Kamis, 07 Februari 2008

Catatan Pembuka

Catatan Pembuka oleh Penulis

Ketika menyelesaikan babak akhir cerita dalam novel ini, saya meregangkan tangan, mengendurkan saraf yang sedari tegang. Lalu, saya melirik ke sebatang gading kuning melengkung yang sedang bergelung di balik selimut biru terung.
"Selesai juga, sayang... Alhamdulillah,"
Seseorang dalam selimut itu terbangun. Matanya masih sembab karena kantuk masih mengebat. Perempuan yang sudah menjalani hidup bersama saya hampir tujuh tahun perjalanan pernikahan itu, menghadiahkan setandan senyum. Desi Rahayu, perempuan yang sangat sederhana. Dialah sumber inspirasi, muasal kekuatan, episentrum gairah, dan setangkup rindu yang selalu mengharu-biru. Atas pengertiannya untuk membiarkan saya berlama-lama dalam beku malam di depan komputer, harganya tentu tidak sebanding dengan apapun yang dijadikan pembanding. Terima kasih sayang...
Pembaca, senyum si penghuni selimut adalah senyum saya juga. Sebuah senyum kemenangan yang selama ini hanya bagian dari angan-angan. Sejak dulu, ketika saya masih duduk di bangku kuliah, beberapa draf novel sudah ditulis. Namun yang sampai ke ujung cerita baru novel ini. Yang lainnya, masih setia menjadi penunggu laci meja, atau malah hilang entah kemana.
Novel ini ditulis dengan latar belakang kehidupan masyarakat Kampar di masa lalu. Ini sebenarnya mempermudah pekerjaan saya juga. Karena sebagian besar adat istiadat dan norma sosial itu adalah bagian kehidupan saya. Sepanjang Poro, Kampar, Air Tiris, Bangkinang, Salo, Rantau, sampai ke Batu Bersurat dan Mahat, telah dirangkai oleh dalam dan kelamnya air Sungai Kampar. Di sanalah kehidupan di masa kecil hingga remaja saya lalui. Mandi, berenang, menyelam, mencuci, bahkan meminum air Sungai Kampar adalah bagian masa lalu yang akan selalu saya rindu.
Saya sengaja menulis novel ini dengan setting masa lalu, yaitu masa peralihan penjajah dari Belanda kepada Jepang dan kembali kepada Belanda. Irama perang dan perlawanan tentu saja cukup terasa di sini. Namun, perang hanyalah bagian dari latar belakang untuk membungkus isu utamanya; cerita cinta sepasang anak manusia dengan segenap suka-dukanya.
Pembaca, menulis novel mungkin mudah bagi sebagian orang. Tapi bagi saya, ini adalah bagian kecil mukjizat Tuhan yang ditunjukkannya kepada saya. Saya yakin, tanpa kudrat dan iradat-Nya, sebuah kemustahilan novel ini akan selesai.
Sehamparan luas terima kasih saya sampaikan kepada orang-orang yang saya kasihi, orang-orang yang telah berjasa banyak untuk terbitnya novel ini. Ucapan terima kasih serta doa takzim terutama saya sampaikan buat almarhum nenek tercinta. Beliau yang telah mengisahkan cerita tentang Siti Jailawa lebih dari 300 kali menjelang saya berangkat tidur. Terima kasih juga buat ayah dan amak, H Anwar dan Hj Nurima. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, mereka telah membentuk jati diri seorang Saidul Tombang. Tak terlupa buat Anga Syaiful Anwar bersama keluarga, Sahrul Tombang bersama keluarga, Mursyida bersama keluarga, Mawardi Tombang, Suardi Tombang, M Abdi Tombang, dan juga adik-adik yang lain seperti Ilmen, Sandi, Rizon, Nengsih, Deni sekeluarga, dan juga mertua saya yang telah merelakan anaknya kepada saya sejak lama.
Ucapan terima kasih tak terhingga juga saya sampaikan buat Bapak Syaifuddin Abdullah, pegawai PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) yang sudah saya anggap sebagai ayah sendiri. Terima kasih atas segala bantuan dan sumbang sarannya. Kepada Pak Mardjan Ustha, Kak Dinawati, rekan-rekan di Dewan Kesenian Riau, juga banyak membantu saya.
Spesial terima kasih saya sampaikan kepada para pembaca novel ini sebelum diterbitkan secara utuh. Ada Pak Rida K Liamsi, Hasan Junus, Hary B Koriun, Marhalim Zaini, Murparsaulian, dan juga mahasiswa-mahasiswi penghuni Kost Riva di Panam. Begitu juga kepada Bang Kazzaini Ks yang sudah membaca novel ini, memberikan sumbang saran serta bersedia memberi ulasan di bagian akhir novel ini. Terima kasih juga saya sampaikan kepada Furqon LW yang telah membuat cover novel ini sehingga dapat tampil lebih menarik, serta Supri Ismadi yang telah membuat tata letak isi sehingga mudah dimengerti.
Yang tidak tertinggal pula adalah rekan-rekan di Riau Pos, seniman, aktivis pers kampus, dan pihak-pihak lain yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu per satu. Hanya Allah SWT yang bisa membalas kebaikan Anda semua. Semoga menjadi amal baik dan mendapat ganjaran yang setimpal. Amin...
Pekanbaru, Januari 2008
Saidul Tombang

Tidak ada komentar: