tambang...”

Seketika dia berhenti. Tiba-tiba dia tersadar.

”Apa tadi? Naik oplet ya?” Dia bertanya sendiri tentang kelanjutan ceritanya.

”Iya. Jailawa naik oplet mau pulang ke Poro,”

Astaghfirullah... rupanya lelaki itu mengigau. Dia tadi sudah tertidur. Namun karena cerita tak boleh sudah, dia sampaikan juga entah apa. Matanya sudah menutup, bibirnya masih terbuka. Jadi, ceritanya entah kemana. Mana mungkin Jailawa naik oplet. Saat itu memang tidak ada oplet. Yang ada hanya truk-truk tentara penjajah. Itupun baru lewat sekali atau dua kali sepekan. Rupanya, dia terhalusinasi dengan oplet yang sering ditumpanginya waktu berangkat kuliah.

”Iya. Cerita Udo ni salah-salah,” kata adik-adiknya hampir serempak.

Kalau sudah begitu, dia tersenyum sendiri. Rasa kantuknya sedikit hilang. Lalu dia menyuruh adik-adiknya segera tidur.

”Ada momok...” katanya.

”Mana ada? Mau menakut-nakutkan saja. Udo kira kami masih anak kecil,” kata mereka serempak.

Tapi, akhirnya mereka tertidur juga di dalam selimut yang sama.

Lelaki itu kemudian membenarkan tikuluk pucuk yang dijadikannya sebagai selimut agar menutupi seluruh tubuhnya. Tikuluk itu diciumnya dalam-dalam. Dari helai kain yang enggan lapuk itu, masih selalu tercium harum kesturi, seperti yang diciumnya saat mengantarkan pencerita Jailawa itu ke pemakamannya. Tikuluk itu adalah selimut di masa-masa akhir neneknya di dunia.

Apa kabar perempuan itu di alam barzah?

Kerinduannya kepada perempuan yang sangat menyayanginya itu sering kali sangat mendalam. Kalau rindunya tak dapat lagi ditahan, dalam malam-malam yang kelam dia akan menyampaikan cerita-cerita masa lalu kepada adik-adiknya itu. Mungkin karena selalu bercerita itu pula, dia mahir dan selalu menjadi favorit adik-adiknya yang masih kecil untuk bercerita.

Dia senang dengan keahliannya itu. Apalagi kemudian dia mencoba-coba menuliskan cerita-cerita itu di laptop yang baru dibelinya tiga bulan lalu. Namun beberapa kali dia ikut terperangah kalau dia sudah bercerita di depan omaknya. Perempuan itu selalu tersenyum simpul kalau sudah sampai kepada cerita Siti Jailawa. Katanya, cerita itu tidak fiktif. Bukan sekadar pengantar tidur. Itu merupakan cerita asli si penceritanya.

Ups... kalau itu benar, sebenarnya siapakah nenek yang selalu mengasuhnya pagi dan petang itu? Mengapa dia tak pernah bercerita tentang masa lalunya yang penuh cerita dramatik itu? Yang mereka tahu, datuk mereka adalah seorang lelaki dari hilir sungai. Bukan dari Mahat. Datuk meninggal ketika omak masih kanak-kanak.

Lalu, apa hubungannya dengan Markoni, dengan Mahat?

”Siapa yang bilang kakek kalian cuma satu?” kata Omak kemudian.

”Hah...” dia sering terbelalak.

”Nanti saya yang bercerita kepada kalian. Tidurlah... Ada momok,” katanya.*****



Glosarium

A

Acek pulang ka pokuong; sebuah perumpamaan perjodohan atau kombinasi yang sempurna.

Acu; panggilan untuk saudara laki-laki yang lebih tua di Kampar.

Ampai (diampai); disusun berbaris untuk didiang atau dikeringkan.

Anak dagang; anak rantau atau perantau.

Aur; bambu, buluh

B

Bako-baki: dua bersaudara yang tidak muhrim. Seperti anak paman bagi perempuan, atau anak makcik bagi laki-laki.

Balai-balai; tempat duduk dan istirahat yang diletakkan di bagian depan rumah.

Barah; penyakit seperti bisul. Bisa lebih parah dari bisul.

Beting; belokan sungai yang berarus deras.

Bilik; kamar

Bini; istri

Bomo; dukun atau orang pintar yang bisa mengobati orang sakit.

Budak; anak kecil atau panggilan untuk orang yang berada di bawah umur si pemanggil.

Bulan pulotan; Bulan Syawal

C

Cading (mencading); tunas yang baru tumbuh. Mencading; bertunas

Cekau (mencekau); meraih atau menangkap dengan jemari sambil meremas.

Cerdik busuk; culas, curang, mau enak sendiri.

Ceruk; bagian terdalam di suatu tempat.

Cigak; monyet

Ciling; memandang ke samping sambil memicingkan sebelah mata.

Cuai; tak peduli

Cumil; lucu, pipi agak tembam dan menggemaskan.

D

Daun padang; daun ilalang

Degil; nakal

Dipan; kasur

Dipatenggangkan; bertenggang rasa

Dunsanak; saudara, keluarga

E

F

G

Gadi; gadis, perempuan yang belum menikah

Galang; ukuran untuk menunjukkan 14 depa.

Gatal; genit, mata keranjang, menyukai banyak perempuan.

Gelibut; waktu sibuk dan berjalan cepat.

Gerun; risau

Girik (menggirik); melubangi

H

I

Igal (mengigal); mengundang, merangsang, menggeramkan

Indak; tidak

J

Jalang; menjenguk, menyalami

Jamak; biasanya

Jepun; Jepang

Jerang (dijerang); memasak di atas tungku.

Julang (menjulang); mengagungkan

K

Kacak (dikacak); mulai, dimulai

Kain tikuluk: kain panjang

Kapau; sampah yang hanyut di sungai.

Katil: kasur

Kasang (berkasang); tempat perladangan

Kayu pitanak; kayu untuk bertanak

Kepuk; tempat penyimpanan padi yang terbuat dari kulit kayu yang biasanya diletakkan di loteng rumah.

Kesah; upaya

Kersik; pasir

Ketuntung; alat yang terbuat dari kayu berbentuk sampan kecil yang bila dipukul akan menimbulkan bunyi nyaring. Biasanya untuk memanggil khalayak.

Kirai (berkirai); diurai, mengurai rambut

Kadu; mengadu

L

Laki; suami

Lapuok; lapuk

Lecah (berlecah); berlumpur

Lengah (melengah); masa untuk bermain-main, intermezo.

Lepau; kedai nasi

Lindap; cahaya lampu yang menjilat-jilat kelam

Lipus (terlipus); menghapus

M

Madak, bodoh

Makcik; adik atau kakak perempuan ayah atau ibu.

Mamah; dimakan sampai bersepai

Mamak; paman

Mandah (memandah); bertempat tinggal sementara di suatu tempat untuk berusaha.

Masin; asin

Mati pajak; habis masa berlaku, tidak laku

Memaki-hamun; memaki berlebih-lebih

Miang; genit, mata keranjang, menyukai banyak perempuan.

Minas; sebuah kawasan yang terletak di utara Pekanbaru, berjarak sekitar 30 kilometer. Sampai saat ini merupakan kawasan penghasil minyak bumi berkualitas tinggi.

Mustahak; penting

N

O

Omak; ibu

P

Padi pulut; padi yang bila ditanak agak berminyak, bergetah, dan digunakan untuk membuat ketan.

Padi sawah; kelompok padi yang bukan pulut

Pakuk; mencongkel, menggali

Pamenan; mainan untuk anak-anak

Panggak (memanggak diri); membanggakan diri

Pelita togok; lampu kaleng dengan sumbu kain dan minyak tanah.

Pembetung; betung, bambu bulat

Penganyuo; dayung

Perisa; pemberi rasa

Picak; pipih

Pinggan; piring untuk makan

Pituah-pituah; petuah, nasehat

Pulun (berpulun-pulun): bergulung-gulung

Punggah (memunggahkan); meluahkan

Puruk (Memurukkan); membenamkan

Q

R

Rantang siah; rantang terbuat dari aluminium

Rebab; alat musik gesek yang bunyinya agak sumbang.

Ringkih; tua sekali

Rumah soko; rumah turun-temurun yang sudah dilindungi secara adat.

S

Sakai; sebuah suku asli yang terletak di Minas dan Duri.

Salang; loteng rumah yang terbuat dari papan

Sansuduong; rumah kecil di ladang

Saudara-mara; saudara atau keluarga dekat

Sedencing; bunyi yang ditimbulkan akibat peraduan uang logam.

Sedokak; bunyi yang ditimbulkan akibat peraduan batu.

Sekufu; sederajat

Senapan lantak; senapan dengan suara keras dengan amunisi satu peluru.

Senapelan; sebuah kawasan yang kini menjadi salah satu satu jantung kemajuan Pekanbaru.

Seni tilawah; seni membaca Alquran dengan suara merdu.

Seni qiraah; seni membaca Alquran dengan suara merdu.

Sepai (bersepai); tercerai-berai

Sepantaran; sederajat

Seringai (menyeringai sengai); memperlihatkan rasa tidak suka sambil memperlihatkan taring.

Sigap; cepat, tangkas, tanggap

Sipongang; suara yang memekakkan

Sitawar sidingin; pengobat hati

Suruk (menyurukkan); membenamkan

Sumpah-seranah; menyumpah berlebihan

T

Tabuh; beduk, alat pukul yang terbuat dari kayu yang dilubangi. Satu lubangnya ditutupi dengan kulit binatang yang dikeringkan. Biasanya digunakan untuk mengumpulkan khalayak atau sebagai penanda masuknya waktu shalat.

Tampin (ditampin); tampung

Tanak; masak

Tarah; memahat, menakik bagian luar batang kayu.

Tegah (ditegah); larang

Tekak; kerongkongan

Telagah (bertelagah); berlawanan, berbantah

Tingkalak; perangkap ikan yang terbuat dari bambu atau jaring dengan umpan di dalamnya.

Tombo adat; aturan adat

Tua jengkuh; tua sekali

Tumbuk; tinju

U

Uang begol; uang logam zaman penjajahan Belanda

V

W

X

Y

Z

Tentang Penulis

Saidul Tombang adalah alumni Jurusan Peradilan Agama Fakultas Syariah IAIN Susqa Pekanbaru. Harusnya dia menjadi hakim agama atau tuan qadhi. Namun pilihan hidup yang dijalaninya adalah sebagai wartawan. Dimulai sebagai wartawan kampus tahun 1995 di tempatnya menuntut ilmu sampai akhirnya mengkhidmatkan diri sebagai wartawan Riau Pos sejak tahun 2000 hingga sekarang. Selama di Riau Pos, sempat pula dikirim mengabdi ke Jawa Pos di Jawa Timur dan INDO.POS di Jakarta.

Suami Desi Rahayu ini lahir di sebuah kampung kecil bernama Pulau Duit di Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, pada 15 Mei 1975. Menamatkan pendidikan dasar, baik SD maupun MDA, di kampungnya, serta menjadi santri di pesantren Islamic Center Alhidayah Kampar selama tujuh tahun.

Di bidang kepenulisan, ini adalah novel pertamanya. Namun karya cerita pendek serta esai pengurus Komite Sastra Dewan Kesenian Riau (DKR) ini sudah menyebar di berbagai media. Seperti Riau Pos, Batam Pos, Majalah Budaya Sagang, Surat Kabar Kampus Gagasan, dan lainnya. Sedangkan buku antologi yang memuat cerita pendeknya tersebar di Satu Abad Cerpen Riau, Magi dari Timur, Seikat Dongeng tentang Wanita, Terbang Malam, Keranda Jenazah buat Ayah, dan lainnya.

Selain itu, juga menerbitkan buku karya jurnalistik bersama rekan-rekannya. Seperti Menjadi Wartawan Masa Depan dan Ke Negeri Serambi Luka. Selain itu, juga membuat beberapa film dokumenter di bawah bendera Jantang Communications yang didirikannya bersama teman-temannya.